Tulisan ini merupakan upaya untuk mengungkap konsep kearifan lokal masyarakat Buton. Sebagai sebuah kesultanan, Buton memiliki berbagai konsep kearifan lokal yang ada dalam masyarakatnya. Misalnya konsep kearifan lokal terhadap lingkungan, (hutan, laut, karang, sungai) sistem politik, sistem sosial (konsep mengenai keluarga termasuk konsep seks).
Bagi masyarakat Buton, tatacara seks merupakan sesuatu yang fundamental terutama dalam upaya menciptakan generasi yang berbudaya dan bermartabat. Itulah sebabnya masyarakat Buton mengenal upacara pingitan untuk mengajarkan tatacara seks bagi calon ibu dan bapak yang mau dinikahkan. Sebab mereka percaya bahwa rusaknya generasi terletak dari pemahaman ayah dan ibunya tentang hubungan seks. Untuk kepentingan pengajaran bagi calon ayah dan ibu itulah naskah kabanti Kaluku Panda Atuwu Incuna Dempa selanjutnya disingkat (KP) hadir dalam kehidupan keluarga masyarakat Buton. Oleh karena itu, upaya penelusuran mengenai konsep kearifan lokal mengenai seks tersebut sangat penting terutama dalam mewujudkan generasi bangsa yang berbudaya dan bermartabat.
Data penelitian ini adalah naskah (KP) dan data lapangan berupa padangan masyarakat Buton tentang seks. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan semiotik dan etnografi. Pendekatan semiotik digunakan untuk menangkap makna teks kabanti (KP), sedangkan pendekatan etnografi digunakan untuk menelusuri konsep seks yang ada dalam pandangan masyarakat Buton.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam naskah kabanti (KP) menggambarkan tata cara pemilihan lahan (jodoh), waktu untuk menebas pohon (melamar, pernikahan), waktu untuk menanam (berhubungan intim), cara menanam (cara berhubungan intim), sampai pada cara perawatan bibit yang disemai hingga lahir menjadi seorang bayi. Dalam naskah juga dijelaskan mengenai sifat anak jika orang tunya mengikuti kaidah-kaidah seks, demikian juga implikasi jika terjadi kesalahan baik dalam pemilihan lahan, waktu menebas, menanam, ataupun cara merawat tanaman yang ada akan berdampak pada sifat anak atau bayi tersebut.
Sedangkan hasil penelitian di lapangan menunjukkan bahwa tidak semua masyarakat Buton masih mengenal tata cara seks sebagaimana yang terdapat dalam naskah kabanti (KP). Hal ini disebabkan tidak semua generasi Buton diperkenankan untuk mempelajari naskah kabanti (KP). Dengan demikian, data lapangan menunjukkan bahwa keluarga yang mempunyai pengetahuan mengenai tata cara seks sebagaimana yang terdapat dalam naskah kabanti (KP) mempunyai anak-anak yang cenderung berbudaya dan bermartabat. Hal ini disebabkan karena tatacara seks tersebut berimplikasi pada sifat anak-anak. Sehingga berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, keluarga yang mempunyai pengetahuan tentang tata cara seks sebagaimana yang terdapat dalam naskah kabanti (KP) adalah keluarga bangsawan atau keluarga yang dihargai dalam masyarakat. Sedangkan di sisi yang lain, keluarga yang tidak mengenal konsep seks tersebut memiliki kecenderungan untuk mempunyai anak-anak nakal dan tidak berbudaya serta tidak bermartabat.
Kata Kunci: konsep seks, masyarakat Buton, kabanti, kaluku panda, semiotik, etnografi
A. Pendahuluan
Sebagai kesultanan, Buton memiliki peninggalan budaya baik yang didokumentasikan dalam bentuk lisan (tradisi lisan) maupun dalam bentuk tulisan (naskah). Nilai-nilai budaya Buton yang tersimpan dalam tradisi lisan dan tulisan (naskah) tersebut memiliki berbagai nilai kearifan lokal yang dapat berguna bagi pengembangan kebudayaan saat ini dan di masa yang akan datang. Hal ini sebagaimana yang dikemukakan oleh Mursal Esten (1999: 105) bahwa sastra tradisi dapat menjadi sumber bagi suatu penciptaan budaya baru di dalam masyarakat modern. Oleh karena itu, penulusuran nilai-nilai budaya yang berakar pada masyarakat dapat memberikan inspirasi bagi terjadinya budaya baru. Di samping itu nilai-nilai budaya yang berakar dari masyarakat dapat memperkuat jati diri masyarakatnya dan dapat menjadi penanda identitas masyarakatnya sendiri.
Nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Buton yang tersimpan dalam tradisi lisan maupun naskah tersebut meliputi segenab kehidupan masyarakat Buton. Nilai-nilai kearifan lokal yang terdapat dalam naskah-naskah Buton tersebut dapat berupa nilai kearifan lokal terhadap lingkungan (hutan, laut, sungai, karang), sistem politik, konsep kesehatan, konsep pendidikan dan sistem sosial (termasuk di dalamnya mengenai konsep seks dalam kehidupan keluarga masyarakat Buton).
Bagi masyarakat Buton, tatacara seks merupakan hal fundamental dalam kehidupan mereka. Tata cara seks tersebut penting, terutama dalam upaya menciptakan generasi yang berbudaya dan bermartabat. Itulah sebabnya masyarakat Buton mengenal upacara pingitan untuk mengajarkan tata cara seks bagi calon ibu dan calon ayah yang mau dinikahkan. Mereka percaya bahwa pemahaman calon ayah dan calon ibu tentang tata cara seks akan mempengaruhi kualitas anak-anak mereka. Untuk kepentingan pengajaran bagi calon ayah dan ibu itulah naskah kabanti Kaluku Panda Atuwu Incana Dempa yang selanjutnya disingkat (KP) hadir dalam kehidupan keluarga masyarakat Buton. Oleh karena itu, upaya penelusuran mengenai konsep seks masyarakat Buton dalam naskah kabanti tersebut perlu dilakukan, terutama dalam rangka mentransformasikan nilai-nilai kerarifan lokal tersebut ke dalam kehidupan bangsa Buton dewasa ini.
Kabanti Kaluku Panda Atuwu Incana Dempa (KP) yang berarti “Kelapa Pendek yang Tumbuh di Batu Cadas” merupakan naskah kabanti yang ditulis oleh La Kobu (Yarona La Buandairi) yang bergelar Petapasina Baadia yang berarti yang memperbaiki kehidupan orang Baadia di bidang seks atau yang menanamkan adab seks di dalam masyarakat Baadia (Kraton Buton). Naskah ini memiliki banyak salinan dan sampai saat ini masih banyak tersebar di dalam masyarakat Buton. Hal yang sama juga dikemukakan oleh Ali Rusdin (2002) bahwa naskah kabanti (KP) merupakan naskah yang banyak dijumpai dalam keluarga-keluarga yang ada dalam masyarakat Buton.
Persebaran naskah yang luas di dalam masyarakat Buton ini, menunjukkan bahwa naskah ini hidup dalam masyarakat pendukungnya. Hal ini disebabkan karena masyarakat Buton masih mempercayai bahwa generasi Buton yang berbudaya dan bermartabat ditentukan oleh proses penciptaannya. Kehadiran naskah kabanti (KP) dalam kepercayaan masyarakat Buton masih memegang peranan penting dalam menciptakan generasi Buton dimasa lalu, hari ini dan di masa yang akan datang.
Sehubungan dengan itu, orang-orang tua Buton dapat meramalkan seorang anak yang dilahirkannya, apakah seorang anak akan menjadi orang besar, orang baik, orang pintar atau bahkan anak itu kelak akan menjadi orang bodoh dan orang jahat sejak ia dilahirkan. Hal ini disimpulkan dari latar belakang orang tua, perilaku orang tua sejak proses penciptaan, proses pemeliharaan di masa-masa kehamilan sampai pada proses kelahiran.
Jika dibaca secara sekilas, naskah kabanti (KP) hanya menyajikan tata cara berkebun, tetapi bagi masyarakat Buton simbol-simbol itulah yang kemudian dimaknai sebagai petunjuk yang memuat konsep seks dalam kehidupan rumah tangga masyarakat Buton. Oleh karena itu, untuk mengungkap makna teks kabanti (KP) diperlukan pendekatan semiotik-etnografi, yakni upaya memaknai teks berdasarkan sudut pandang masyarakat dan budaya pendukung teks tersebut. Dalam hal ini, naskah kabanti (KP) akan dimaknai dari prespektif masyarakat Buton sebagai masyarakat pendukungnya. Karena makna kabanti (KP) akan dapat dipahami melalui konvensi pemaknaan yang ada dalam masyarakat Buton sebagai masyarakat pemilik naskah tersebut.
B. Tata Cara Pemilihan Jodoh
Kabanti (KP) sebagai kitab yang memuat tentang konsep seks masyarakat Buton atau memuat tentang tata cara berkeluarga bagi masyarakat Buton dimulai dari saat memilih jodoh sampai pada proses perawatan bibit yang disemai. Hal ini berangkat dari pemahaman masyarakat Buton bahwa sifat dapat diturunkan dari orang tua kepada anak-anaknya . Oleh karena itu, dalam kajian mengenai konsep seks masyarakat Buton, persoalan pertama yang dipikirkan adalah soal pemilihan jodoh. Proses pemilihan jodoh ini merupakan salah satu penegasan yang terdapat dalam naskah kabanti (KP). Hal ini dapat dilihat kutipan berikut.
Ee karoku fikiria porikana
Wakutuuna tongkana beu porikana
Piliakea tana mosantaogana
Nunua mpuu ponue molaengana Wahai diriku pikirkan lebih dahulu
Waktu engkau masa menebas
Pilihkan tanah yang subur
Telusuri betul tanah yang memuaskan
Bait kabanti di atas menunjukkan peringatan bagi generasi Buton untuk berhati-hati dalam memilih jodoh. Kata ‘tanah’ dalam teks kabanti di atas bagi masyarakat Buton diinterprestasikan sebagai perempuan. Artinya bahwa tanah yang subur adalah perempuan yang subur, perempuan yang memiliki potensi untuk dapat melahirkan anak-anak yang baik. Perempuan yang berasal dari keluarga yang baik-baik. Oleh kerena itu, penelusuran yang dilakukan oleh orang tua terhadap jodoh anak-anaknya didasarkan pada sejarah kehidupan dan silsilah orang tuanya.
Fokus penelitian orang tua Buton pada saat memilih jodoh bagi anak-anaknya adalah aspek sifat (akhlak) yang dimiliki oleh suatu keluarga tertentu secara turun-temurun. Mereka akan meneliti apakah keluarga tersebut pernah melanggar adat atau tidak, pernah terhukum atau tidak, dan apakah keluarga tersebut memiliki akhlak yang baik atau tidak. Dari situlah orang-orang tua Buton menitikberatkan penelitiannya pada saat memilih jodoh bagi anak-anak mereka. Hal ini sebagaimana yang dikemukakan oleh Wa Habi (40) bahwa sifat orang tua akan banyak mempengaruhi sifat anak-anaknya. Perilaku ayah dan ibunya saat hamil akan mempengaruhi sifat anak yang dikandungnya.
Kepercayaan masyarakat Buton bahwa sifat orang tua banyak mempengaruhi sifat anak-anaknya tersebut dapat dilihat dari sistem ketatanegaraan Buton. Walaupun kesultanan Buton tidak mengenal darah biru dan putra mahkota, tetapi dalam sejarahnya, Dewan Siolimbona Kesultanan Buton pernah memesan putra mahkota dari Sultan Muhamad Idrus Kaimuddin karena Dewan Siolimbona memiliki keyakinan bahwa sultan dapat menurunkan sifat-sifatnya yang adil pada anak-anaknya . Dengan demikian, masyarakat Buton sangat hati-hati dalam proses pemilihan jodoh bagi anak-anaknya karena mereka percaya bahwa tidak mungkin mendapat generasi yang baik pada keturunan yang tidak baik akhlaknya.
Implikasi dari konsep seks tersebut di atas, tidak terlepas dari pemahaman masyarakat Buton bahwa calon sultan sudah harus ditelusuri sejak ia masih kecil atau bahkan dari silsilah orang tuanya. Selain itu, pentingnya pemilihan tanah (perempuan) dalam teks kabanti di atas, mengacu pada salah satu pertimbangan bahwa kelayakan seorang calon sultan untuk menjadi sultan adalah dilihat dari kelayakan seorang istri untuk menjadi permaisuri (Shcoorl, 2003: 227). Tentunya ada rahasia yang dimiliki oleh masyarakat Buton dalam memilih jodoh. Rahasia yang dicari oleh masyarakat Buton sebenarnya adalah apakah sebuah keluarga tersebut memahami konsep seks dalam naskah kabanti (KP) itu atau tidak, sebab mereka meyakini bahwa seks bukan saja kebutuhan badani tetapi proses untuk menuju keillahian. Hal ini sebagaimana yang dikemukakan oleh Pim Schoorl bahwa kehidupan spritual mistitisme masyarakat Buton menitikberatkan kehidupan cinta kasih dalam keluarga dan masyarakat. Mereka menganggap bahwa hubungan antara laki-laki dan perempuan sebagai model atau hal lain ciptaan Tuhan. Hubungan kasih sayang antara ayah dan ibu dalam proses lahirnya manusia adalah hubungan yang mengarah kepada penyatuan kepada Tuhan (Schoorl, 2003: 227-228).
Walaupun masyarakat Buton berhati-hati dalam hal pemilihan jodoh, tetapi tidak jarang juga mereka kurang teliti dalam menelusuri latar belakang kehidupan seseorang baik pribadi maupun sejarah keluarganya. Mengenai hal tersebut, tradisi lisan kabanti masyarakat barata Kaedupa menjelaskan sebagai berikut.
Nopilimo dhi ntotono’a
Kambedha te gandu bubuko Ia telah memilih di tempat yang subur
Tetapi ternyata hanya jagung yang berulat
Data etnografi tersebut di atas menjelaskan bahwa walaupun generasi Buton telah berhati-hati dalam memilih jodoh sebagaimana dianjurkan dalam naskah kabanti (KP), tetapi tidak semua orang Buton mampu menelusuri jodoh anak-anaknya dengan baik. Bagi masyarakat Buton kegagalan dalam pemilihan jodoh tersebut menyebutnya dengan istilah gandu bubuko.
Sehubungan dengan hal tersebut, masyarakat Buton memiliki pandangan bahwa dalam memilih jodoh bagi anak-anaknya terdapat kriteria yang harus diperhatikan yakni aspek fisik, keturunan, harta dan akhlak dari seseorang yang akan dilamar menjadi menantu. Ini tentunya dipengaruhi oleh konsep Islam mengenai kriteria calon istri/suami. Sedangkan dalam masyarakat Buton dewaasa ini aspek yang ditonjolkan dalam memilih jodoh adalah aspek akhlak. Hal ini sebagaimana yang dikemukakan oleh La Musuidu bahwa orang-orang tua Buton memilih jodoh bagi anak-anaknya selalu mempertimbangkan pake (akhlaknya) .
Wa leama tonto di komba
Tepolaro nantoogeno Yang cantik dapat dilihat di bulan
Tetapi akhlak yang lebih utama
Teks kabanti dalam tradisi lisan tersebut, merupakan salah satu pandangan masyarakat Buton, terutama dalam melihat calon menantu bagi anak-anaknya. Dimana dijelaskan bahwa kalau masalah kencatikan, masih dapat kita lihat pada bulan, tetapi yang paling penting dalam kehidupan dalam kehidupan keluarga adalah akhlak.
C. Waktu untuk Menebas (Melamar) Di samping hal-hal yang telah disebutkan di atas, naskah kabanti (KP) juga menjelaskan tentang waktu-waktu yang baik untuk melamar. Waktu yang baik untuk melamar atau menikahkan anak-anak bagi masyarakat Buton adalah ketika anak-anak sudah memasuki usia dewasa. Masyarakat Buton percaya bahwa pernikahan diusia dewasa akan mempengaruhi kualitas generasi. Dalam naskah kabanti (KP) dikiaskan dengan menggunakan tamsil kilat dan guntur. Hal ini dapat dilihat dalam teks kabanti berikut.
Guntu tumondu kapajagana moincana
Obibitona tandana tao baao
Linti-lintina kapekalapena tana
Osiytumo wakutuuna momulia Guntur yang kedengaran pertanda nyata
Kilat halilintar pertanda tahun baru
Ujung-ujungnya perbaikan kesuburan tanah
Itulah yang dinamakan waktu yang mulia (penanaman)
Bait kabanti di atas menunjukkan bahwa waktu yang baik untuk menebas adalah pada saat ada tanda yang nyata. Tanda yang nyata tersebut dapat dilihat dari kondisi fisik dan mental dari seorang laki-laki atau perempuan. Oleh karena itu, masa yang baik untuk menebas dalam masyarakat Buton adalah jika kata dan hati telah sejalan. Pada saat itulah, seseorang telah memiliki kesiapan untuk melamar atau dilamar oleh pasangan hidupnya.
Penggunaan tamsil kilat dan guntur dalam naskah kabanti (KP) tidak terlepas dari pengaruh pemahaman masyarakat Buton tentang tanda-tanda alam. Oleh karena itu, seorang remaja yang sudah mau menikah sudah harus memiliki kesiapan fisik dan mental untuk menjalani kehidupan rumah tangga. Di samping itu, penggunaan kilat dan guntur dalam teks kabanti di atas, juga dapat dimaknai sebagai tanda yang harus dipelajari apakah putra-putri, apakah mereka sudah siap untuk dinikahkan atau belum? Kesiapan mereka tersebut dapat dilihat dari sikap dan jawaban mereka saat ditanya oleh kedua orang tua mereka.
Sehubungan dengan waktu melamar/ menikah tersebut, jika perempuan atau laki-laki dinikahkan sebelum dewasa, maka masyarakat Buton memiliki data etnografi dalam bentuk tradisi lisan sebagai berikut.
Kaasi wa kalemo-lemo
Kuheka runga-rungangkomo Kasihan Wa Kalemo-lemo
Aku memetikmu di saat kamu masih muda
Data etnografi tersebut di atas, merupakan suatu ingatan kolektif masyarakat Buton mengenai pentingnya kematangan atau kedewasaan bagi calon suami atau calon istri. Banyak pernikahan usia dini yang berakhir dengan perceraian di dalam masyarakat Buton. Rata-rata mereka menikah tidak lagi menerima petunjuk orang tua, tetapi mereka terbawa cinta mereka. Akibatnya, secara mental mereka belum siap, dan penderitaan pun mulai melanda keluarga tersebut. Dalam keluarga yang tidak berlandaskan kasih sayang tersebut, mustahil untuk mendapatkan generasi yang berbudaya dan bermartabat. Tetapi yang akan terlahir adalah generasi yang bodoh, mudah histeri dan kerdil cara berpikirnya.
Dalam kehidupan masyarakat Buton, guntur dan kilat merupakan pertanda untuk menebas atau membuka lahan pertanian. Di dalam teks kabanti (KA) dijelaskan bahwa guntur dan kilat harus merata baru dilakukan penamaman. Hal ini dapat dilihat kutipan berikut.
Urango pea guntu rende ngkalelei
Daangiapo tandana bibitona tawakala
Kumalintina pasaramo aumbamo
Pentaamea waona posaranakaa
Iweitumo maka upombulaia Engkau dengarkan bunyi yang merata
Ada dahulu tanda kilat tawakal
Tanda pasrah pada tuhan telah ada
Nantikanlah hujan yang menjadi harapan
Disitulah baru engkau menanam
Sebagian masyarakat Buton menafsirkan bait ini sebagai tanda untuk melihat kedewasaan seorang anak yang akan dinikahkan. Misalnya, jika seorang anak muda masih menyebut beberapa orang gadis, itu pertanda ia belum dewasa. Artinya anak muda tersebut belum tawakal untuk menikahi seorang perempuan. Tetapi jika yang ia cintai tinggal satu orang perempuan dengan sepenuh hatinya, maka orang-orang tua Buton sudah seharusnya memilih waktu-waktu yang baik untuk melangsungkan pernikahan. Dengan demikian, masa yang baik untuk menebas bagi generasi muda Buton adalah usia dewasa karena diusia dewasa seseorang sudah memiliki kesiapan untuk menjalani kehidupan rumah tangga.
D. Waktu untuk Menanam (Berhubungan Intim)
Dalam naskah kabanti (KP) di samping membicarakan mengenai tata cara pemilihan jodoh atau lahan, juga dilengkapi dengan informasi mengenai waktu-waktu yang baik untuk menebas dan menanam (berhubungan intim). Masyarakat Buton meyakini bahwa waktu melakukan sesuatu mempunyai peran dalam menentukan hasil dari sesuatu tersebut, termasuk waktu untuk melakukan pernikahan, hubungan seks dan pekerjaan lainnya.
Oleh karena itu, hari-hari yang baik untuk melakukan hubungan seks dalam naskah kabanti (KP) adalah hari Jumat, Senin, Rabu dan Kamis. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan berikut.
Eo malope jumaa tee isinene
Temo dhuka arabaa tee hamisi
Temodaki bholi umpombulaiya
Temo duka wakutuu apepali Waktu yang baik Jum’at dan Senin
Dan pula Rabu dan Kamis
Hari yang jelek jangan menanam
Dan juga waktu yang terlarang
Sedangkan hari-hari yang terlarang untuk melakukan hubungan seks menurut naskah kabanti (KP) adalah hari Sabtu, Minggu dan Selasa. Hal ini dapat kita lihat dalam kutipan berikut.
Sapotuu ahadhi tee salasa
Osiytumo eyo inda momalape Sabtu, Ahad dan Selasa
Itulah hari yang tidak baik
Di samping hari-hari yang telah disebutkan di atas, naskah kabanti (KP) juga memuat informasi mengenai waktu-waktu yang baik dan yang buruk untuk melakukan hubungan seks. Waktu yang baik untuk melakukan hubungan seks dalam naskah kabanti (KP) adalah waktu Shubuh, Zuhur dan Isa. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan berikut.
Wakutuu talu anguna motopenena
Osiytumo wakutuu momulia
Wakutuu subuh tee dhoro
Te isa kamondona talu angu Waktu yang tiga yang terbaik
Itulah waktu yang mulia
Waktu subuh dan dhuhur
Dengan isa genab menjadi tiga
Sedangkan waktu-waktu yang terlarang adalah waktu ashar dan magrib. Hal ini dapat kita lihat dalam bait berikut.
Wakutuuna asara teemagaribi
Osiytumo wakutuu apepali Waktu ashar dan magrib
Waktu itulah yang terlarang
Dalam konsep etnografi masyarakat Buton ditemukan bahwa hari-hari yang baik dan waktu yang baik untuk melakukan hubungan seks dapat mempengaruhi kualitas keturunan mereka. Tetapi sebagian masyarakat Buton mempercayai bahwa melakukan hubungan intim di waktu shubuh, akan berdampak pada anak yang pendek umurnya, sehingga mereka memilih untuk melakukan hubungan intim di waktu Isa. Mereka meyakini bahwa anak yang lahir dengan hasil hubungan intim di waktu isa akan panjang umurnya. Di samping itu, anak tersebut kelak akan memiliki akhlak yang baik, taat pada ajaran agama. Sedangkan anak yang lahir dari hasil hubungan intim pada waktu Dhuhur akan berdampak pada wataknya yang keras.
Di dalam teks naskah kabanti (KP) juga menjelaskan mengenai dampak dari hasil penanaman yang tidak sesuai dengan waktu yang baik. Dampak dari penanaman yang dilakukan pada hari-hari yang tidak baik tersebut, dikiaskan bahwa tanaman yang ditanam di hari jelek pertanda tanaman dimakan rayap. Hal ini dapat dilihat teks berikut.
Eyo madaki tee wakutuu apepali
Alamtina akandea mparo-mparo Hari jelek hari yang terlarang
Pertanda tanaman dimakan rayap
Adanya waktu-waktu yang baik dan buruk untuk melakukan hubungan seks dalam naskah kabanti (KP) merupakan salah satu pelajaran bagi masyarakat Buton tentang tata cara seks. Sehubungan dengan waktu untuk melakukan hubungan seks tersebut, masyarakat Buton juga melarang melakukan hubungan seks disaat gerhana bulan. Mereka menganggap bahwa melakukan hubungan seks disaat gerhana bulan adalah ‘pemali’. Mereka meyakini bahwa berhubungan intim pada saat bulan purnama akan berdampak pada wajah anak yang dapat lahir dalam keadaan sumbing. Sedangkan hubungan seks yang dilakukan pada waktu air laut pasang akan berdampak pada kemudahan rezeki bagi calon bayi.
Dengan demikian, masyarakat Buton melakukan pemingitan sebelum menikahkan anak-anaknya untuk mengajarkan tata cara seks kepada kedua mempelai. Tetapi pada perkembangan dewasa ini kebanyakan generasi Buton tidak mau lagi dipingit. Malah mereka menganggap bahwa pingitan adalah salah satu upaya untuk membelanggu perempuan. Banyak generasi muda Buton yang menganggap bahwa budaya masa lalu adalah budaya yang tidak penting bagi kehidupan masyarakat Buton dewasa ini.
E. Cara Menanam (Cara Berhubungan Intim)
Di samping menjelaskan hari dan waktu yang baik untuk melakukan hubungan seks, kabanti (KP) juga menjelaskan mengenai tata cara berhubungan seks. Di dalam teks kabanti (KP) dijelaskan tata cara berhubungan seks itu dengan kutipan berikut.
Podo saide boli ukaago-ago
Pombulayitu bolipo sau pombula
Ukamatapea wao molagi
Urango pea guntu rende ngkalelei Pelan-pelan dan jangan terburu-buru
Menanam itu jangan asal menanam
Lihat tanda hujan yang terus menerus
Engkau dengarkan bunyi yang merata
Teks kabanti di atas, menjelaskan bahwa dalam melaksanakan hubungan seks tidak boleh dilakukan dengan cara terburu-buru. Pekerjaaan apa pun jika dilakukan secara terburu-buru hasilnya akan jelek, baik prosesnya maupun hasil akhirnya. Di dalam teks kabanti juga dijelaskan peringatan bahwa dalam menanam jangan asal menanam. Karena menanam (melakukan seks) dengan cara terburu-buru akan mempengaruhi kualitas seks dan kualitas keturunan.
Sedangkan pada baris /ukamatapea wao molagi/ “lihat tanda hujan yang terus menerus”, /urango pea guntu rende ngkalelei/ “engkau dengarkan bunyi yang merata”, di sini menjelaskan tentang tata cara rangsangan yang harus dilakukan pada semua daerah sensitif yang ada pada tubuh masing-masing pasangan (bagian sensitif pada kedua pasangan). Rangsangan harus merata baru dilakukan penanaman (melakukan penetrasi).
Sehubungan dengan waktu penetrasi, dalam naskah kabanti (KP) digambarkan bahwa harus ada tanda pasrah dari seorang istri baru melakukan penetrasi. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan berikut.
Daangiapo tandana bibitona tawakala
Kumalintina pasaramo aumbamo
Pentaamea waona posaranakaa
Iweitumo maka upombulaia Ada dahulu tanda kilat tawakal
Tanda pasrah pada Tuhan telah ada
Nantikanlah hujan yang menjadi harapan
Di situlah baru engkau menanam
Teks kabanti di atas, merupakan petunjuk dalam melakukan hubungan seks yang menjelaskan bahwa ransangan harus merata ke seluruh tubuh, dan perempuan telah tawakal baru dapat melakukan penetrasi. Hal ini dapat dilihat dari kilat dan guntur yang telah merata ke seluruh tubuh dan itu pertanda hujan telah dekat.
Sehubungan dengan tata cara berhubungan seks tersebut, dalam prosesi perkawinan masyarakat Buton, biasanya ada seorang ibu-ibu yang menyamar dari keluarga perempuan (yang dituakan) mengevaluasi calon suami dengan pertanyaan tentang tata cara seks dihari pernikahan. Biasanya ibu-ibu tersebut duduk di pintu rumah perempuan atau di tangga rumah paling bawah. Perempuan tersebut akan memberikan pertanyaan kepada calon pengantin laki-laki dan bertanya tentang jumlah tangga rumah yang akan dinaikinya. Pertanyaan itu biasanya dalam bentuk sebagai berikut, “Sekarang kamu akan naik ke rumahnyanya La …. (nama ayah pengantin perempuan) apakah kamu telah mengetahui berapa tangga rumahnya”? Jika calon pengantin laki-laki salah menjawab, maka biasanya akan ditahan di depan pintu atau dilarang masuk ke dalam rumah. Pada saat itu semua orang akan mengentahui bahwa calon pengantin belum memiliki pengetahuan tentang tata cara seks. Jika hal itu terjadi, maka akan berimplikasi pada malam pertama mereka. Laki-laki yang menjawab salah akan disuruh pulang untuk bertanya mengenai tata cara seks pada keluarganya. Tetapi jika jawabannya benar, maka kedua pengantin akan menikmati malam pertama tanpa dihalangi oleh keluarga perempuan karena dianggap telah memahami tata cara seks sebagaimana yang diajarkan dalam naskah kabanti (KP).
Jumlah tangga rumah yang dimaksudkan di dalam pertanyaan masyarakat Buton di atas bukanlah tangga rumah yang ada di depannya, melainkan tangga sorgawi atau beberapa tempat rangsangan yang ada pada tubuh seorang perempuan. Di dalam naskah kabanti (KP) tidak dijelaskan secara rinci mengenai beberapa tangga dalam proses hubungan seks tersebut, tetapi akan dijelaskan dalam syara dan adat yang dalam masyarakat Buton.
Dalam kehidupan masyarakat Buton dewasa ini, konsep seks ini sangat dirahasiakan karena tata cara seks ini berhubungan dengan kepercayaan mereka bahwa tata cara seks dapat mempengaruhi kualitas generasinya. Hal ini sesuai dengan pernyataan Wa Ode Hijrah bahwa salah satu rahasia keluarga yang memiliki anak-anak yang sukses adalah terletak pada tata cara melakukan hubungan seks disaat menciptakan anak-anak itu .
F. Cara Perawatan Bibit
Di dalam naskah kabanti (KP) di samping menjelaskan mengenai waktu untuk menebas, waktu untuk menanam dan cara menanam, juga menjelaskan tata cara merawat bibit yang disemai tersebut. Sehubungan dengan tata cara merawat bibit yang disemai tersebut, naskah kabanti (KP) menjelaskan bahwa pagarilah dengan sara dan adat. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan berikut.
Tondoakea sarai tee adati
Sisiakea faradluu moyincana
Kabubusina zikiri tee tasubehe
Perawoina kahaluwati tee toba Pagarilah dengan sara dan adat
Sisihkan dengan fardhu yang nyata
Penyiramnya zikir dan tasbih
Perawatannya khalwat dan tobat
Teks kabanti di atas, menggambarkan bahwa tata cara merawat bibit yang disemaikan adalah harus dipagari dengan syara dan adat. Dalam kehidupan masyarakat Buton sangat mementingkan kesucian (thaharah). Sehubungan dengan tata cara kehidupan berkeluarga masyarakat Buton, kesucian merupakan salah satu penekanan yang diberikan oleh adat. Untuk merawat bibit yang telah disemai tersebut, setelah melakukan hubungan seks seorang istri harus mensucikan diri lebih dahulu dari pada laki-laki. Ini akan berdampak pada proses kelahiran dan kualitas bayi yang dilahirkan. Yang dimaksud dengan kesucian dalam kehidupan masyarakat Buton adalah kesucian sebagaimana yang dijelaskan oleh Muhamad Idrus Kaimuddin dalam kabanti Bula Malino. Di situ dijelaskan bahwa “Wahai diriku, sucikanlah dirimu”, yang ditafsirkan olah La Ode Malim bahwa belum dikatakan suci seseorang kalau baru mandi tujuh kali satu hari, belum dikatakan suci seseorang kalau baru mandi dengan memakai sabun, seseorang dikatakan suci kalau ia telah suci lahir dan batin (Malim, 1983: 20).
Di samping itu, merawat bibit yang disemai di dalam rahim tersebut, dijelaskan dalam naskah (KP) sebagai berikut.
Ee karoku mopeelona kalape
Tee ingkomiu monununa kalabia
Palihara potontomu tee onimu
Malinguaka ilarangina sarai Wahai diriku yang mencari kebaikan
Dan kamu sekalian yang mencari kemuliaan
Peliharalah penglihatan dan perkataanmu
Dari segala yang dilarang oleh sara
Teks kabanti tersebut di atas menunjukkan ajaran mengenai tata cara merawat bibit yang baik. Jika mau mendapatkan bayi yang baik, maka peliharalah penglihatan dan perkataan dari segala yang dilarang oleh sara (agama). Yang dimaksud dengan larangan sara dalam naskah kabanti (KP) di atas adalah jika seorang istri sedang mengandung atau hamil seorang suami tidak boleh melakukan perbuatan zina. Hal ini dapat dilihat dalam berikut.
Wakutuuna akambeli mbeliyitu
Udala iki tee telaena kampunga
Beu potiba tee bawine iweyitu
Alae-lae atawa mokototona Waktu engkau berjalan-jalan itu
Engkau berjalan di persimpangan jalan
Engkau bertemu dengan perempuan di situ
Gadis atau yang punya hak
Moko kumbako uzina boli unda
Osiytumo cacu inda motamba
Ee karoku boli ukajoro-joro
Pengkaanana bari-baria mingkumu Walau dipanggilmu berzina jangan mau
Itulah racun yang tidak ada obatnya
Wahai diriku jangan bersifat jahat
Hati-hatilah dengan segala gerak perbuatanmu
Pori pepei bara sala upokawa
Boli pewau ulausi mokogundina
Temo hakuna imatauna hukumu
Maekaia barancoo usidaraa Berhati-hatilah jangan sampai bertemu
Jangan berani terhadap gundiknya orang
Itu adalah haknya yang diketahui hukum
Takuti, jangan sampai engkau terjerumus
Ulauaka idala inciayitu
Apesuamo racu incana kaaromu
Apopeelumo ujuyitu tee badamu
Aponantimo katada tee antomu Kapan engkau berani di jalan itu
Masuklah racun di dalam dirimu
Saling mencarilah ujung itu di badanmu
Saling mencari yang tajam dengan isimu
Beberapa bait kabanti di atas, menunjukkan larangan sara dan adat yang ada untuk keluarga yang menginginkan keturunan yang baik-baik. Rupanya pengarang sangat memahami pengaruh perselingkuhan dan dampaknya pada psikologis seorang ibu yang sedang hamil. Psikologis yang tidak bahagia akan mempengaruhi kualitas bayi yang sedang dikandungnya.
Selanjutnya dalam adat, orang Buton sangat menjunjung tinggi perempuan yang hamil. Mereka melakukan komba oalu (Bulan ke delapan kehamilan) sebagai upaya untuk memperingati perjuangan dan pengorbanan perempuan. Di samping itu, jika seorang istri dalam keadaan hamil, maka istri dan suami tersebut tidak dapat melakukan sesuatu perbuatan yang sia-sia (mencuri, berbohong dan lain-lain) atau merusak alam seperti menyiksa hewan, memotong hewan, merusak hutan. Dalam pemahaman masyarakat Buton, itu akan berimplikasi pada sifat anak yang ada dalam kandungan.
G. Implikasi Konsep Seks bagi Masyarakat Buton
Telah banyak tulisan yang membicarakan tentang cara membina generasi bangsa yang berbudaya, berkualitas dan berdaya saing dalam rangka memasuki era global. Sehubungan dengan itu, kabanti (KP) sebagai salah satu kamasutra Buton, menjelaskan implikasi yang dapat terjadi jika seseorang tidak memahami tata cara berhubungan seks.
Di dalam teks kabanti (KP) dijelaskan bahwa jika tata cara seks tersebut tidak diindahkan, maka bibit yang dihasilkan akan dimakan rayap. Tentunya dari aspek kualitas akan menurun, dan bahkan anak-anak seperti ini akan menjadi beban masyarakat. atau bahkan mereka akan meninggal sebelum terlahir atau ketika mereka masih bayi. Peringatan seperti itu dapat dilihat dari kutipan berikut.
Eyo madaki tee wakutuu apepali
Alamtina akandea mparo-mparo Hari jelek hari yang terlarang
Pertanda tanaman dimakan rayap
Selanjutnya, bagi anak-anak yang lahir dari hasil hubungan seks di hari-hari yang baik (Jumat, Senin, Rabu dan Kamis) dan waktu yang baik yakni waktu isa, dhuhur dan subuh akan memiliki sifat yang baik, sehingga mereka akan berbudaya, bermartabat dan biasanya mereka akan berkualitas dan memiliki daya saing yang tinggi. Sebaliknya bagi mereka yang lahir dari hari-hari dan waktu yang terlarang, masyarakat Buton meyakini bahwa anak-anak itu akan memiliki akhlak yang jelek dan pada akhirnya mereka tidak berbudaya, tidak bermartabat dan daya saingya pun semakin rendah.
Di dalam teks kabanti (KP) dijelaskan tentang tata cara perawatan bibit yang disemai. Di atas telah dijelaskan bahwa untuk merawat bibit yang disemai harus dipagari dengan syara dan adat. Khusus untuk ajaran syariat, kesucian menjadi landasan perawatan bibit yang ada dalam masyarakat Buton. Bagi perempuan yang malas membersihkan diri terutama setelah melakukan hubungan seks, maka akan berdampak pada proses kelahiran yang susah. Di samping itu, tentunya harus tetap dijaga dengan tasbih agar jiwa ibu dan ayah dari si cabang bayi itu tetap berada dalam keadaan suci.
Dalam kehidupan masyarakat Buton, hukum syara sangat tegas bila berhubungan dengan perzinahan. Dalam sejarah masyarakat Buton seorang sultan dapat dijatuhi hukum nabu polo, yaitu ditenggelamkan ke tengah lautan. Hal ini sebagai langkah pemerintah kesultanan Buton untuk menjaga dan mendidik generasi muda Buton di masa yang akan datang, bahwa perzinahan berimplikasi pada kualitas keturunan generasi Buton.
Oleh karena itu, konsep seks dalam naskah kabanti (KP) memiliki implikasi dalam rangka menciptakan generasi yang berbudaya, bermartabat di dalam masyarakat kesultanan Buton. Tidak berlebihan jika orang-orang tua Buton sangat berhati-hati dalam memilih dan mendidik anak-anak mereka dalam kehidupan adat. Hal ini dapat dilihat dari banyak moment adat yang ditujukan pada pembentukan mental calon ayah dan ibu sejak mereka masih bayi atau kanak-kanak. Beberapa moment adat tersebut adalah komba oalu, gunti hotu, karia (toba), landa wuta, dan terakhir adalah sombo (pingitan) menjelang mereka akan dinikahkan. Semua itu adalah sarana pembelajaran generasi Buton menganai adat dan berpuncak pada pengajaran mengenai konsep seks sebagai bagian tertinggi dari ajaran adat dan budaya Buton.
H. Penutup
Berdasarkan pembahasan di atas, maka naskah kabanti (KP) merupakan salah satu naskah Buton yang memuat tentang adab seks bagi masyarakat Buton yang tentunya memiliki nilai kearifan lokal yang berharga bagi pembinaan generasi bangsa. Jika ditrasformasikan ke dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dewasa ini, maka tidak menutup kemungkinan akan tercipta generasi muda yang unggul dan bermartabat di masa-masa yang akan datang.
Selasa, 03 Agustus 2010
SIAPA YANG MEMUKUL FATIMAH HINGGA JANINNYA GUGUR?
Sering kita dengar tentang penderitaan yang menimpa keluarga Nabi, kisah-kisah yang membangkitkan emosi, tapi celakanya akal pun jadi tertutup dan tidak lagi berkesempatan untuk berpikir.
Qunfudz diutus oleh Abubakar dan mencambuk Fatimah
Fatimah menghalangi para penyerang hingga tidak bisa menyentuh Ali di pintu rumah, lalu Qunfudz mencambuknya dengan cambuk, sampai di sini, sementara dalam bagian lain disebutkan : Abubakar mengutus Qunfudz untuk mencambuk Fatimah, lalu berhasil memaksa Fatimah untuk berada di balik pintu, lalu Qunfudz mendorongnya hingga tulang rusuknya patah dan janin yang dikandungnya gugur.
Lihat Al Ihtijaj jilid 1 hal 212, Mir’atul Uqul jilid 5 hal 320.
Qunfudz mencengkeramnya di pintu rumah
Qunfudz berhasil membuat Fatimah terpepet di pintu dan berhasil didorong, lalu Qunfudh mematahkan tulang rusuk dan janin yang ada di perutnya seketika keluar, Fatimah terbaring di tempat tidur hingga wafat sebagai syahid.
Lihat Kitab Sulaim bin Qais, Tahqiq Muhammad Baqir Al Anshari. Jilid 3 hal 588
Qunfudz budak orang itu, memukul Fatimah dengan gagang pedang
Dari Abu Bashir, dari Abu Abdillah Alaihissalam dalam haditsnya : sebab wafatnya Fatimah adalah ketika Qunfudz budak orang itu memukulnya dengan gagang pedang atas perintahya, lalu menggugurkan janin Muhsin, dan membuat Fatimah sakit parah, dia melarang orang yang menyakitinya dari menjenguknya,
Lihat Dala’ilul Imamah, At Thabari, hal 45
Umar menendang pintu dan pintu, Fatimah jatuh tertimpa pintu, -tanpa patah tulang-
Fatimah mendorong pintu agar menghalangi mereka masuk, Umar menendang pintu hingga terlepas dan mengenai perut Fatimah hingga Muhsin gugur dari perut ibunya.
Multaqal Bahrain hal 81, Al Jannah Al Ashimah hal 251
Umar menggunakan pedang dan cambuk tanpa menyentuh pintu
Fatimah berteriak Wahai Ayahku, Wahai Rasulullah, lalu Umar mengangkat pedang yang masih di sarungnya dan memukul perut Fatimah, lalu Fatimah berteriak lagi, wahai ayahku, lalu Umar mencambuk tangan Fatimah, Fatimah memanggil Wahai Rasulullah, betapa buruk penggantim, Abubakar dan Umar, Ali melompat dan mencengkeram baju Umar dan membantingnya, dan memukul hidung serta lehernya. Ali berniat membunuh Umar tetapi dia teringat wasiat Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam.
Kitab Sulaim bin Qais , jilid 3 hal 538
Fatimah didorong di pintu, tanpa ditendang, tanpa pedang, cambuk atau paku
Al Mas’udi, seorang ahli sejarah mengatakan : Amirul Mu’minin Ali tinggal di rumahnya beserta beberapa pengikutnya, seperti yang dipesankan oleh Rasulullah, lalu mereka menuju rumah Ali dan menyerbunya, membakar pintu rumah dan memaksa orang yang di dalamnya untuk keluar, mereka mendorong Fatimah di pintu hingga janinnya gugur, mereka memaksa Ali untuk berbaiat dan Ali menolak, dan mengatakan : aku tidak mau, mereka mengatakan : kalau begitu kami akan membunuhmu, Ali mengatakan: jika kalian membunuhku maka aku adalah Hamba Allah dan saudara RasulNya. Lihat Itsbatul Washiyyah hal 123.
Yang memukul Fatimah adalah Mughirah bin Syu’bah
Imam Hasan berbicara pada Mughirah bin Syu’bah di majlis Muawiyah: kamu memukul fatmah binti Rasulullah hingga berdarah dan gugur janinnya, kamu melakukan itu untuk menghinakan Rasulullah, dan melanggar perintahnya, menghina kehormatannya, Rasulullah pernah bersabda padanya : engkau adalah penghulu wanita penghuni sorga, semoga Allah memasukkanmu ke dalam neraka. Lihat dalam Al Ihtijaj dan Biharul Anwar jilid 10.
Umar menyerbu rumah Ali bersama tiga ratus orang.
Diriwayatkan mengenai penyebab wafatnya Fatimah : Umar bin Khattab menyerang rumah Ali dan Fatimah bersama tiga ratus orang. Lihat dalam kitab Al Awalim jilid 2 hal 58
Umar memukul Fatimah di jalan, bukan di rumah
Fatimah berhasil meminta surat dari Abubakar yang berisi pengembalian tanah Fadak pada Fatimah, ketika di jalan Fatimah bertemu Umar dan kemudian Umar bertanya: wahai putri Muhammad, surat apa yang ada di tanganmu? Fatimah menjawab: surat dari Abubakar tentang pengembalian tanah Fadak, Umar berkata lagi : bawa sini surat itu, Fatimah menolak menyerahkan surat itu, lalu Umar menendang Fatimah
Amali Mufid hal 38, juga kitab Al Ikhtishash
Yang mencengkram Fatimah hingga janinnya gugur adalah Khalid bin Walid
At Thuraihi mengatakan : ketika Khalid binWalid mencengkeramnya dan janin Muhsin pun gugur.
Lihat Ma’sat Az Zahra jilid 2 hal 143, Sayyid Ja’far Murtadha
Al Muntakhab, hal 136 karya At Thuraihi
Tidak jelas siapa yang memukul Fatimah
As Shaduq meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu Alaihi wasallam bersabda : seakan saya melihat rumahnya dimasuki kehinaan, kehormatannya dilecehkan, diserobot haknya, dihalangi untuk menerima warisannya, tulang rusuknya dipatahkan, dan janinnya digugurkan.
Amali Shaduq hal 100
Fatimah dicambuk.
Yang disesalkan adalah mereka memukul Fatimah Alaihassalam, telah diriwayatkan bahwa mereka memukulnya dengan cambuk
Talkhis Syafi jilid 3 hal 156
Punggungnya dicambuk dan dipukul dengan pedang.
Lalu Miqdad berdiri dan mengatakan : putri Nabi telah meninggal dunia, sedang darah mengalir di punggung dan rusuknya karena kalian mencambuknya dan memukulnya dengan pedang, sedangkan di mata kalian aku lebih hina dibanding Ali dan Fatimah
Ahwal Saqifah/ Kamil Al Baha’I, Hasan bin Ali bin Muhamamd bin Ali bin Hasan At Thabari yang dikenal dengan nama Imadudin At Thabari, jilid 1 hal 312
Ada baiknya disini kita simak bersama penuturan Sayid Ja’far Murtadha Al Amili dalam kitab “ Zhulumat Ummi Kaltsum”:
Tidak perlu dijelaskan lagi, bahwa jika nampak kontradiksi dalam banyak riwayat yang menceritakan tentang suatu kejadian, maka sangat wajar jika kita meragukan validitas riwayat-riwayat itu, bahkan keraguan akan muncul di hati para peneliti, dan memaksanya untuk mencari riwayat yang shahih dan mana yang berisi kebohongan dari riwayat-riwayat itu, ini jika kita tidak ingin mengatakan : kontradiksi ini membuat kita ragu dan bertanya apakah kejadian itu benar terjadi atau tidak.
Sesungguhnya orang-orang mu'min adalah bersaudara . Al Hujurat ayat 10
Jalinan persaudaraan yang ada antara kaum muslimin adalah jalinan yang lahir akibat adanya persamaan yang mendasar antara mereka, yaitu persamaan akidah tauhid yang terwujud melalui dua kalimat syahadat, dengan demikian seluruh yang mengucapkan dua kalimat syahadat menjadi bersaudara. Ukhuwah Islamiyah memiliki peranan yang penting bagi kehidupan muslim. Sehingga syareat Islam menggariskan beberapa aturan agar hubungan sesama kaum muslimin selalu Bagai tanaman yang harus dipupuk dan disiram, begitu pula ukhuwah Islamiyah haruslah dijaga dan dikokohkan.
Dengan persatuan yang kokoh musuh tidak dapat mengalahkan dan menjajah kaum muslimin, derita yang dialami oleh kaum muslimin, kurangnya persatuan dan adanya kaum munafikin yang bermuka dua, mereka bermuka manis di depan kaum muslimin dan bekerja untuk kepentingan musuh, kaum munafikin yang memecah belah kaum muslimin dan membantu orang kafir dalam melancarkan makar-makar mereka untuk memecah belah kaum muslimin. Mereka bagaikan musuh dalam selimut dan musang berbulu domba yang selalu bermanis muka di depan kaum muslimin sementara di kegelapan malam mereka bekerjasama dengan musuh untuk melancarkan makar mereka.
Allah telah memberi isyarat bagi kaum muslimin untuk menghindari perpecahan dengan memerintahkan untuk menghindari faktor-faktor yang dapat menimbulkan percikan api perselisihan dan perpecahan.
Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (QS. 49:6)
Ini karena salah satu faktor utama perpecahan adalah berita bohong, karena itulah Allah memanggil orang beriman –hanya orang beriman saja, orang munafik dan orang kafir tidak ikut mendapat panggilan Allah dalam ayat ini- agar meneliti berita yang disebarkan oleh orang fasik, agar tidak bersikap keliru terhadap orang yang salah, akhirnya ketika sikap keliru itu dimanifestasikan dalam ucapan dan perbuatan, maka akan berpotensi mengakibatkan perpecahan.
Sering kita dengan mereka-mereka yang menghasut kaum muslimin agar membenci sahabat Nabi, dengan menyebarkan cerita-cerita bohong yang sayangnya jarang dari kita yang mau meluangkan waktu untuk meneliti cerita-cerita itu. Hingga akhirnya banyak dari kaum muslimin yang terperangkap pada perbuatan membenci sahabat Nabi yang dicintai Allah. Allah berfirman:
tetapi Allah menjadikan kalian cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hati kalian serta menjadikan kalian benci kepada kekefiran, kefasikan dan kedurhakaan.Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus, (QS. 49:7)
Allah menjadikan sahabat mencintai keimanan, membuat iman jadi indah di hati mereka. Lalu mengapa kita membenci sahabat Nabi yang beriman karena cerita-cerita yang ternyata tidak jelas?
Qunfudz diutus oleh Abubakar dan mencambuk Fatimah
Fatimah menghalangi para penyerang hingga tidak bisa menyentuh Ali di pintu rumah, lalu Qunfudz mencambuknya dengan cambuk, sampai di sini, sementara dalam bagian lain disebutkan : Abubakar mengutus Qunfudz untuk mencambuk Fatimah, lalu berhasil memaksa Fatimah untuk berada di balik pintu, lalu Qunfudz mendorongnya hingga tulang rusuknya patah dan janin yang dikandungnya gugur.
Lihat Al Ihtijaj jilid 1 hal 212, Mir’atul Uqul jilid 5 hal 320.
Qunfudz mencengkeramnya di pintu rumah
Qunfudz berhasil membuat Fatimah terpepet di pintu dan berhasil didorong, lalu Qunfudh mematahkan tulang rusuk dan janin yang ada di perutnya seketika keluar, Fatimah terbaring di tempat tidur hingga wafat sebagai syahid.
Lihat Kitab Sulaim bin Qais, Tahqiq Muhammad Baqir Al Anshari. Jilid 3 hal 588
Qunfudz budak orang itu, memukul Fatimah dengan gagang pedang
Dari Abu Bashir, dari Abu Abdillah Alaihissalam dalam haditsnya : sebab wafatnya Fatimah adalah ketika Qunfudz budak orang itu memukulnya dengan gagang pedang atas perintahya, lalu menggugurkan janin Muhsin, dan membuat Fatimah sakit parah, dia melarang orang yang menyakitinya dari menjenguknya,
Lihat Dala’ilul Imamah, At Thabari, hal 45
Umar menendang pintu dan pintu, Fatimah jatuh tertimpa pintu, -tanpa patah tulang-
Fatimah mendorong pintu agar menghalangi mereka masuk, Umar menendang pintu hingga terlepas dan mengenai perut Fatimah hingga Muhsin gugur dari perut ibunya.
Multaqal Bahrain hal 81, Al Jannah Al Ashimah hal 251
Umar menggunakan pedang dan cambuk tanpa menyentuh pintu
Fatimah berteriak Wahai Ayahku, Wahai Rasulullah, lalu Umar mengangkat pedang yang masih di sarungnya dan memukul perut Fatimah, lalu Fatimah berteriak lagi, wahai ayahku, lalu Umar mencambuk tangan Fatimah, Fatimah memanggil Wahai Rasulullah, betapa buruk penggantim, Abubakar dan Umar, Ali melompat dan mencengkeram baju Umar dan membantingnya, dan memukul hidung serta lehernya. Ali berniat membunuh Umar tetapi dia teringat wasiat Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam.
Kitab Sulaim bin Qais , jilid 3 hal 538
Fatimah didorong di pintu, tanpa ditendang, tanpa pedang, cambuk atau paku
Al Mas’udi, seorang ahli sejarah mengatakan : Amirul Mu’minin Ali tinggal di rumahnya beserta beberapa pengikutnya, seperti yang dipesankan oleh Rasulullah, lalu mereka menuju rumah Ali dan menyerbunya, membakar pintu rumah dan memaksa orang yang di dalamnya untuk keluar, mereka mendorong Fatimah di pintu hingga janinnya gugur, mereka memaksa Ali untuk berbaiat dan Ali menolak, dan mengatakan : aku tidak mau, mereka mengatakan : kalau begitu kami akan membunuhmu, Ali mengatakan: jika kalian membunuhku maka aku adalah Hamba Allah dan saudara RasulNya. Lihat Itsbatul Washiyyah hal 123.
Yang memukul Fatimah adalah Mughirah bin Syu’bah
Imam Hasan berbicara pada Mughirah bin Syu’bah di majlis Muawiyah: kamu memukul fatmah binti Rasulullah hingga berdarah dan gugur janinnya, kamu melakukan itu untuk menghinakan Rasulullah, dan melanggar perintahnya, menghina kehormatannya, Rasulullah pernah bersabda padanya : engkau adalah penghulu wanita penghuni sorga, semoga Allah memasukkanmu ke dalam neraka. Lihat dalam Al Ihtijaj dan Biharul Anwar jilid 10.
Umar menyerbu rumah Ali bersama tiga ratus orang.
Diriwayatkan mengenai penyebab wafatnya Fatimah : Umar bin Khattab menyerang rumah Ali dan Fatimah bersama tiga ratus orang. Lihat dalam kitab Al Awalim jilid 2 hal 58
Umar memukul Fatimah di jalan, bukan di rumah
Fatimah berhasil meminta surat dari Abubakar yang berisi pengembalian tanah Fadak pada Fatimah, ketika di jalan Fatimah bertemu Umar dan kemudian Umar bertanya: wahai putri Muhammad, surat apa yang ada di tanganmu? Fatimah menjawab: surat dari Abubakar tentang pengembalian tanah Fadak, Umar berkata lagi : bawa sini surat itu, Fatimah menolak menyerahkan surat itu, lalu Umar menendang Fatimah
Amali Mufid hal 38, juga kitab Al Ikhtishash
Yang mencengkram Fatimah hingga janinnya gugur adalah Khalid bin Walid
At Thuraihi mengatakan : ketika Khalid binWalid mencengkeramnya dan janin Muhsin pun gugur.
Lihat Ma’sat Az Zahra jilid 2 hal 143, Sayyid Ja’far Murtadha
Al Muntakhab, hal 136 karya At Thuraihi
Tidak jelas siapa yang memukul Fatimah
As Shaduq meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu Alaihi wasallam bersabda : seakan saya melihat rumahnya dimasuki kehinaan, kehormatannya dilecehkan, diserobot haknya, dihalangi untuk menerima warisannya, tulang rusuknya dipatahkan, dan janinnya digugurkan.
Amali Shaduq hal 100
Fatimah dicambuk.
Yang disesalkan adalah mereka memukul Fatimah Alaihassalam, telah diriwayatkan bahwa mereka memukulnya dengan cambuk
Talkhis Syafi jilid 3 hal 156
Punggungnya dicambuk dan dipukul dengan pedang.
Lalu Miqdad berdiri dan mengatakan : putri Nabi telah meninggal dunia, sedang darah mengalir di punggung dan rusuknya karena kalian mencambuknya dan memukulnya dengan pedang, sedangkan di mata kalian aku lebih hina dibanding Ali dan Fatimah
Ahwal Saqifah/ Kamil Al Baha’I, Hasan bin Ali bin Muhamamd bin Ali bin Hasan At Thabari yang dikenal dengan nama Imadudin At Thabari, jilid 1 hal 312
Ada baiknya disini kita simak bersama penuturan Sayid Ja’far Murtadha Al Amili dalam kitab “ Zhulumat Ummi Kaltsum”:
Tidak perlu dijelaskan lagi, bahwa jika nampak kontradiksi dalam banyak riwayat yang menceritakan tentang suatu kejadian, maka sangat wajar jika kita meragukan validitas riwayat-riwayat itu, bahkan keraguan akan muncul di hati para peneliti, dan memaksanya untuk mencari riwayat yang shahih dan mana yang berisi kebohongan dari riwayat-riwayat itu, ini jika kita tidak ingin mengatakan : kontradiksi ini membuat kita ragu dan bertanya apakah kejadian itu benar terjadi atau tidak.
Sesungguhnya orang-orang mu'min adalah bersaudara . Al Hujurat ayat 10
Jalinan persaudaraan yang ada antara kaum muslimin adalah jalinan yang lahir akibat adanya persamaan yang mendasar antara mereka, yaitu persamaan akidah tauhid yang terwujud melalui dua kalimat syahadat, dengan demikian seluruh yang mengucapkan dua kalimat syahadat menjadi bersaudara. Ukhuwah Islamiyah memiliki peranan yang penting bagi kehidupan muslim. Sehingga syareat Islam menggariskan beberapa aturan agar hubungan sesama kaum muslimin selalu Bagai tanaman yang harus dipupuk dan disiram, begitu pula ukhuwah Islamiyah haruslah dijaga dan dikokohkan.
Dengan persatuan yang kokoh musuh tidak dapat mengalahkan dan menjajah kaum muslimin, derita yang dialami oleh kaum muslimin, kurangnya persatuan dan adanya kaum munafikin yang bermuka dua, mereka bermuka manis di depan kaum muslimin dan bekerja untuk kepentingan musuh, kaum munafikin yang memecah belah kaum muslimin dan membantu orang kafir dalam melancarkan makar-makar mereka untuk memecah belah kaum muslimin. Mereka bagaikan musuh dalam selimut dan musang berbulu domba yang selalu bermanis muka di depan kaum muslimin sementara di kegelapan malam mereka bekerjasama dengan musuh untuk melancarkan makar mereka.
Allah telah memberi isyarat bagi kaum muslimin untuk menghindari perpecahan dengan memerintahkan untuk menghindari faktor-faktor yang dapat menimbulkan percikan api perselisihan dan perpecahan.
Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (QS. 49:6)
Ini karena salah satu faktor utama perpecahan adalah berita bohong, karena itulah Allah memanggil orang beriman –hanya orang beriman saja, orang munafik dan orang kafir tidak ikut mendapat panggilan Allah dalam ayat ini- agar meneliti berita yang disebarkan oleh orang fasik, agar tidak bersikap keliru terhadap orang yang salah, akhirnya ketika sikap keliru itu dimanifestasikan dalam ucapan dan perbuatan, maka akan berpotensi mengakibatkan perpecahan.
Sering kita dengan mereka-mereka yang menghasut kaum muslimin agar membenci sahabat Nabi, dengan menyebarkan cerita-cerita bohong yang sayangnya jarang dari kita yang mau meluangkan waktu untuk meneliti cerita-cerita itu. Hingga akhirnya banyak dari kaum muslimin yang terperangkap pada perbuatan membenci sahabat Nabi yang dicintai Allah. Allah berfirman:
tetapi Allah menjadikan kalian cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hati kalian serta menjadikan kalian benci kepada kekefiran, kefasikan dan kedurhakaan.Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus, (QS. 49:7)
Allah menjadikan sahabat mencintai keimanan, membuat iman jadi indah di hati mereka. Lalu mengapa kita membenci sahabat Nabi yang beriman karena cerita-cerita yang ternyata tidak jelas?
1001 KISAH TELADAN
SYAHID SELEPAS MENGUCAPKAN SYAHADAH
Suatu ketika tatkala Rasulullah s.a.w. sedang bersiap di medan perang Uhud, tiba-tiba terjadi hal yang tidak terduga. Seorang lelaki yang bernama Amar bin Thabit telah datang menemui Baginda s.a.w.. Dia rupanya ingin masuk Islam dan akan ikut perang bersama Rasulullah s.a.w. Amar ini berasal dari Bani Asyahali. Sekalian kaumnya ketika itu sudah Islam setelah tokoh yang terkenal Saad bin Muaz memeluk Islam. Tetapi Amar ini enggan mengikut kaumnya yang ramai itu. Keangkuhan jahiliyyah menonjol dalam jiwanya, walaupun dia orang baik dalam pergaulan. Waktu kaumnya menyerunya kepada Islam, ia menjawab, "Kalau aku tahu kebenaran yang aku kemukakan itu sudah pasti aku tidak akan mengikutnya." Demikian angkuhnya Amar.
Kaum Muslimin di Madinah pun mengetahui bagaimana keanehan Amar di tengah-tengah kaumnya yang sudah memeluk Islam. Ia terasing sendirian, hatinya sudah tertutup untuk menerima cahaya Islam yang terang benderang. Kini dalam saat orang bersiap-siap akan maju ke medan perang, dia segera menemui Rasulullah s.a.w. , menyatakan dirinya akan masuk Islam malah akan ikut berperang bersama angkatan perang di bawah pimpinan Rasulullah s.a.w. . Pedangnya yang tajam ikut dibawanya.
Rasulullah s.a.w. menyambut kedatangan Amar dengan sangat gembira, tambah pula rela akan maju bersama Nabi Muhammad s.a.w.. Tetapi orang ramai tidak mengetahui peristiwa aneh ini, kerana masing-masing sibuk menyiapkan bekalan peperangan. Di kalangan kaumnya juga tidak ramai mengetahui keIslamannya. Bagaimana Amar maju sebagai mujahid di medan peperangan. Dalam perang Uhud yang hebat itu Amar memperlihatkan keberaniannya yang luar biasa. Malah berkali-kali pedang musuh mengenai dirinya, tidak dipedulikannya. Bahkan dia terus maju sampai saatnya dia jatuh pengsan.
"Untuk apa ikut ke mari ya Amar?" Demikian tanya orang yang hairan melihatnya, sebab sangka mereka dia masih musyrik. Mereka kira Amar ini masih belum Islam lalau mengikut sahaja pada orang ramai. Dalam keadaan antara hidup dan mati itu Amar lalu berkata, "Aku sudah beriman kepada Allah s.w.t. dan Rasul-Nya, lalu aku siapkan pedangku dan maju ke medan perang. Allah s.w.t. akan memberikan syahidah padaku dalam waktu yang tidak lama lagi." Amar meninggal. Rohnya mengadap ke hadrat Illahi sebagai pahlawan syahid. Waktu hal ini diketahui Rasulullah s.a.w. , maka Baginda s.a.w. pun bersabda,: "Amar itu nanti akan berada dalam syurga nantinya." Dan kaum Muslimin pun mengetahui akhir hayat Amar dengan penuh takjub, sebab di luar dugaan mereka. Malah Abu Hurairah r.a sahabat yang banyak mengetahui hadith Rasulullah s.a.w. berkata kaum Muslimin, "Cuba kamu kemukakan kepadaku seorang yang masuk syurga sedang dia tidak pernah bersyarat sekalipun juga terhadap Allah s.w.t.."
"Jika kamu tidak tahu orangnya." Kata Abu Hurairah r.a lagi, lalu ia pun menyambung, ujarnya, "Maka baiklah aku beritahukan, itulah dia Amar bin Thabit." Demikianlah kisah seorang yang ajaib, masuk syurga demikian indahnya. Ia tidak pernah solat, puasa dan lain-lainnya seperti para sahabat yang lain, sebab dia belum memeluk Islam. Tiba-tiba melihat persiapan yang hebat itu, hatinya tergerak memeluk Islam sehingga ia menemui Rasulullah s.a.w.. Ia menjadi Muslim, lalu maju ke medan perang, sebagai mujahid yang berani. Akhirnya tewas dia dengan mendapat syahadah iaitu pengakuan sebagai orang yang syahid. Mati membela agama Allah s.w.t. di medan perang. Maka syurgalah tempat bagi orang yang memiliki julukan syahid. Rasulullah s.a.w. menjamin syurga bagi orang seperti Amar ini.
NAMA-NAMA SYURGA DAN NERAKA
Tingkatan dan nama-nama syurga ialah :-
1. Firdaus
2. Syurga 'Adn
3. Syurga Na'iim
4. Syurga Na'wa
5. Syurga Darussalaam
6. Daarul Muaqaamah
7. Al-Muqqamul Amin
8. Syurga Khuldi
Sedangkan tingkatan dan nama-nama neraka adalah :-
1. Neraka Jahannam
2. Neraka Jahiim
3. Neraka Hawiyah
4. Neraka Wail
5. Neraka Sa'iir
6. Neraka Ladhaa
7. Neraka Saqar
8. Neraka Hutomah
MENAHAN LAPAR SEMALAMAN KERANA MENGHORMATI TETAMU
Seorang telah datang menemui Rasulullah s.a.w. dan telah menceritakan kepada Baginda s.a.w. tentang kelaparan yang dialami olehnya. Kebetulan pada ketika itu Baginda s.a.w. tidak mempunyai suatu apa makanan pun pada diri Baginda s.a.w. mahupun di rumahnya sendiri untuk diberikan kepada orang itu. Baginda s.a.w. kemudian bertanya kepada para sahabat,"Adakah sesiapa di antara kamu yang sanggup melayani orang ini sebagai tetamunya pada malam ini bagi pihak aku?" Seorang dari kaum Ansar telah menyahut, "Wahai Rasulullah s.a.w. , saya sanggiup melakukan seperti kehendak tuan itu."
Orang Ansar itu pun telah membawa orang tadi ke rumahnya dan menerangkan pula kepada isterinya seraya berkata, "Lihatlah bahawa orang ini ialah tetamu Rasulullah s.a.w. Kita mesti melayaninya dengan sebaik-baik layanan mengikut segala kesanggupan yang ada pada diri kita dan semasa melakukan demikian janganlah kita tinggalkan sesuatu makanan pun yang ada di rumah kita." Lalu isterinya menjawab, "Demi Allah! Sebenarnya daku tidak ada menyimpan sebarang makanan pun, yang ada cuma sedikit, itu hanya mencukupi untuk makanan anak-anak kita di rumah ini ?"
Orang Ansar itu pun berkata, "Kalau begitu engkau tidurkanlah mereka dahulu (anak-anaknya) tanpa memberi makanan kepada mereka. Apabila saya duduk berbual-bual dengan tetamu ini di samping jamuan makan yang sedikit ini, dan apabila kami mulai makan engkau padamlah lampu itu, sambil berpura-pura hendak membetulkannya kembali supaya tetamu itu tidakk akan ketahui bahawa saya tidak makan bersama-samanya." Rancangan itu telah berjalan dengan lancarnya dan seluruh keluarga tersebut termasuk kanak-kanak itu sendiri terpaksa menahan lapar semata-mata untuk membolehkan tetamu itu makan sehingga berasa kenyang. Berikutan dengan peristiwa itu, Allah s.w.t. telah berfirman yang bermaksud, "Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka berada dalam kesusahan." (Al-Hasy : 9)
GUNUNG MENANGIS TAKUT TERGOLONG BATU API NERAKA
Pada suatu hari Uqa'il bin Abi Thalib telah pergi bersama-sama dengan Nabi Muhammad s.a.w.. Pada waktu itu Uqa'il telah melihat berita ajaib yang menjadikan tetapi hatinya tetap bertambah kuat di dalam Islam dengan sebab tiga perkara tersebut. Peristiwa pertama adalah, bahawa Nabi Muhammad s.a.w. akan mendatangi hajat yakni mebuang air besar dan di hadapannya terdapat beberapa batang pohon. Maka Baginda s.a.w. berkata kepada Uqa'il, "Hai Uqa'il teruslah engkau berjalan sampai ke pohon itu, dan katalah kepadanya, bahawa sesungguhnya Rasulullah berkata; "Agar kamu semua datang kepadanya untuk menjadi aling-aling atau penutup baginya, kerana sesungguhnya Baginda akan mengambil air wuduk dan buang air besar."
Uqa'il pun keluar dan pergi mendapatkan pohon-pohon itu dan sebelum dia menyelesaikan tugas itu ternyata pohon-pohon sudah tumbang dari akarnya serta sudah mengelilingi di sekitar Baginda s.a.w. selesai dari hajatnya. Maka Uqa'il kembali ke tempat pohon-pohon itu.
Peristiwa kedua adalah, bahawa Uqa'il berasa haus dan setelah mencari air ke mana pun jua namun tidak ditemui. Maka Baginda s.a.w. berkata kepada Uqa'il bin Abi Thalib, "Hai Uqa'il, dakilah gunung itu, dan sampaikanlah salamku kepadanya serta katakan, "Jika padamu ada air, berilah aku minum!"
Uqa'il lalu pergilah mendaki gunung itu dan berkata kepadanya sebagaimana yang telah disabdakan Baginda s.a.w. itu. Maka sebelum ia selesai berkata, gunung itu berkata dengan fasihnya, "Katakanlah kepada Rasulullah, bahawa aku sejak Allah s.w.t. menurunkan ayat yang bermaksud : ("Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu beserta keluargamu dari (seksa) api neraka yang umpannya dari manusia dan batu)." "Aku menangis dari sebab takut kalau aku menjadi batu itu maka tidak ada lagi air padaku."
Peristiwa yang ketiga ialah, bahawa ketika Uqa'il sedang berjalan dengan Nabi Muhammad s.a.w., tiba-tiba ada seekor unta yang meloncat dan lari ke hadapan Rasulullah s.a.w., maka unta itu lalu berkata, "Ya Rasulullah, aku minta perlindungan darimu." Unta masih belum selesai mengadukan halnya, tiba-tiba datanglah dari belakang seorang Arab kampung dengan membawa pedang terhunus. Melihat orang Arab kampung dengan membawa pedang terhunus, Nabi Muhammad s.a.w. berkata, "Hendak apakah kamu terhadap unta itu ?"
Jawab orang kampungan itu, "Wahai Rasulullah, aku telah membelinya dengan harta yang mahal, tetapi dia tidak mahu taat atau tidak mau jinak, maka akan kupotong saja dan akan kumanfaatkan dagingnya (kuberikan kepada orang-orang yang memerlukan)." Nabi Muhammad s.a.w. bertanya, "Mengapa engkau menderhakai dia?" Jawab unta itu, "Wahai Rasulullah, sungguh aku tidak menderhakainya dari satu pekerjaan, akan tetapi aku menderhakainya dari sebab perbuatannya yang buruk. Kerana kabilah yang dia termasuk di dalam golongannya, sama tidur meninggalkan solat Isya'. Kalau sekiranya dia mahu berjanji kepada engkau akan mengerjakan solat Isay' itu, maka aku berjanji tidak akan menderhakainya lagi. Sebab aku takut kalau Allah s.w.t. menurunkan seksa-Nya kepada mereka sedang aku berada di antara mereka."
Akhirnya Nabi Muhammad s.a.w. mengambil perjanjian orang Arab kampung itu, bahawa dia tidak akan meninggalkan solat Isya'. Dan Baginda Nabi Muhammad s.a.w. menyerahan unta itu kepadanya. Dan dia pun kembali kepada keluarganya.
NIAT TAUBAT MENUKAR ARAK MENJADI MADU
Pada suatu hari, Omar Al-Khatab sedang bersiar-siar di lorong-lorong dalam kota Madinah. Di hujung simpang jalan beliau terserempak dengan pemuda yang membawa kendi. Pemuda itu menyembunyikan kendi itu di dalam kain sarung yang diselimutkan di belakangnya. Timbul syak di hati Omar AL-Khatab apabila terlihat keadaan itu, lantas bertanya, "Apa yang engkau bawa itu?" Kerana panik sebab takut dimarahi Omar yang terkenal dengan ketegasan, pemuda itu menjawab dengan terketar-ketar iaitu benda yang dibawanya ialah madu. Walhal benda itu ialah khamar. Dalam keadaannya yang bercakap bohong itu pemuda tadi sebenarnya ingin berhenti dari terus minum arak. Dia sesungguhnya telah menyesal dan insaf dan menyesal melakukan perbuatan yang ditegah oleh agama itu. Dalam penyesalan itu dia berdoa kepada Tuhan supaya Omar Al-Khatab tidak sampai memeriksa isi kendinya yang ditegah oleh agama itu.
Pemuda itu masih menunggu sebarang kata-kata Khalifah, "Kendi ini berisikan madu." Kerana tidak percaya, Khalifah Omar ingin melihat sendiri isi kendi itu. Rupanya doa pemuda itu telah dimakbulkan oleh Allah s.w.t. seketika itu juga telah menukarkan isi kendi itu kepada madu. Begitu dia berniat untuk bertaubat, dan Tuhan memberikan hidayah, sehingga niatnya yang ikhlas, ia terhindar dari pergolakan Khalifah Omar Al-Khatab, yang mungkin membahayakan pada dirinya sendiri kalau kendi itu masih berisi khamar.
Allah Taala berfirman:, "Seteguk khamar diminum maka tidak diterima Allah amal fardhu dan sunatnya selama tiga hari. Dan sesiapa yang minum khamar segelas, maka Allah Taala tidak menerima solatnya selama empat puluh hari. Dan orang yang tetap minum khamar, maka selayaknya Allah memberinya dari 'Nahrul Khabal'.
Ketika ditanya, "Ya Rasulullah, apakah Nahrul Khabal itu ?" Jawab Rasulullah s.a.w., "Darah bercampur nanah orang ahli neraka ! "
RASULULLAH S.A.W. DAN PENGEMIS YAHUDI BUTA
Di sudut pasar Madinah Al-Munawarah seorang pengemis Yahudi buta hari demi hari apabila ada orang yang mendekatinya ia selalu berkata "Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya". Setiap pagi Rasulullah s.a.w. mendatanginya dengan membawa makanan, dan tanpa berkata sepatah kata pun Rasulullah s.a.w. menyuap makanan yang dibawanya kepada pengemis itu walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Rasulullah s.a.w melakukannya hingga menjelang Nabi Muhammad s.a.w. wafat. Setelah kewafatan Rasulullah s.a.w. tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu.
Suatu hari Abubakar r.a berkunjung ke rumah anaknya Aisyah r.ha. Beliau bertanya kepada anaknya, "Anakku adakah sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan", Aisyah r.ha menjawab pertanyaan ayahnya, "Wahai ayah engkau adalah seorang ahli sunnah hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayah lakukan kecuali satu sunnah saja". "Apakah itu?", tanya Abubakar r.a. Setiap pagi Rasulullah s.a.w. selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana", kata Aisyah r.ha.
Ke esokan harinya Abubakar r.a. pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis itu. Abubakar r.a mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepada nya. Ketika Abubakar r.a. mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak, "Siapakah kamu ?". Abubakar r.a menjawab, "Aku orang yang biasa". "Bukan !, engkau bukan orang yang biasa mendatangiku", jawab si pengemis buta itu. Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya setelah itu ia berikan pada ku dengan mulutnya sendiri", pengemis itu melanjutkan perkataannya.
Abubakar r.a. tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, aku memang bukan orang yang biasa datang pada mu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah s.a.w. Setelah pengemis itu mendengar cerita Abubakar r.a. ia pun menangis dan kemudian berkata, benarkah demikian?, selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia.... Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat dihadapan Abubakar r.a.
RASULULLAH S.A.W. MENDATANGI KAFILAH DAGANG
Dari kejauhan gumpalan debu padang pasir membumbung ke langit. Debu-debu yang berterbangan itu dapat terlihat dari kejauhan bertanda ada satu rombongan kafilahÏ akan datang mendekati kota Mekkah. Rasulullah s.a.w. melihat gumpalan debu dari kejauhan itu segera pulang ke rumah. Nabi Muhammad s.a.w. langsung menyiapkan perbekalan dan membungkusnya. Setelah itu Rasulullah s.a.w. menunggu di pintu gerbang kota Mekkah. Kafilah itu rupanya tidak memasuki kota Mekkah mereka hendak menuju tempat lain. Rasulullah s.a.w. mendekati kafilah itu dan mencari pimpinan rombongan kafilah tersebut. Setelah berjumpa dengan pemimpin kafilah itu Rasulullah s.a.w. meminta izin untuk dapat ikut serta di dalam rombongan tersebut. Beliau, Rasulullah s.a.w. telah diizinkan. Rasulullah s.a.w. mulailah berdakwah kepada mereka, kepada setiap orang dalam rombongan itu Rasulullah s.a.w. telah sampaikan kebesaran Allah s.w.t. dan mengajak mereka untuk menerima Islam. Setelah semua orang mendapat penjelasan dari Rasulullah s.a.w. , Rasulullah s.a.w. pun meminta izin kepada pimpinan rombongan untuk pulang kembali ke Mekkah. Rasulullah s.a.w. kembali ke kota Mekkah dengan berjalan kaki sedangkan kafilah tersebut telah melalui kota Mekkah sejauh satu hari satu malam perjalanan. Rasulullah s.a.w. hanya inginkan setiap orang memiliki kalimah Laalilaahaillallaah dan selamat dari adzab yang pedih kelak di akhirat.
BIDADARI UNTUK UMAR R.A.
Umar r.a. adalah salah satu dari sahabat Rasulullah s.a.w. Semenjak ia memeluk Islam kaum muslimin seakan memperoleh suatu kekuatan yang sangat besar. Sejak itulah mereka berani solat dan tawaf dikaabah secara terang-terangan. Umar r.a. adalah seorang yang wara, ia sangat teliti dalam mengamalkan Islam. Umar r.a. mempelajari surah Al-Baqoroh selama 10 tahun, ia kemudian melapor kepada Rasulullah s.a.w. , "Wahai Rasulullah s.a.w. apakah kehidupanku telah mencerminkan surah Al-Baqoroh, apabila belum maka aku tidak akan melanjutkan ke surah berikutnya".Rasulullah s.a.w. menjawab, "Sudah..."!. Umar r.a. mengamalkan agama sesuai dengan kehendak Allah s.w.t. Kerana kesungguhannya inilah maka banyak ayat di Al-Quran yang diturunkan Allah s.w.t. berdasarkan kehendak yang ada pada hatinya, seperti mengenai pengharaman arak, ayat mengenai hijab, dan beberapa ayat Al-Quran lainnya.
Rasulullah s.a.w. seringkali menceritakan kepada para sahabatnya mengenai perjalannya mi'raj menghadap Allah s.w.t. Rasulullah s.a.w. sering pula menceritakan bagaimana keadaan surga yang dijanjikan Allah s.w.t. kepada sahabat-sahabatnya. Suatu hari ketika Rasulullah s.a.w. dimi'rajkan menghadap Allah s.w.t. malaikat Jibril a.s. memperlihatkan kepada Rasulullah s.a.w. taman-taman surga. Rasulullah s.a.w. melihat ada sekumpulan bidadari yang sedang bercengkrama. Ada seorang bidadari yang begitu berbeda dari yang lainnya. Bidadari itu menyendiri dan tampak sangat pemalu. Rasulullah s.a.w. bertanya kepada Jibril a.s., "Wahai Jibril, bidadari siapakah itu"?. Malaikat Jibril a.s. menjawab, "Bidadari itu adalah diperuntukkan bagi sahabatmu Umar r.a.". Pernah suatu hari ia membayangkan tentang surga yang engkau ceritakan keindahannya. Ia menginginkan untuknya seorang bidadari yang berbeda dari bidadari yang lainnya. Bidadari yang diinginkannya itu berkulit hitam manis, dahinya tinggi, bagian atas matanya berwarna merah, dan bagian bawah matanya berwarna biru serta memiliki sifat yang sangat pemalu. Kerana sahabat-mu itu selalu memenuhi kehendak Allah s.w.t. maka saat itu juga Allah s.w.t. menjadikan seorang bidadari untuknya sesuai dengan apa yang dikehendaki hatinya".
Nabi Sulaiman a.s. dan Seekor Semut
Kerajaan Nabi Sulaiman a.s. dikala itu sedang mengalami musim kering yang begitu panjang. Lama sudah hujan tidak turun membasahi bumi. Kekeringan melanda di mana-mana. Baginda Sulaiman a.s. mulai didatangi oleh ummatnya untuk dimintai pertolongan dan memintanya memohon kepada Allah s.w.t. agar menurunkan hujan untuk membasahi kebun-kebun dan sungai-sungai mereka. Baginda Sulaiman a.s. kemudian memerintahkan satu rombongan besar pengikutnya yang terdiri dari bangsa jin dan manusia berkumpul di lapangan untuk berdo'a memohon kepada Allah s.w.t. agar musim kering segera berakhir dan hujan segera turun.
Sesampainya mereka di lapangan Baginda Sulaiman a.s. melihat seekor semut kecil berada di atas sebuah batu. Semut itu berbaring kepanasan dan kehausan. Baginda Sulaiman a.s. kemudian mendengar sang semut mulai berdoa memohon kepada Allah s.w.t. penunai segala hajat seluruh makhluk-Nya. "Ya Allah pemilik segala khazanah, aku berhajat sepenuhnya kepada-Mu, Aku berhajat akan air-Mu, tanpa air-Mu ya Allah aku akan kehausan dan kami semua kekeringan. Ya Allah aku berhajat sepenuhnya pada-Mu akan air-Mu, kabulkanlah permohonanku", do'a sang semut kepada Allah s.w.t. Mendengar doa si semut maka Baginda Sulaiman a.s.kemudian segera memerintahkan rombongannya untuk kembali pulang ke kerajaan sambil berkata pada mereka, "Kita segera pulang, sebentar lagi Allah s.w.t. akan menurunkan hujan-Nya kepada kalian. Allah s.w.t. telah mengabulkan permohonan seekor semut". Kemudian Baginda Sulaiman dan rombongannya pulang kembali ke kerajaan.
Suatu hari Baginda Sulaiman a.s. sedang berjalan-jalan. Ia melihat seekor semut sedang berjalan sambil mengangkat sebutir buah kurma. Baginda Sulaiman a.s terus mengamatinya, kemudian beliau memanggil si semut dan menanyainya: "Hai semut kecil untuk apa kurma yang kau bawa itu?. Si semut menjawab, Ini adalah kurma yang Allah s.w.t. berikan kepada ku sebagai makananku selama satu tahun. Baginda Sulaiman a.s. kemudian mengambil sebuah botol lalu ia berkata kepada si semut, "Wahai semut kemarilah engkau, masuklah ke dalam botol ini aku telah membagi dua kurma ini dan akan aku berikan separuhnya padamu sebagai makananmu selama satu tahun. Tahun depan aku akan datang lagi untuk melihat keadaanmu". Si semut taat pada perintah Nabi Sulaiman a.s.. Setahun telah berlalu. Baginda Sulaiman a.s. datang melihat keadaan si semut. Ia melihat kurma yang diberikan kepada si semut itu tidak banyak berkurang. Baginda Sulaiman a.s. bertanya kepada si semut, "Hai semut mengapa engkau tidak menghabiskan kurmamu" "Wahai Nabiullah, aku selama ini hanya menghisap airnya dan aku banyak berpuasa. Selama ini Allah s.w.t. yang memberikan kepadaku sebutir kurma setiap tahunnya, akan tetapi kali ini engkau memberiku separuh buah kurma. Aku takut tahun depan engkau tidak memberiku kurma lagi kerana engkau bukan Allah Pemberi Rizki (Ar-Rozak), jawab si semut.
PERMOHONAN SIKAYA DAN SIMISKIN
Nabi Musa a.s. memiliki ummat yang jumlahnya sangat banyak dan umur mereka panjang-panjang. Mereka ada yang kaya dan juga ada yang miskin. Suatu hari ada seorang yang miskin datang menghadap Nabi Musa a.s.. Ia begitu miskinnya pakaiannya compang-camping dan sangat lusuh berdebu. Si miskin itu kemudian berkata kepada Baginda Musa a.s., "Ya Nabiullah, Kalamullah, tolong sampaikan kepada Allah s.w.t. permohonanku ini agar Allah s.w.t. menjadikan aku orang yang kaya." Nabi Musa a.s. tersenyum dan berkata kepada orang itu, "Saudaraku, banyak-banyaklah kamu bersyukur kepada Allah s.w.t.". Si miskin itu agak terkejut dan kesal, lalu ia berkata, "Bagaimana aku mau banyak bersyukur, aku makan pun jarang, dan pakaian yang aku gunakan pun hanya satu lembar ini saja"!. Akhirnya si miskin itu pulang tanpa mendapatkan apa yang diinginkannya. Beberapa waktu kemudian seorang kaya datang menghadap Nabi Musa a.s.. Orang tersebut bersih badannya juga rapi pakaiannya. Ia berkata kepada Nabi Musa a.s., "Wahai Nabiullah, tolong sampaikan kepada Allah s.w.t. permohonanku ini agar dijadikannya aku ini seorang yang miskin, terkadang aku merasa terganggu dengan hartaku itu." Nabi Musa a.s.pun tersenyum, lalu ia berkata, "Wahai saudaraku, janganlah kamu bersyukur kepada Allah s.w.t.". "Ya Nabiullah, bagaimana aku tidak bersyukur kepada Allah s.w.t.?. Allah s.w.t. telah memberiku mata yang dengannya aku dapat melihat. telinga yang dengannya aku dapat mendengar. Allah s.w.t. telah memberiku tangan yang dengannya aku dapat bekerja dan telah memberiku kaki yang dengannya aku dapat berjalan, bagaimana mungkin aku tidak mensyukurinya", jawab si kaya itu. Akhirnya si kaya itu pun pulang ke rumahnya. Kemudian terjadi adalah si kaya itu semakin Allah s.w.t. tambah kekayaannya kerana ia selalu bersyukur. Dan si miskin menjadi bertambah miskin. Allah s.w.t. mengambil semua kenikmatan-Nya sehingga si miskin itu tidak memiliki selembar pakaianpun yang melekat di tubuhnya. Ini semua kerana ia tidak mau bersyukur kepada Allah s.w.t.
KAMBING DAN ALAT TENUN
Imam Ahmad telah memberitakan dari Humaid bin Hilal, dia berkata: "Ada seorang lelaki yang sering berulang-alik di kampung kami, lalu dia membawa cerita yang aneh-aneh kepada orang-orang kampung. Dia bercerita: "Suatu ketika aku datang ke Madinah dalam rombongan dagang, lalu aku menjual semua barang-barang yang aku bawa. Aku berkata kepada diriku: "Mengapa aku tidak pergi kepada orang lelaki yang membawa ajaran baru itu, barangkali aku dapat mendengar berita-berita yang aneh untuk aku bawa kembali bersamaku?! Aku pun pergi kepada Rasulullah s.a.w. untuk bertanya sesuatu, lalu Rasulullah s.a.w. menunjuki arah sebuah rumah, katanya: "Ada seorang wanita yang tinggal di rumah itu . Pernah dia mengikut tentera Islam berjihad, dan ditinggalkannya 12 ekor kambingnya dan sebuah alat tenunan yang digunakannya untuk menenun pakaian. Apabila dia kembali dari berjihad, didapati kambingnya hilang seekor, dan alat tenunannya pun hilang. Dia merasa sedih atas kehilangannya itu. Maka dia pun mengangkat kedua belah tangan berdoa kepada Tuhannya dengan penuh kesungguhan, katanya:
"Ya Tuhanku! Engkau telah berikan jaminan bahwa siapa yang keluar berjihad pada jalanmu, Engkau akan pelihara harta bendanya, dan sekarang aku telah kehilangan seekor kambing, dan alat tenunanku. jadi aku minta ganti kambing yang hilang dan alat tenunanku itu!"
Rasulullah s.a.w. terus menceritakan betapa sungguh-sungguhnya dia berdoa dan memohon kepada Tuhannya, sehingga pada esok harinya dia mendapati di pintu rumahnya kambingnya yang hilang itu dengan seekor kambing lagi bersamanya. Begitu juga dia melihat alat tenunannya ada di situ dengan satu alat tenun yang lain. Itulah ceritanya, kata Rasulullah s.a.w. dan jika engkau mau, pergilah kepadanya di rumah itu, dan tanyalah dia cerita itu! "Tidak", jawabku, "Akan tetapi aku percaya semua yang engkau katakan itu!"
(Majma'uz-Zawaid 5:277)
KEBERANIAN SAAD BIN ABU WAQQASH R.A.
Ibnu Asakir telah mengeluarkan dari Az-Zuhri dia telah berkata: Pada suatu hari Rasulullah s.a.w. telah mengutus Sa'ad bin Abu Waqqash ra. untuk mengetuai suatu pasukan ke suatu tempat di negeri Hijaz yang dikenal dengan nama Rabigh. Mereka telah diserang dari belakang oleh kaum Musyrikin, maka Sa'ad bin Abu Waqqash ra. mengeluarkan panah-panahnya serta memanah mereka dengan panah-panah itu. Dengan itu, maka Sa'ad bin Abu Waqqash ra. menjadi orang pertama yang memanah di dalam Islam, dan peristiwa itu pula menjadi perang yang pertama terjadi di dalam Islam. (Al-Muntakhab 5:72)
Ibnu Asakir mengeluarkan dari Ibnu Syihab, dia berkata: "Pada hari pertempuran di Uhud Sa'ad bin Abu Waqqash ra. telah membunuh tiga orang Musyrikin dengan sebatang anak panah. Dipanahnya seorang, lalu diambilnya lagi panah itu, kemudian dipanahnya orang yang kedua dan seterusnya orang yang ketiga dengan panah yang sama. Ramai para sahabat merasa heran tentang keberanian Sa'ad itu. Maka Sa'ad berkata: "Rasulullah s.a.w. yang telah memberikanku keberanian itu, sehingga aku menjadi begitu berani sekali". (Al-Muntakhab 5:72)
Bazzar telah mengeluarkan dari Abdullah bin Mas'ud ra. dia berkata: "Pada hari pertempuran di Badar, Sa'ad bin Abu Waqqash ra. telah menyerang musuh dengan berkuda dan dengan berjalan kaki". (Majma'uz Zawa'id 6:82)
BERTANI DISYURGA
Pada suatu hari Rasulullah s.a.w. berbicara dengan seorang lelaki dari desa. Rasulullah s.a.w. menceritakan bahawa ada seorang lelaki penghuni syurga meminta kepada Allah s.w.t. untuk bercocok tanam, kemudian Allah s.w.t. bertanya kepadanya bukankah Allah s.w.t. telah berikan semua perkara yang dia perlukan? Lelaki itu mengakui, tetapi dia suka bercocok tanam. Lalu dia menabur biji benih. Tanaman itu langsung tumbuh. Kesemuanya sama. Setelah itu dia menuainya. Hasilnya dapat setinggi gunung. Allah s.w.t. berfirman kepadanya, "Wahai anak Adam, ia tidak mengenyangkan perut kamu".
"Demi Allah, orang itu adalah orang Quraisy atau pun Anshar kerana mereka dari golongan petani. Kami bukan dari golongan petani", kata orang Badui itu. Rasulullah s.a.w. tertawa mendengar kata-kata orang Badui itu.
WAHYU TERAKHIR KEPADA RASULULLAH SAW
Diriwayatkan bahawa surah Al-Maaidah ayat 3 diturunkan pada sesudah waktu asar yaitu pada hari Jumaat di padang Arafah pada musim haji penghabisan [Wada']. Pada masa itu Rasulullah s.a.w. berada di Arafah di atas unta. Ketika ayat ini turun Rasulullah s.a.w. tidak begitu jelas penerimaannya untuk mengingati isi dan makna yang terkandung dalam ayat tersebut. Kemudian Rasulullah s.a.w. bersandar pada unta beliau, dan unta beliau pun duduk perlahan-lahan. Setelah itu turun malaikat Jibril a.s. dan berkata:
"Wahai Muhammad, sesungguhnya pada hari ini telah disempurnakan urusan agamamu, maka terputuslah apa yang diperintahkan oleh Allah s.w.t. dan demikian juga apa yang terlarang olehnya. Oleh itu kamu kumpulkan para sahabatmu dan beritahu kepada mereka bahawa hari ini adalah hari terakhir aku bertemu dengan kamu."
Setelah Malaikat Jibril a.s. pergi maka Rasulullah s.a.w. pun berangkat ke Mekah dan terus pergi ke Madinah. Setelah Rasulullah s.a.w. mengumpulkan para sahabat beliau, maka Rasulullah s.a.w. pun menceritakan apa yang telah diberitahu oleh malaikat Jibril a.s.. Apabila para sahabat mendengar hal yang demikian maka mereka pun gembira sambil berkata: "Agama kita telah sempurna. Agama kila telah sempurna."
Apabila Abu Bakar ra. mendengar keterangan Rasulullah s.a.w. itu, maka ia tidak dapat menahan kesedihannya maka ia pun kembali ke rumah lalu mengunci pintu dan menangis sekuat-kuatnya. Abu Bakar ra. menangis dari pagi hingga ke malam. Kisah tentang Abu Bakar ra. menangis telah sampai kepada para sahabat yang lain, maka berkumpullah para sahabat di depan rumah Abu Bakar ra. dan mereka berkata: "Wahai Abu Bakar, apakah yang telah membuat kamu menangis sehingga begini sekali keadaanmu? Seharusnya kamu merasa gembira sebab agama kita telah sempuma." Mendengarkan pertanyaan dari para sahabat maka Abu Bakar ra. pun berkata, "Wahai para sahabatku, kamu semua tidak tahu tentang musibah yang menimpa kamu, tidakkah kamu tahu bahawa apabila sesualu perkara itu telah sempuma maka akan kelihatanlah akan kekurangannya. Dengan turunnya ayat tersebut bahawa ia menunjukkan perpisahan kita dengan Rasulullah s.a.w.. Hasan dan Husin menjadi yatim dan para isteri nabi menjadi janda."
Selelah mereka mendengar penjelasan dari Abu Bakar ra. maka sadarlah mereka akan kebenaran kata-kata Abu Bakar ra., lalu mereka menangis dengan sekuat-kuatnya. Tangisan mereka telah didengar oleh para sahabat yang lain, maka mereka pun terus memberitahu Rasulullah s.a.w. tentang apa yang mereka lihat itu. Berkata salah seorang dari para sahabat, "Ya Rasulullah s.a.w., kami baru kembali dari rumah Abu Bakar ra. dan kami dapati banyak orang menangis dengan suara yang kuat di depan rumah beliau." Apabila Rasulullah s.a.w. mendengar keterangan dari para sahabat, maka berubahlah muka Rasulullah s.a.w. dan dengan bergegas beliau menuju ke rumah Abu Bakar ra.. Setelah Rasulullah s.a.w. sampai di rumah Abu Bakar ra. maka Rasulullah s.a.w. melihat kesemua mereka yang menangis dan bertanya, "Wahai para sahabatku, kenapakah kamu semua menangis?." Kemudian Ali ra. berkata, "YaRasulullah s.a.w., Abu Bakar ra. mengatakan dengan turunnya ayat ini membawa tanda bahwa waktu wafatmu telah dekat. Adakah ini benar ya Rasulullah?." Lalu Rasulullah s.a.w. berkata: "Semua yang dikatakan oleh Abu Bakar ra. adalah benar, dan sesungguhnya waktu untuk aku meninggalkan kamu semua telah dekat".
Setelah Abu Bakar ra. mendengar pengakuan Rasulullah s.a.w., maka ia pun menangis sekuat tenaganya sehingga ia jatuh pingsan. Sementara 'Ukasyah ra. berkata kepada Rasulullah s.a.w., 'Ya Rasulullah, waktu itu saya anda pukul pada tulang rusuk saya. Oleh itu saya hendak tahu apakah anda sengaja memukul saya atau hendak memukul unta baginda." Rasulullah s.a.w. berkata: "Wahai 'Ukasyah, Rasulullah s.a.w. sengaja memukul kamu." Kemudian Rasulullah s.a.w. berkata kepada Bilal ra., "Wahai Bilal, kamu pergi ke rumah Fathimah dan ambilkan tongkatku ke mari." Bilal keluar dari masjid menuju ke rumah Fathimah sambil meletakkan tangannya di atas kepala dengan berkata, "Rasulullah telah menyediakan dirinya untuk dibalas [diqishash]."
Setelah Bilal sampai di rumah Fathimah maka Bilal pun memberi salam dan mengetuk pintu. Kemudian Fathimah ra. menyahut dengan berkata: "Siapakah di pintu?." Lalu Bilal ra. berkata: "Saya Bilal, saya telah diperintahkan oleh Rasulullah s.a.w. untuk mengambil tongkat beliau. "Kemudian Fathimah ra. berkata: "Wahai Bilal, untuk apa ayahku minta tongkatnya." Berkata Bilal ra.: "Wahai Fathimah, Rasulullah s.a.w.telah menyediakan dirinya untuk diqishash." Bertanya Fathimah ra. lagi: "Wahai Bilal, siapakah manusia yang sampai hatinya untuk menqishash Rasulullah s.a.w.?" Bilal ra. tidak menjawab pertanyaan Fathimah ra., Setelah Fathimah ra. memberikan tongkat tersebut, maka Bilal pun membawa tongkat itu kepada Rasulullah s.a.w. Setelah Rasulullah s.a.w. menerima tongkat tersebut dari Bilal ra. maka beliau pun menyerahkan kepada 'Ukasyah.
Melihatkan hal yang demikian maka Abu Bakar ra. dan Umar ra. tampil ke depan sambil berkata: "Wahai 'Ukasyah, janganlah kamu qishash Rasulullah s.a.w. tetapi kamu qishashlah kami berdua." Apabila Rasulullah s.a.w. mendengar kata-kata Abu Bakar ra. dan Umar ra. maka dengan segera beliau berkata: "Wahai Abu Bakar, Umar duduklah kamu berdua, sesungguhnya Allah s.w.t.telah menetapkan tempatnya untuk kamu berdua." Kemudian Ali ra. bangun, lalu berkata, "Wahai 'Ukasyah! Aku adalah orang yang senantiasa berada di samping Rasulullah s.a.w. oleh itu kamu pukullah aku dan janganlah kamu menqishash Rasulullah s.a.w." Lalu Rasulullah s.a.w. berkata, "Wahai Ali duduklah kamu, sesungguhnya Allah s.w.t. telah menetapkan tempatmu dan mengetahui isi hatimu." Setelah itu Hasan dan Husin bangun dengan berkata: "Wahai 'Ukasyah, bukankah kamu tidak tahu bahwa kami ini adalah cucu Rasulullah s.a.w., kalau kamu menqishash kami sama dengan kamu menqishash Rasulullah s.a.w." Mendengar kata-kata cucunya Rasulullah s.a.w. pun berkata, "Wahai buah hatiku duduklah kamu berdua." Berkata Rasulullah s.a.w. "Wahai 'Ukasyah pukullah saya kalau kamu hendak memukul."
Kemudian 'Ukasyah berkata: "Ya Rasulullah s.a.w., anda telah memukul saya sewaktu saya tidak memakai baju." Maka Rasulullah s.a.w. pun membuka baju. Setelah Rasulullah s.a.w. membuka baju maka menangislah semua yang hadir. Setelah 'Ukasyah melihat tubuh Rasulullah s.a.w. maka ia pun mencium beliau dan berkata, "Saya tebus anda dengan jiwa saya ya Rasulullah s.a.w., siapakah yang sanggup memukul anda. Saya melakukan begini adalah sebab saya ingin menyentuh badan anda yang dimuliakan oleh Allah s.w.t. dengan badan saya. Dan Allah s.w.t. menjaga saya dari neraka dengan kehormatanmu" Kemudian Rasulullah s.a.w. berkata, "Dengarlah kamu sekalian, sekiranya kamu hendak melihat ahli syurga, inilah orangnya." Kemudian semua para jemaah bersalam-salaman atas kegembiraan mereka terhadap peristiwa yang sangat genting itu. Setelah itu para jemaah pun berkata, "Wahai 'Ukasyah, inilah keuntungan yang paling besar bagimu, engkau telah memperolehi darjat yang tinggi dan bertemankan Rasulullah s.a.w. di dalam syurga."
Apabila ajal Rasulullah s.a.w. makin dekat maka beliau pun memanggil para sahabat ke rumah Aisyah ra. dan beliau berkata: "Selamat datang kamu semua semoga Allah s.w.t. mengasihi kamu semua, saya berwasiat kepada kamu semua agar kamu semua bertaqwa kepada Allah s.w.t. dan mentaati segala perintahnya. Sesungguhnya hari perpisahan antara saya dengan kamu semua hampir dekat, dan dekat pula saat kembalinya seorang hamba kepada Allah s.w.t. dan menempatkannya di syurga. Kalau telah sampai ajalku maka hendaklah Ali yang memandikanku, Fadhl bin Abbas hendaklah menuangkan air dan Usamah bin Zaid hendaklah menolong keduanya. Setelah itu kamu kafanilah aku dengan pakaianku sendiri apabila kamu semua menghendaki, atau kafanilah aku dengan kain Yaman yang putih. Apabila kamu memandikan aku, maka hendaklah kamu letakkan aku di atas balai tempat tidurku dalam rumahku ini. Setelah itu kamu semua keluarlah sebentar meninggalkan aku. Pertama yang akan mensolatkan aku ialah Allah s.w.t., kemudian yang akan mensolat aku ialah Jibril a.s., kemudian diikuti oleh malaikat Israfil, malaikat Mikail, dan yang akhir sekali malaikat lzrail berserta dengan semua para pembantunya. Setelah itu baru kamu semua masuk bergantian secara berkelompok bersolat ke atasku."
Setelah para sahabat mendengar ucapan yang sungguh menyayat hati itu maka mereka pun menangis dengan nada yang keras dan berkata, "Ya Rasulullah s.a.w. anda adalah seorang Rasul yang diutus kepada kami dan untuk semua, yang mana selama ini anda memberi kekuatan dalam penemuan kami dan sebagai penguasa yang menguruskan perkara kami. Apabila anda sudah tiada nanti kepada siapakah akan kami tanya setiap persoalan yang timbul nanti?." Kemudian Rasulullah s.a.w. berkata, "Dengarlah para sahabatku, aku tinggalkan kepada kamu semua jalan yang benar dan jalan yang terang, dan telah aku tinggalkan kepada kamu semua dua penasihat yang satu daripadanya pandai bicara dan yang satu lagi diam sahaja. Yang pandai bicara itu ialah Al-Quran dan yang diam itu ialah maut. Apabila ada sesuatu persoalan yang rumit di antara kamu, maka hendaklah kamu semua kembali kepada Al-Quran dan Hadis-ku dan sekiranya hati kamu itu berkeras maka lembutkan dia dengan mengambil pelajaran dari mati."
Setelah Rasulullah s.a.w. berkata demikian, maka sakit Rasulullah s.a.w. bermula. Dalam bulan safar Rasulullah s.a.w. sakit selama 18 hari dan sering diziaiahi oleh para sahabat. Dalam sebuah kitab diterangkan bahawa Rasulullah s.a.w. diutus pada hari Isnin dan wafat pada hari Isnin. Pada hari Isnin penyakit Rasulullah s.a.w. bertambah berat, setelah Bilal ra. menyelesaikan azan subuh, maka Bilal ra. pun pergi ke rumah Rasulullah s.a.w.. Sesampainya Bilal ra. di rumah Rasulullah s.a.w. maka Bilal ra. pun memberi salam, "Assalaarnualaika ya Rasulullah." Lalu dijawab oleh Fathimah ra., "Rasulullah s.a.w. masih sibuk dengan urusan beliau." Setelah Bilal ra. mendengar penjelasan dari Fathimah ra. maka Bilal ra. pun kembali ke masjid tanpa memahami kata-kata Fathimah ra. itu. Apabila waktu subuh hampir hendak lupus, lalu Bilal pergi sekali lagi ke rumah Rasulullah s.a.w. dan memberi salam seperti permulaan tadi, kali ini salam Bilal ra. telah di dengar oleh Rasulullah s.a.w. dan Rasulullah s.a.w. berkata, "Masuklah wahai Bilal, sesungguhnya penyakitku ini semakin berat, oleh itu kamu suruhlah Abu Bakar mengimamkan solat subuh berjemaah dengan mereka yang hadir." Setelah mendengar kata-kata Rasulullah s.a.w. maka Bilal ra. pun berjalan menuju ke masjid sambil meletakkan tangan di atas kepala dengan berkata: "Aduh musibah."
Setelah Bilal ra. sarnpai di masjid maka Bilal ra. pun memberitahu Abu Bakar tentang apa yang telah Rasulullah s.a.w. katakan kepadanya. Abu Bakar ra. tidak dapat menahan dirinya apabila ia melihat mimbar kosong maka dengan suara yang keras Abu Bakar ra. menangis sehingga ia jatuh pingsan. Melihatkan peristiwa ini maka riuh rendah tangisan sahabat dalam masjid, sehingga Rasulullah s.a.w. bertanya kepada Fathimah ra.; "Wahai Fathimah apakah yang telah berlaku?." Maka Fathimah ra. pun berkata: "Kekecohan kaum muslimin, sebab anda tidak pergi ke masjid." Kemudian Rasulullah s.a.w. memanggil Ali ra. dan Fadhl bin Abas ra., lalu Rasulullah s.a.w. bersandar kepada kedua mereka dan terus pergi ke masjid. Setelah Rasulullah s.a.w. sampai di masjid maka Rasulullah s.a.w. pun bersolat subuh bersama dengan para jemaah.
Setelah selesai solat subuh maka Rasulullah s.a.w. pun berkata, "Wahai kaum muslimin, kamu semua senantiasa dalam pertolongan dan pemeliharaan Allah s.w.t., oleh itu hendaklah kamu semua bertaqwa kepada Allah s.w.t. dan mengerjakan segala perintahnya. Sesungguhnya aku akan meninggalkan dunia ini dan kamu semua, dan hari ini adalah hari pertama aku di akhirat dan hari terakhir aku di dunia." Setelah berkata demikian maka Rasulullah s.a.w. pun pulang ke rumah beliau. Kemudian Allah s.w.t. mewahyukan kepada malaikat lzrail a.s., "Wahai lzrail, pergilah kamu kepada kekasihku dengan sebaik-baik rupa, dan apabila kamu hendak mencabut ruhnya maka hendaklah kamu melakukan dengan cara yang paling lembut sekali. Apabila kamu pergi ke rumahnya maka minta izinlah terlebih dahulu, kalau ia izinkan kamu masuk, maka masuklah kamu ke rumahnya dan kalau ia tidak mengizinkan kamu masuk maka hendaklah kamu kembali padaku."
Setelah malaikat lzrail mendapat perintah dari Allah s.w.t. maka malaikal lzrail pun turun dengan menyerupai orang Arab Badwi. Setelah malaikat lzrail sampai di depan rumah Rasulullah s.a.w. maka ia pun memberi salam, "Assalaamu alaikum yaa ahla baitin nubuwwati wa ma danir risaalati a adkhulu?" (Mudah-mudahan keselamatan tetap untuk kamu semua sekalian, wahai penghuni rumah nabi dan sumber risaalah, bolehkan saya masuk?) Apabila Fathimah mendengar orang memberi salam maka ia-pun berkata; "Wahai hamba Allah, Rasulullah s.a.w. sedang sibuk sebab sakitnya yang semakin berat." Kemudian malaikat lzrail berkata lagi seperti dipermulaannya, dan kali ini seruan malaikat itu telah didengar oleh Rasulullah s.a.w. dan Rasulullah s.a.w. bertanya kepada Fathimah ra., "Wahai Fathimah, siapakah di depan pintu itu." Maka Fathimah ra. pun berkata, "Ya Rasulullah, ada seorang Arab badwi memanggil mu, dan aku telah katakan kepadanya bahawa anda sedang sibuk sebab sakit, sebaliknya dia memandang saya dengan tajam sehingga terasa menggigil badan saya." Kemudian Rasulullah s.a.w. berkata; "Wahai Fathimah, tahukah kamu siapakah orang itu?." Jawab Fathimah, "Tidak ayah." "Dia adalah malaikat lzrail, malaikat yang akan memutuskan segala macam nafsu syahwat yang memisahkan perkumpulan-perkumpulan dan yang memusnahkan semua rumah serta meramaikan kubur." Fathimah ra. tidak dapat menahan air matanya lagi setelah mengetahui bahawa saat perpisahan dengan ayahandanya akan berakhir, dia menangis sepuas-puasnya. Apabila Rasulullah s.a.w. mendengar tangisan Falimah ra. maka beliau pun berkata: "Janganlah kamu menangis wahai Fathimah, engkaulah orang yang pertama dalam keluargaku akan bertemu dengan aku." Kemudian Rasulullah s.a.w. pun mengizinkan malaikat lzrail masuk. Maka malaikat lzrail pun masuk dengan mengucap, "Assalamuaalaikum ya Rasulullah." Lalu Rasulullah s.a.w. menjawab: "Wa alaikas saalamu, wahai lzrail engkau datang menziarahi aku atau untuk mencabut ruhku?" Maka berkata malaikat lzrail: "Kedatangan saya adalah untuk menziarahimu dan untuk mencabut ruhmu, itupun kalau engkau izinkan, kalau engkau tidak izinkan maka aku akan kembali." Berkata Rasulullah s.a.w., "Wahai lzrail, di manakah kamu tinggalkan Jibril?" Berkata lzrail: "Saya tinggalkan Jibril di langit dunia, para malaikat sedang memuliakan dia." Tidak beberapa lama kemudian Jibril a.s. pun turun dan duduk di dekat kepala Rasulullah s.a.w..
Apabila Rasulullah s.a.w. melihat kedatangan Jibril a.s. maka Rasulullah s.a.w. pun berkata: "Wahai Jibril, tahukah kamu bahawa ajalku sudah dekat" Berkata Jibril a.s., "Ya aku tahu" Rasulullah s.a.w. bertanya lagi, "Wahai Jibril, beritahu kepadaku kemuliaan yang menggembirakan aku disisi Allah s.w.t" Berkata Jibril a.s., "Sesungguhnya semua pintu langit telah dibuka, para malaikat bersusun rapi menanti ruhmu dilangit. Kesemua pintu-pintu syurga telah dibuka, dan kesemua bidadari sudah berhias menanti kehadiran ruhmu." Berkata Rasulullah s.a.w.: "Alhamdulillah, sekarang kamu katakan pula tentang umatku di hari kiamat nanti." Berkata Jibril a.s., "Allah s.w.t. telah berfirman yang bermaksud,"Sesungguhnya aku telah melarang semua para nabi masuk ke dalam syurga sebelum engkau masuk terlebih dahulu, dan aku juga melarang semua umat memasuki syurga sebelum umatmu memasuki syurga."
Berkata Rasulullah s.a.w.: "Sekarang aku telah puas hati dan telah hilang rasa susahku." Kemudian Rasulullah s.a.w. berkata: "Wahai lzrail, mendekatlah kamu kepadaku." Setelah itu Malaikat lzrail pun memulai tugasnya, apabila ruh beliau sampai pada pusat, maka Rasulullah s.a.w. pun berkata: "Wahai Jibril, alangkah dahsyatnya rasa mati." Jibrila.s. mengalihkan pandangan dari Rasulullah s.a.w. apabila mendengar kata-kata beliau itu. Melihatkan telatah Jibril a.s. itu maka Rasulullah s.a.w. pun berkata: "Wahai Jibril, apakah kamu tidak suka melihat wajahku?" Jibril a.s. berkata: "Wahai kekasih Allah, siapakah orang yang sanggup melihat wajahmu dikala kamu dalam sakaratul maut?" Anas bin Malik ra. berkata: "Apabila ruh Rasulullah s.a.w. telah sampai di dada beliau telah bersabda,"Aku wasiatkan kepada kamu agar kamu semua menjaga solat dan apa-apa yang telah diperintahkan ke atasmu."
Ali ra. berkata: "Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. ketika menjelang saat-saat terakhir, telah mengerakkan kedua bibir beliau sebanyak dua kali, dan saya meletakkan telinga, saya dengan Rasulullah s.a.w. berkata: "Umatku, umatku." Telah bersabda Rasulullah s.a.w. bahawa: "Malaikat Jibril a.s. telah berkata kepadaku; "Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah s.w.t. telah menciptakan sebuah laut di belakang gunung Qaf, dan di laut itu terdapat ikan yang selalu membaca selawat untukmu, kalau sesiapa yang mengambil seekor ikan dari laut tersebut maka akan lumpuhlah kedua belah tangannya dan ikan tersebut akan menjadi batu."
Suatu ketika tatkala Rasulullah s.a.w. sedang bersiap di medan perang Uhud, tiba-tiba terjadi hal yang tidak terduga. Seorang lelaki yang bernama Amar bin Thabit telah datang menemui Baginda s.a.w.. Dia rupanya ingin masuk Islam dan akan ikut perang bersama Rasulullah s.a.w. Amar ini berasal dari Bani Asyahali. Sekalian kaumnya ketika itu sudah Islam setelah tokoh yang terkenal Saad bin Muaz memeluk Islam. Tetapi Amar ini enggan mengikut kaumnya yang ramai itu. Keangkuhan jahiliyyah menonjol dalam jiwanya, walaupun dia orang baik dalam pergaulan. Waktu kaumnya menyerunya kepada Islam, ia menjawab, "Kalau aku tahu kebenaran yang aku kemukakan itu sudah pasti aku tidak akan mengikutnya." Demikian angkuhnya Amar.
Kaum Muslimin di Madinah pun mengetahui bagaimana keanehan Amar di tengah-tengah kaumnya yang sudah memeluk Islam. Ia terasing sendirian, hatinya sudah tertutup untuk menerima cahaya Islam yang terang benderang. Kini dalam saat orang bersiap-siap akan maju ke medan perang, dia segera menemui Rasulullah s.a.w. , menyatakan dirinya akan masuk Islam malah akan ikut berperang bersama angkatan perang di bawah pimpinan Rasulullah s.a.w. . Pedangnya yang tajam ikut dibawanya.
Rasulullah s.a.w. menyambut kedatangan Amar dengan sangat gembira, tambah pula rela akan maju bersama Nabi Muhammad s.a.w.. Tetapi orang ramai tidak mengetahui peristiwa aneh ini, kerana masing-masing sibuk menyiapkan bekalan peperangan. Di kalangan kaumnya juga tidak ramai mengetahui keIslamannya. Bagaimana Amar maju sebagai mujahid di medan peperangan. Dalam perang Uhud yang hebat itu Amar memperlihatkan keberaniannya yang luar biasa. Malah berkali-kali pedang musuh mengenai dirinya, tidak dipedulikannya. Bahkan dia terus maju sampai saatnya dia jatuh pengsan.
"Untuk apa ikut ke mari ya Amar?" Demikian tanya orang yang hairan melihatnya, sebab sangka mereka dia masih musyrik. Mereka kira Amar ini masih belum Islam lalau mengikut sahaja pada orang ramai. Dalam keadaan antara hidup dan mati itu Amar lalu berkata, "Aku sudah beriman kepada Allah s.w.t. dan Rasul-Nya, lalu aku siapkan pedangku dan maju ke medan perang. Allah s.w.t. akan memberikan syahidah padaku dalam waktu yang tidak lama lagi." Amar meninggal. Rohnya mengadap ke hadrat Illahi sebagai pahlawan syahid. Waktu hal ini diketahui Rasulullah s.a.w. , maka Baginda s.a.w. pun bersabda,: "Amar itu nanti akan berada dalam syurga nantinya." Dan kaum Muslimin pun mengetahui akhir hayat Amar dengan penuh takjub, sebab di luar dugaan mereka. Malah Abu Hurairah r.a sahabat yang banyak mengetahui hadith Rasulullah s.a.w. berkata kaum Muslimin, "Cuba kamu kemukakan kepadaku seorang yang masuk syurga sedang dia tidak pernah bersyarat sekalipun juga terhadap Allah s.w.t.."
"Jika kamu tidak tahu orangnya." Kata Abu Hurairah r.a lagi, lalu ia pun menyambung, ujarnya, "Maka baiklah aku beritahukan, itulah dia Amar bin Thabit." Demikianlah kisah seorang yang ajaib, masuk syurga demikian indahnya. Ia tidak pernah solat, puasa dan lain-lainnya seperti para sahabat yang lain, sebab dia belum memeluk Islam. Tiba-tiba melihat persiapan yang hebat itu, hatinya tergerak memeluk Islam sehingga ia menemui Rasulullah s.a.w.. Ia menjadi Muslim, lalu maju ke medan perang, sebagai mujahid yang berani. Akhirnya tewas dia dengan mendapat syahadah iaitu pengakuan sebagai orang yang syahid. Mati membela agama Allah s.w.t. di medan perang. Maka syurgalah tempat bagi orang yang memiliki julukan syahid. Rasulullah s.a.w. menjamin syurga bagi orang seperti Amar ini.
NAMA-NAMA SYURGA DAN NERAKA
Tingkatan dan nama-nama syurga ialah :-
1. Firdaus
2. Syurga 'Adn
3. Syurga Na'iim
4. Syurga Na'wa
5. Syurga Darussalaam
6. Daarul Muaqaamah
7. Al-Muqqamul Amin
8. Syurga Khuldi
Sedangkan tingkatan dan nama-nama neraka adalah :-
1. Neraka Jahannam
2. Neraka Jahiim
3. Neraka Hawiyah
4. Neraka Wail
5. Neraka Sa'iir
6. Neraka Ladhaa
7. Neraka Saqar
8. Neraka Hutomah
MENAHAN LAPAR SEMALAMAN KERANA MENGHORMATI TETAMU
Seorang telah datang menemui Rasulullah s.a.w. dan telah menceritakan kepada Baginda s.a.w. tentang kelaparan yang dialami olehnya. Kebetulan pada ketika itu Baginda s.a.w. tidak mempunyai suatu apa makanan pun pada diri Baginda s.a.w. mahupun di rumahnya sendiri untuk diberikan kepada orang itu. Baginda s.a.w. kemudian bertanya kepada para sahabat,"Adakah sesiapa di antara kamu yang sanggup melayani orang ini sebagai tetamunya pada malam ini bagi pihak aku?" Seorang dari kaum Ansar telah menyahut, "Wahai Rasulullah s.a.w. , saya sanggiup melakukan seperti kehendak tuan itu."
Orang Ansar itu pun telah membawa orang tadi ke rumahnya dan menerangkan pula kepada isterinya seraya berkata, "Lihatlah bahawa orang ini ialah tetamu Rasulullah s.a.w. Kita mesti melayaninya dengan sebaik-baik layanan mengikut segala kesanggupan yang ada pada diri kita dan semasa melakukan demikian janganlah kita tinggalkan sesuatu makanan pun yang ada di rumah kita." Lalu isterinya menjawab, "Demi Allah! Sebenarnya daku tidak ada menyimpan sebarang makanan pun, yang ada cuma sedikit, itu hanya mencukupi untuk makanan anak-anak kita di rumah ini ?"
Orang Ansar itu pun berkata, "Kalau begitu engkau tidurkanlah mereka dahulu (anak-anaknya) tanpa memberi makanan kepada mereka. Apabila saya duduk berbual-bual dengan tetamu ini di samping jamuan makan yang sedikit ini, dan apabila kami mulai makan engkau padamlah lampu itu, sambil berpura-pura hendak membetulkannya kembali supaya tetamu itu tidakk akan ketahui bahawa saya tidak makan bersama-samanya." Rancangan itu telah berjalan dengan lancarnya dan seluruh keluarga tersebut termasuk kanak-kanak itu sendiri terpaksa menahan lapar semata-mata untuk membolehkan tetamu itu makan sehingga berasa kenyang. Berikutan dengan peristiwa itu, Allah s.w.t. telah berfirman yang bermaksud, "Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka berada dalam kesusahan." (Al-Hasy : 9)
GUNUNG MENANGIS TAKUT TERGOLONG BATU API NERAKA
Pada suatu hari Uqa'il bin Abi Thalib telah pergi bersama-sama dengan Nabi Muhammad s.a.w.. Pada waktu itu Uqa'il telah melihat berita ajaib yang menjadikan tetapi hatinya tetap bertambah kuat di dalam Islam dengan sebab tiga perkara tersebut. Peristiwa pertama adalah, bahawa Nabi Muhammad s.a.w. akan mendatangi hajat yakni mebuang air besar dan di hadapannya terdapat beberapa batang pohon. Maka Baginda s.a.w. berkata kepada Uqa'il, "Hai Uqa'il teruslah engkau berjalan sampai ke pohon itu, dan katalah kepadanya, bahawa sesungguhnya Rasulullah berkata; "Agar kamu semua datang kepadanya untuk menjadi aling-aling atau penutup baginya, kerana sesungguhnya Baginda akan mengambil air wuduk dan buang air besar."
Uqa'il pun keluar dan pergi mendapatkan pohon-pohon itu dan sebelum dia menyelesaikan tugas itu ternyata pohon-pohon sudah tumbang dari akarnya serta sudah mengelilingi di sekitar Baginda s.a.w. selesai dari hajatnya. Maka Uqa'il kembali ke tempat pohon-pohon itu.
Peristiwa kedua adalah, bahawa Uqa'il berasa haus dan setelah mencari air ke mana pun jua namun tidak ditemui. Maka Baginda s.a.w. berkata kepada Uqa'il bin Abi Thalib, "Hai Uqa'il, dakilah gunung itu, dan sampaikanlah salamku kepadanya serta katakan, "Jika padamu ada air, berilah aku minum!"
Uqa'il lalu pergilah mendaki gunung itu dan berkata kepadanya sebagaimana yang telah disabdakan Baginda s.a.w. itu. Maka sebelum ia selesai berkata, gunung itu berkata dengan fasihnya, "Katakanlah kepada Rasulullah, bahawa aku sejak Allah s.w.t. menurunkan ayat yang bermaksud : ("Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu beserta keluargamu dari (seksa) api neraka yang umpannya dari manusia dan batu)." "Aku menangis dari sebab takut kalau aku menjadi batu itu maka tidak ada lagi air padaku."
Peristiwa yang ketiga ialah, bahawa ketika Uqa'il sedang berjalan dengan Nabi Muhammad s.a.w., tiba-tiba ada seekor unta yang meloncat dan lari ke hadapan Rasulullah s.a.w., maka unta itu lalu berkata, "Ya Rasulullah, aku minta perlindungan darimu." Unta masih belum selesai mengadukan halnya, tiba-tiba datanglah dari belakang seorang Arab kampung dengan membawa pedang terhunus. Melihat orang Arab kampung dengan membawa pedang terhunus, Nabi Muhammad s.a.w. berkata, "Hendak apakah kamu terhadap unta itu ?"
Jawab orang kampungan itu, "Wahai Rasulullah, aku telah membelinya dengan harta yang mahal, tetapi dia tidak mahu taat atau tidak mau jinak, maka akan kupotong saja dan akan kumanfaatkan dagingnya (kuberikan kepada orang-orang yang memerlukan)." Nabi Muhammad s.a.w. bertanya, "Mengapa engkau menderhakai dia?" Jawab unta itu, "Wahai Rasulullah, sungguh aku tidak menderhakainya dari satu pekerjaan, akan tetapi aku menderhakainya dari sebab perbuatannya yang buruk. Kerana kabilah yang dia termasuk di dalam golongannya, sama tidur meninggalkan solat Isya'. Kalau sekiranya dia mahu berjanji kepada engkau akan mengerjakan solat Isay' itu, maka aku berjanji tidak akan menderhakainya lagi. Sebab aku takut kalau Allah s.w.t. menurunkan seksa-Nya kepada mereka sedang aku berada di antara mereka."
Akhirnya Nabi Muhammad s.a.w. mengambil perjanjian orang Arab kampung itu, bahawa dia tidak akan meninggalkan solat Isya'. Dan Baginda Nabi Muhammad s.a.w. menyerahan unta itu kepadanya. Dan dia pun kembali kepada keluarganya.
NIAT TAUBAT MENUKAR ARAK MENJADI MADU
Pada suatu hari, Omar Al-Khatab sedang bersiar-siar di lorong-lorong dalam kota Madinah. Di hujung simpang jalan beliau terserempak dengan pemuda yang membawa kendi. Pemuda itu menyembunyikan kendi itu di dalam kain sarung yang diselimutkan di belakangnya. Timbul syak di hati Omar AL-Khatab apabila terlihat keadaan itu, lantas bertanya, "Apa yang engkau bawa itu?" Kerana panik sebab takut dimarahi Omar yang terkenal dengan ketegasan, pemuda itu menjawab dengan terketar-ketar iaitu benda yang dibawanya ialah madu. Walhal benda itu ialah khamar. Dalam keadaannya yang bercakap bohong itu pemuda tadi sebenarnya ingin berhenti dari terus minum arak. Dia sesungguhnya telah menyesal dan insaf dan menyesal melakukan perbuatan yang ditegah oleh agama itu. Dalam penyesalan itu dia berdoa kepada Tuhan supaya Omar Al-Khatab tidak sampai memeriksa isi kendinya yang ditegah oleh agama itu.
Pemuda itu masih menunggu sebarang kata-kata Khalifah, "Kendi ini berisikan madu." Kerana tidak percaya, Khalifah Omar ingin melihat sendiri isi kendi itu. Rupanya doa pemuda itu telah dimakbulkan oleh Allah s.w.t. seketika itu juga telah menukarkan isi kendi itu kepada madu. Begitu dia berniat untuk bertaubat, dan Tuhan memberikan hidayah, sehingga niatnya yang ikhlas, ia terhindar dari pergolakan Khalifah Omar Al-Khatab, yang mungkin membahayakan pada dirinya sendiri kalau kendi itu masih berisi khamar.
Allah Taala berfirman:, "Seteguk khamar diminum maka tidak diterima Allah amal fardhu dan sunatnya selama tiga hari. Dan sesiapa yang minum khamar segelas, maka Allah Taala tidak menerima solatnya selama empat puluh hari. Dan orang yang tetap minum khamar, maka selayaknya Allah memberinya dari 'Nahrul Khabal'.
Ketika ditanya, "Ya Rasulullah, apakah Nahrul Khabal itu ?" Jawab Rasulullah s.a.w., "Darah bercampur nanah orang ahli neraka ! "
RASULULLAH S.A.W. DAN PENGEMIS YAHUDI BUTA
Di sudut pasar Madinah Al-Munawarah seorang pengemis Yahudi buta hari demi hari apabila ada orang yang mendekatinya ia selalu berkata "Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya". Setiap pagi Rasulullah s.a.w. mendatanginya dengan membawa makanan, dan tanpa berkata sepatah kata pun Rasulullah s.a.w. menyuap makanan yang dibawanya kepada pengemis itu walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Rasulullah s.a.w melakukannya hingga menjelang Nabi Muhammad s.a.w. wafat. Setelah kewafatan Rasulullah s.a.w. tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu.
Suatu hari Abubakar r.a berkunjung ke rumah anaknya Aisyah r.ha. Beliau bertanya kepada anaknya, "Anakku adakah sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan", Aisyah r.ha menjawab pertanyaan ayahnya, "Wahai ayah engkau adalah seorang ahli sunnah hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayah lakukan kecuali satu sunnah saja". "Apakah itu?", tanya Abubakar r.a. Setiap pagi Rasulullah s.a.w. selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana", kata Aisyah r.ha.
Ke esokan harinya Abubakar r.a. pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis itu. Abubakar r.a mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepada nya. Ketika Abubakar r.a. mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak, "Siapakah kamu ?". Abubakar r.a menjawab, "Aku orang yang biasa". "Bukan !, engkau bukan orang yang biasa mendatangiku", jawab si pengemis buta itu. Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya setelah itu ia berikan pada ku dengan mulutnya sendiri", pengemis itu melanjutkan perkataannya.
Abubakar r.a. tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, aku memang bukan orang yang biasa datang pada mu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah s.a.w. Setelah pengemis itu mendengar cerita Abubakar r.a. ia pun menangis dan kemudian berkata, benarkah demikian?, selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia.... Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat dihadapan Abubakar r.a.
RASULULLAH S.A.W. MENDATANGI KAFILAH DAGANG
Dari kejauhan gumpalan debu padang pasir membumbung ke langit. Debu-debu yang berterbangan itu dapat terlihat dari kejauhan bertanda ada satu rombongan kafilahÏ akan datang mendekati kota Mekkah. Rasulullah s.a.w. melihat gumpalan debu dari kejauhan itu segera pulang ke rumah. Nabi Muhammad s.a.w. langsung menyiapkan perbekalan dan membungkusnya. Setelah itu Rasulullah s.a.w. menunggu di pintu gerbang kota Mekkah. Kafilah itu rupanya tidak memasuki kota Mekkah mereka hendak menuju tempat lain. Rasulullah s.a.w. mendekati kafilah itu dan mencari pimpinan rombongan kafilah tersebut. Setelah berjumpa dengan pemimpin kafilah itu Rasulullah s.a.w. meminta izin untuk dapat ikut serta di dalam rombongan tersebut. Beliau, Rasulullah s.a.w. telah diizinkan. Rasulullah s.a.w. mulailah berdakwah kepada mereka, kepada setiap orang dalam rombongan itu Rasulullah s.a.w. telah sampaikan kebesaran Allah s.w.t. dan mengajak mereka untuk menerima Islam. Setelah semua orang mendapat penjelasan dari Rasulullah s.a.w. , Rasulullah s.a.w. pun meminta izin kepada pimpinan rombongan untuk pulang kembali ke Mekkah. Rasulullah s.a.w. kembali ke kota Mekkah dengan berjalan kaki sedangkan kafilah tersebut telah melalui kota Mekkah sejauh satu hari satu malam perjalanan. Rasulullah s.a.w. hanya inginkan setiap orang memiliki kalimah Laalilaahaillallaah dan selamat dari adzab yang pedih kelak di akhirat.
BIDADARI UNTUK UMAR R.A.
Umar r.a. adalah salah satu dari sahabat Rasulullah s.a.w. Semenjak ia memeluk Islam kaum muslimin seakan memperoleh suatu kekuatan yang sangat besar. Sejak itulah mereka berani solat dan tawaf dikaabah secara terang-terangan. Umar r.a. adalah seorang yang wara, ia sangat teliti dalam mengamalkan Islam. Umar r.a. mempelajari surah Al-Baqoroh selama 10 tahun, ia kemudian melapor kepada Rasulullah s.a.w. , "Wahai Rasulullah s.a.w. apakah kehidupanku telah mencerminkan surah Al-Baqoroh, apabila belum maka aku tidak akan melanjutkan ke surah berikutnya".Rasulullah s.a.w. menjawab, "Sudah..."!. Umar r.a. mengamalkan agama sesuai dengan kehendak Allah s.w.t. Kerana kesungguhannya inilah maka banyak ayat di Al-Quran yang diturunkan Allah s.w.t. berdasarkan kehendak yang ada pada hatinya, seperti mengenai pengharaman arak, ayat mengenai hijab, dan beberapa ayat Al-Quran lainnya.
Rasulullah s.a.w. seringkali menceritakan kepada para sahabatnya mengenai perjalannya mi'raj menghadap Allah s.w.t. Rasulullah s.a.w. sering pula menceritakan bagaimana keadaan surga yang dijanjikan Allah s.w.t. kepada sahabat-sahabatnya. Suatu hari ketika Rasulullah s.a.w. dimi'rajkan menghadap Allah s.w.t. malaikat Jibril a.s. memperlihatkan kepada Rasulullah s.a.w. taman-taman surga. Rasulullah s.a.w. melihat ada sekumpulan bidadari yang sedang bercengkrama. Ada seorang bidadari yang begitu berbeda dari yang lainnya. Bidadari itu menyendiri dan tampak sangat pemalu. Rasulullah s.a.w. bertanya kepada Jibril a.s., "Wahai Jibril, bidadari siapakah itu"?. Malaikat Jibril a.s. menjawab, "Bidadari itu adalah diperuntukkan bagi sahabatmu Umar r.a.". Pernah suatu hari ia membayangkan tentang surga yang engkau ceritakan keindahannya. Ia menginginkan untuknya seorang bidadari yang berbeda dari bidadari yang lainnya. Bidadari yang diinginkannya itu berkulit hitam manis, dahinya tinggi, bagian atas matanya berwarna merah, dan bagian bawah matanya berwarna biru serta memiliki sifat yang sangat pemalu. Kerana sahabat-mu itu selalu memenuhi kehendak Allah s.w.t. maka saat itu juga Allah s.w.t. menjadikan seorang bidadari untuknya sesuai dengan apa yang dikehendaki hatinya".
Nabi Sulaiman a.s. dan Seekor Semut
Kerajaan Nabi Sulaiman a.s. dikala itu sedang mengalami musim kering yang begitu panjang. Lama sudah hujan tidak turun membasahi bumi. Kekeringan melanda di mana-mana. Baginda Sulaiman a.s. mulai didatangi oleh ummatnya untuk dimintai pertolongan dan memintanya memohon kepada Allah s.w.t. agar menurunkan hujan untuk membasahi kebun-kebun dan sungai-sungai mereka. Baginda Sulaiman a.s. kemudian memerintahkan satu rombongan besar pengikutnya yang terdiri dari bangsa jin dan manusia berkumpul di lapangan untuk berdo'a memohon kepada Allah s.w.t. agar musim kering segera berakhir dan hujan segera turun.
Sesampainya mereka di lapangan Baginda Sulaiman a.s. melihat seekor semut kecil berada di atas sebuah batu. Semut itu berbaring kepanasan dan kehausan. Baginda Sulaiman a.s. kemudian mendengar sang semut mulai berdoa memohon kepada Allah s.w.t. penunai segala hajat seluruh makhluk-Nya. "Ya Allah pemilik segala khazanah, aku berhajat sepenuhnya kepada-Mu, Aku berhajat akan air-Mu, tanpa air-Mu ya Allah aku akan kehausan dan kami semua kekeringan. Ya Allah aku berhajat sepenuhnya pada-Mu akan air-Mu, kabulkanlah permohonanku", do'a sang semut kepada Allah s.w.t. Mendengar doa si semut maka Baginda Sulaiman a.s.kemudian segera memerintahkan rombongannya untuk kembali pulang ke kerajaan sambil berkata pada mereka, "Kita segera pulang, sebentar lagi Allah s.w.t. akan menurunkan hujan-Nya kepada kalian. Allah s.w.t. telah mengabulkan permohonan seekor semut". Kemudian Baginda Sulaiman dan rombongannya pulang kembali ke kerajaan.
Suatu hari Baginda Sulaiman a.s. sedang berjalan-jalan. Ia melihat seekor semut sedang berjalan sambil mengangkat sebutir buah kurma. Baginda Sulaiman a.s terus mengamatinya, kemudian beliau memanggil si semut dan menanyainya: "Hai semut kecil untuk apa kurma yang kau bawa itu?. Si semut menjawab, Ini adalah kurma yang Allah s.w.t. berikan kepada ku sebagai makananku selama satu tahun. Baginda Sulaiman a.s. kemudian mengambil sebuah botol lalu ia berkata kepada si semut, "Wahai semut kemarilah engkau, masuklah ke dalam botol ini aku telah membagi dua kurma ini dan akan aku berikan separuhnya padamu sebagai makananmu selama satu tahun. Tahun depan aku akan datang lagi untuk melihat keadaanmu". Si semut taat pada perintah Nabi Sulaiman a.s.. Setahun telah berlalu. Baginda Sulaiman a.s. datang melihat keadaan si semut. Ia melihat kurma yang diberikan kepada si semut itu tidak banyak berkurang. Baginda Sulaiman a.s. bertanya kepada si semut, "Hai semut mengapa engkau tidak menghabiskan kurmamu" "Wahai Nabiullah, aku selama ini hanya menghisap airnya dan aku banyak berpuasa. Selama ini Allah s.w.t. yang memberikan kepadaku sebutir kurma setiap tahunnya, akan tetapi kali ini engkau memberiku separuh buah kurma. Aku takut tahun depan engkau tidak memberiku kurma lagi kerana engkau bukan Allah Pemberi Rizki (Ar-Rozak), jawab si semut.
PERMOHONAN SIKAYA DAN SIMISKIN
Nabi Musa a.s. memiliki ummat yang jumlahnya sangat banyak dan umur mereka panjang-panjang. Mereka ada yang kaya dan juga ada yang miskin. Suatu hari ada seorang yang miskin datang menghadap Nabi Musa a.s.. Ia begitu miskinnya pakaiannya compang-camping dan sangat lusuh berdebu. Si miskin itu kemudian berkata kepada Baginda Musa a.s., "Ya Nabiullah, Kalamullah, tolong sampaikan kepada Allah s.w.t. permohonanku ini agar Allah s.w.t. menjadikan aku orang yang kaya." Nabi Musa a.s. tersenyum dan berkata kepada orang itu, "Saudaraku, banyak-banyaklah kamu bersyukur kepada Allah s.w.t.". Si miskin itu agak terkejut dan kesal, lalu ia berkata, "Bagaimana aku mau banyak bersyukur, aku makan pun jarang, dan pakaian yang aku gunakan pun hanya satu lembar ini saja"!. Akhirnya si miskin itu pulang tanpa mendapatkan apa yang diinginkannya. Beberapa waktu kemudian seorang kaya datang menghadap Nabi Musa a.s.. Orang tersebut bersih badannya juga rapi pakaiannya. Ia berkata kepada Nabi Musa a.s., "Wahai Nabiullah, tolong sampaikan kepada Allah s.w.t. permohonanku ini agar dijadikannya aku ini seorang yang miskin, terkadang aku merasa terganggu dengan hartaku itu." Nabi Musa a.s.pun tersenyum, lalu ia berkata, "Wahai saudaraku, janganlah kamu bersyukur kepada Allah s.w.t.". "Ya Nabiullah, bagaimana aku tidak bersyukur kepada Allah s.w.t.?. Allah s.w.t. telah memberiku mata yang dengannya aku dapat melihat. telinga yang dengannya aku dapat mendengar. Allah s.w.t. telah memberiku tangan yang dengannya aku dapat bekerja dan telah memberiku kaki yang dengannya aku dapat berjalan, bagaimana mungkin aku tidak mensyukurinya", jawab si kaya itu. Akhirnya si kaya itu pun pulang ke rumahnya. Kemudian terjadi adalah si kaya itu semakin Allah s.w.t. tambah kekayaannya kerana ia selalu bersyukur. Dan si miskin menjadi bertambah miskin. Allah s.w.t. mengambil semua kenikmatan-Nya sehingga si miskin itu tidak memiliki selembar pakaianpun yang melekat di tubuhnya. Ini semua kerana ia tidak mau bersyukur kepada Allah s.w.t.
KAMBING DAN ALAT TENUN
Imam Ahmad telah memberitakan dari Humaid bin Hilal, dia berkata: "Ada seorang lelaki yang sering berulang-alik di kampung kami, lalu dia membawa cerita yang aneh-aneh kepada orang-orang kampung. Dia bercerita: "Suatu ketika aku datang ke Madinah dalam rombongan dagang, lalu aku menjual semua barang-barang yang aku bawa. Aku berkata kepada diriku: "Mengapa aku tidak pergi kepada orang lelaki yang membawa ajaran baru itu, barangkali aku dapat mendengar berita-berita yang aneh untuk aku bawa kembali bersamaku?! Aku pun pergi kepada Rasulullah s.a.w. untuk bertanya sesuatu, lalu Rasulullah s.a.w. menunjuki arah sebuah rumah, katanya: "Ada seorang wanita yang tinggal di rumah itu . Pernah dia mengikut tentera Islam berjihad, dan ditinggalkannya 12 ekor kambingnya dan sebuah alat tenunan yang digunakannya untuk menenun pakaian. Apabila dia kembali dari berjihad, didapati kambingnya hilang seekor, dan alat tenunannya pun hilang. Dia merasa sedih atas kehilangannya itu. Maka dia pun mengangkat kedua belah tangan berdoa kepada Tuhannya dengan penuh kesungguhan, katanya:
"Ya Tuhanku! Engkau telah berikan jaminan bahwa siapa yang keluar berjihad pada jalanmu, Engkau akan pelihara harta bendanya, dan sekarang aku telah kehilangan seekor kambing, dan alat tenunanku. jadi aku minta ganti kambing yang hilang dan alat tenunanku itu!"
Rasulullah s.a.w. terus menceritakan betapa sungguh-sungguhnya dia berdoa dan memohon kepada Tuhannya, sehingga pada esok harinya dia mendapati di pintu rumahnya kambingnya yang hilang itu dengan seekor kambing lagi bersamanya. Begitu juga dia melihat alat tenunannya ada di situ dengan satu alat tenun yang lain. Itulah ceritanya, kata Rasulullah s.a.w. dan jika engkau mau, pergilah kepadanya di rumah itu, dan tanyalah dia cerita itu! "Tidak", jawabku, "Akan tetapi aku percaya semua yang engkau katakan itu!"
(Majma'uz-Zawaid 5:277)
KEBERANIAN SAAD BIN ABU WAQQASH R.A.
Ibnu Asakir telah mengeluarkan dari Az-Zuhri dia telah berkata: Pada suatu hari Rasulullah s.a.w. telah mengutus Sa'ad bin Abu Waqqash ra. untuk mengetuai suatu pasukan ke suatu tempat di negeri Hijaz yang dikenal dengan nama Rabigh. Mereka telah diserang dari belakang oleh kaum Musyrikin, maka Sa'ad bin Abu Waqqash ra. mengeluarkan panah-panahnya serta memanah mereka dengan panah-panah itu. Dengan itu, maka Sa'ad bin Abu Waqqash ra. menjadi orang pertama yang memanah di dalam Islam, dan peristiwa itu pula menjadi perang yang pertama terjadi di dalam Islam. (Al-Muntakhab 5:72)
Ibnu Asakir mengeluarkan dari Ibnu Syihab, dia berkata: "Pada hari pertempuran di Uhud Sa'ad bin Abu Waqqash ra. telah membunuh tiga orang Musyrikin dengan sebatang anak panah. Dipanahnya seorang, lalu diambilnya lagi panah itu, kemudian dipanahnya orang yang kedua dan seterusnya orang yang ketiga dengan panah yang sama. Ramai para sahabat merasa heran tentang keberanian Sa'ad itu. Maka Sa'ad berkata: "Rasulullah s.a.w. yang telah memberikanku keberanian itu, sehingga aku menjadi begitu berani sekali". (Al-Muntakhab 5:72)
Bazzar telah mengeluarkan dari Abdullah bin Mas'ud ra. dia berkata: "Pada hari pertempuran di Badar, Sa'ad bin Abu Waqqash ra. telah menyerang musuh dengan berkuda dan dengan berjalan kaki". (Majma'uz Zawa'id 6:82)
BERTANI DISYURGA
Pada suatu hari Rasulullah s.a.w. berbicara dengan seorang lelaki dari desa. Rasulullah s.a.w. menceritakan bahawa ada seorang lelaki penghuni syurga meminta kepada Allah s.w.t. untuk bercocok tanam, kemudian Allah s.w.t. bertanya kepadanya bukankah Allah s.w.t. telah berikan semua perkara yang dia perlukan? Lelaki itu mengakui, tetapi dia suka bercocok tanam. Lalu dia menabur biji benih. Tanaman itu langsung tumbuh. Kesemuanya sama. Setelah itu dia menuainya. Hasilnya dapat setinggi gunung. Allah s.w.t. berfirman kepadanya, "Wahai anak Adam, ia tidak mengenyangkan perut kamu".
"Demi Allah, orang itu adalah orang Quraisy atau pun Anshar kerana mereka dari golongan petani. Kami bukan dari golongan petani", kata orang Badui itu. Rasulullah s.a.w. tertawa mendengar kata-kata orang Badui itu.
WAHYU TERAKHIR KEPADA RASULULLAH SAW
Diriwayatkan bahawa surah Al-Maaidah ayat 3 diturunkan pada sesudah waktu asar yaitu pada hari Jumaat di padang Arafah pada musim haji penghabisan [Wada']. Pada masa itu Rasulullah s.a.w. berada di Arafah di atas unta. Ketika ayat ini turun Rasulullah s.a.w. tidak begitu jelas penerimaannya untuk mengingati isi dan makna yang terkandung dalam ayat tersebut. Kemudian Rasulullah s.a.w. bersandar pada unta beliau, dan unta beliau pun duduk perlahan-lahan. Setelah itu turun malaikat Jibril a.s. dan berkata:
"Wahai Muhammad, sesungguhnya pada hari ini telah disempurnakan urusan agamamu, maka terputuslah apa yang diperintahkan oleh Allah s.w.t. dan demikian juga apa yang terlarang olehnya. Oleh itu kamu kumpulkan para sahabatmu dan beritahu kepada mereka bahawa hari ini adalah hari terakhir aku bertemu dengan kamu."
Setelah Malaikat Jibril a.s. pergi maka Rasulullah s.a.w. pun berangkat ke Mekah dan terus pergi ke Madinah. Setelah Rasulullah s.a.w. mengumpulkan para sahabat beliau, maka Rasulullah s.a.w. pun menceritakan apa yang telah diberitahu oleh malaikat Jibril a.s.. Apabila para sahabat mendengar hal yang demikian maka mereka pun gembira sambil berkata: "Agama kita telah sempurna. Agama kila telah sempurna."
Apabila Abu Bakar ra. mendengar keterangan Rasulullah s.a.w. itu, maka ia tidak dapat menahan kesedihannya maka ia pun kembali ke rumah lalu mengunci pintu dan menangis sekuat-kuatnya. Abu Bakar ra. menangis dari pagi hingga ke malam. Kisah tentang Abu Bakar ra. menangis telah sampai kepada para sahabat yang lain, maka berkumpullah para sahabat di depan rumah Abu Bakar ra. dan mereka berkata: "Wahai Abu Bakar, apakah yang telah membuat kamu menangis sehingga begini sekali keadaanmu? Seharusnya kamu merasa gembira sebab agama kita telah sempuma." Mendengarkan pertanyaan dari para sahabat maka Abu Bakar ra. pun berkata, "Wahai para sahabatku, kamu semua tidak tahu tentang musibah yang menimpa kamu, tidakkah kamu tahu bahawa apabila sesualu perkara itu telah sempuma maka akan kelihatanlah akan kekurangannya. Dengan turunnya ayat tersebut bahawa ia menunjukkan perpisahan kita dengan Rasulullah s.a.w.. Hasan dan Husin menjadi yatim dan para isteri nabi menjadi janda."
Selelah mereka mendengar penjelasan dari Abu Bakar ra. maka sadarlah mereka akan kebenaran kata-kata Abu Bakar ra., lalu mereka menangis dengan sekuat-kuatnya. Tangisan mereka telah didengar oleh para sahabat yang lain, maka mereka pun terus memberitahu Rasulullah s.a.w. tentang apa yang mereka lihat itu. Berkata salah seorang dari para sahabat, "Ya Rasulullah s.a.w., kami baru kembali dari rumah Abu Bakar ra. dan kami dapati banyak orang menangis dengan suara yang kuat di depan rumah beliau." Apabila Rasulullah s.a.w. mendengar keterangan dari para sahabat, maka berubahlah muka Rasulullah s.a.w. dan dengan bergegas beliau menuju ke rumah Abu Bakar ra.. Setelah Rasulullah s.a.w. sampai di rumah Abu Bakar ra. maka Rasulullah s.a.w. melihat kesemua mereka yang menangis dan bertanya, "Wahai para sahabatku, kenapakah kamu semua menangis?." Kemudian Ali ra. berkata, "YaRasulullah s.a.w., Abu Bakar ra. mengatakan dengan turunnya ayat ini membawa tanda bahwa waktu wafatmu telah dekat. Adakah ini benar ya Rasulullah?." Lalu Rasulullah s.a.w. berkata: "Semua yang dikatakan oleh Abu Bakar ra. adalah benar, dan sesungguhnya waktu untuk aku meninggalkan kamu semua telah dekat".
Setelah Abu Bakar ra. mendengar pengakuan Rasulullah s.a.w., maka ia pun menangis sekuat tenaganya sehingga ia jatuh pingsan. Sementara 'Ukasyah ra. berkata kepada Rasulullah s.a.w., 'Ya Rasulullah, waktu itu saya anda pukul pada tulang rusuk saya. Oleh itu saya hendak tahu apakah anda sengaja memukul saya atau hendak memukul unta baginda." Rasulullah s.a.w. berkata: "Wahai 'Ukasyah, Rasulullah s.a.w. sengaja memukul kamu." Kemudian Rasulullah s.a.w. berkata kepada Bilal ra., "Wahai Bilal, kamu pergi ke rumah Fathimah dan ambilkan tongkatku ke mari." Bilal keluar dari masjid menuju ke rumah Fathimah sambil meletakkan tangannya di atas kepala dengan berkata, "Rasulullah telah menyediakan dirinya untuk dibalas [diqishash]."
Setelah Bilal sampai di rumah Fathimah maka Bilal pun memberi salam dan mengetuk pintu. Kemudian Fathimah ra. menyahut dengan berkata: "Siapakah di pintu?." Lalu Bilal ra. berkata: "Saya Bilal, saya telah diperintahkan oleh Rasulullah s.a.w. untuk mengambil tongkat beliau. "Kemudian Fathimah ra. berkata: "Wahai Bilal, untuk apa ayahku minta tongkatnya." Berkata Bilal ra.: "Wahai Fathimah, Rasulullah s.a.w.telah menyediakan dirinya untuk diqishash." Bertanya Fathimah ra. lagi: "Wahai Bilal, siapakah manusia yang sampai hatinya untuk menqishash Rasulullah s.a.w.?" Bilal ra. tidak menjawab pertanyaan Fathimah ra., Setelah Fathimah ra. memberikan tongkat tersebut, maka Bilal pun membawa tongkat itu kepada Rasulullah s.a.w. Setelah Rasulullah s.a.w. menerima tongkat tersebut dari Bilal ra. maka beliau pun menyerahkan kepada 'Ukasyah.
Melihatkan hal yang demikian maka Abu Bakar ra. dan Umar ra. tampil ke depan sambil berkata: "Wahai 'Ukasyah, janganlah kamu qishash Rasulullah s.a.w. tetapi kamu qishashlah kami berdua." Apabila Rasulullah s.a.w. mendengar kata-kata Abu Bakar ra. dan Umar ra. maka dengan segera beliau berkata: "Wahai Abu Bakar, Umar duduklah kamu berdua, sesungguhnya Allah s.w.t.telah menetapkan tempatnya untuk kamu berdua." Kemudian Ali ra. bangun, lalu berkata, "Wahai 'Ukasyah! Aku adalah orang yang senantiasa berada di samping Rasulullah s.a.w. oleh itu kamu pukullah aku dan janganlah kamu menqishash Rasulullah s.a.w." Lalu Rasulullah s.a.w. berkata, "Wahai Ali duduklah kamu, sesungguhnya Allah s.w.t. telah menetapkan tempatmu dan mengetahui isi hatimu." Setelah itu Hasan dan Husin bangun dengan berkata: "Wahai 'Ukasyah, bukankah kamu tidak tahu bahwa kami ini adalah cucu Rasulullah s.a.w., kalau kamu menqishash kami sama dengan kamu menqishash Rasulullah s.a.w." Mendengar kata-kata cucunya Rasulullah s.a.w. pun berkata, "Wahai buah hatiku duduklah kamu berdua." Berkata Rasulullah s.a.w. "Wahai 'Ukasyah pukullah saya kalau kamu hendak memukul."
Kemudian 'Ukasyah berkata: "Ya Rasulullah s.a.w., anda telah memukul saya sewaktu saya tidak memakai baju." Maka Rasulullah s.a.w. pun membuka baju. Setelah Rasulullah s.a.w. membuka baju maka menangislah semua yang hadir. Setelah 'Ukasyah melihat tubuh Rasulullah s.a.w. maka ia pun mencium beliau dan berkata, "Saya tebus anda dengan jiwa saya ya Rasulullah s.a.w., siapakah yang sanggup memukul anda. Saya melakukan begini adalah sebab saya ingin menyentuh badan anda yang dimuliakan oleh Allah s.w.t. dengan badan saya. Dan Allah s.w.t. menjaga saya dari neraka dengan kehormatanmu" Kemudian Rasulullah s.a.w. berkata, "Dengarlah kamu sekalian, sekiranya kamu hendak melihat ahli syurga, inilah orangnya." Kemudian semua para jemaah bersalam-salaman atas kegembiraan mereka terhadap peristiwa yang sangat genting itu. Setelah itu para jemaah pun berkata, "Wahai 'Ukasyah, inilah keuntungan yang paling besar bagimu, engkau telah memperolehi darjat yang tinggi dan bertemankan Rasulullah s.a.w. di dalam syurga."
Apabila ajal Rasulullah s.a.w. makin dekat maka beliau pun memanggil para sahabat ke rumah Aisyah ra. dan beliau berkata: "Selamat datang kamu semua semoga Allah s.w.t. mengasihi kamu semua, saya berwasiat kepada kamu semua agar kamu semua bertaqwa kepada Allah s.w.t. dan mentaati segala perintahnya. Sesungguhnya hari perpisahan antara saya dengan kamu semua hampir dekat, dan dekat pula saat kembalinya seorang hamba kepada Allah s.w.t. dan menempatkannya di syurga. Kalau telah sampai ajalku maka hendaklah Ali yang memandikanku, Fadhl bin Abbas hendaklah menuangkan air dan Usamah bin Zaid hendaklah menolong keduanya. Setelah itu kamu kafanilah aku dengan pakaianku sendiri apabila kamu semua menghendaki, atau kafanilah aku dengan kain Yaman yang putih. Apabila kamu memandikan aku, maka hendaklah kamu letakkan aku di atas balai tempat tidurku dalam rumahku ini. Setelah itu kamu semua keluarlah sebentar meninggalkan aku. Pertama yang akan mensolatkan aku ialah Allah s.w.t., kemudian yang akan mensolat aku ialah Jibril a.s., kemudian diikuti oleh malaikat Israfil, malaikat Mikail, dan yang akhir sekali malaikat lzrail berserta dengan semua para pembantunya. Setelah itu baru kamu semua masuk bergantian secara berkelompok bersolat ke atasku."
Setelah para sahabat mendengar ucapan yang sungguh menyayat hati itu maka mereka pun menangis dengan nada yang keras dan berkata, "Ya Rasulullah s.a.w. anda adalah seorang Rasul yang diutus kepada kami dan untuk semua, yang mana selama ini anda memberi kekuatan dalam penemuan kami dan sebagai penguasa yang menguruskan perkara kami. Apabila anda sudah tiada nanti kepada siapakah akan kami tanya setiap persoalan yang timbul nanti?." Kemudian Rasulullah s.a.w. berkata, "Dengarlah para sahabatku, aku tinggalkan kepada kamu semua jalan yang benar dan jalan yang terang, dan telah aku tinggalkan kepada kamu semua dua penasihat yang satu daripadanya pandai bicara dan yang satu lagi diam sahaja. Yang pandai bicara itu ialah Al-Quran dan yang diam itu ialah maut. Apabila ada sesuatu persoalan yang rumit di antara kamu, maka hendaklah kamu semua kembali kepada Al-Quran dan Hadis-ku dan sekiranya hati kamu itu berkeras maka lembutkan dia dengan mengambil pelajaran dari mati."
Setelah Rasulullah s.a.w. berkata demikian, maka sakit Rasulullah s.a.w. bermula. Dalam bulan safar Rasulullah s.a.w. sakit selama 18 hari dan sering diziaiahi oleh para sahabat. Dalam sebuah kitab diterangkan bahawa Rasulullah s.a.w. diutus pada hari Isnin dan wafat pada hari Isnin. Pada hari Isnin penyakit Rasulullah s.a.w. bertambah berat, setelah Bilal ra. menyelesaikan azan subuh, maka Bilal ra. pun pergi ke rumah Rasulullah s.a.w.. Sesampainya Bilal ra. di rumah Rasulullah s.a.w. maka Bilal ra. pun memberi salam, "Assalaarnualaika ya Rasulullah." Lalu dijawab oleh Fathimah ra., "Rasulullah s.a.w. masih sibuk dengan urusan beliau." Setelah Bilal ra. mendengar penjelasan dari Fathimah ra. maka Bilal ra. pun kembali ke masjid tanpa memahami kata-kata Fathimah ra. itu. Apabila waktu subuh hampir hendak lupus, lalu Bilal pergi sekali lagi ke rumah Rasulullah s.a.w. dan memberi salam seperti permulaan tadi, kali ini salam Bilal ra. telah di dengar oleh Rasulullah s.a.w. dan Rasulullah s.a.w. berkata, "Masuklah wahai Bilal, sesungguhnya penyakitku ini semakin berat, oleh itu kamu suruhlah Abu Bakar mengimamkan solat subuh berjemaah dengan mereka yang hadir." Setelah mendengar kata-kata Rasulullah s.a.w. maka Bilal ra. pun berjalan menuju ke masjid sambil meletakkan tangan di atas kepala dengan berkata: "Aduh musibah."
Setelah Bilal ra. sarnpai di masjid maka Bilal ra. pun memberitahu Abu Bakar tentang apa yang telah Rasulullah s.a.w. katakan kepadanya. Abu Bakar ra. tidak dapat menahan dirinya apabila ia melihat mimbar kosong maka dengan suara yang keras Abu Bakar ra. menangis sehingga ia jatuh pingsan. Melihatkan peristiwa ini maka riuh rendah tangisan sahabat dalam masjid, sehingga Rasulullah s.a.w. bertanya kepada Fathimah ra.; "Wahai Fathimah apakah yang telah berlaku?." Maka Fathimah ra. pun berkata: "Kekecohan kaum muslimin, sebab anda tidak pergi ke masjid." Kemudian Rasulullah s.a.w. memanggil Ali ra. dan Fadhl bin Abas ra., lalu Rasulullah s.a.w. bersandar kepada kedua mereka dan terus pergi ke masjid. Setelah Rasulullah s.a.w. sampai di masjid maka Rasulullah s.a.w. pun bersolat subuh bersama dengan para jemaah.
Setelah selesai solat subuh maka Rasulullah s.a.w. pun berkata, "Wahai kaum muslimin, kamu semua senantiasa dalam pertolongan dan pemeliharaan Allah s.w.t., oleh itu hendaklah kamu semua bertaqwa kepada Allah s.w.t. dan mengerjakan segala perintahnya. Sesungguhnya aku akan meninggalkan dunia ini dan kamu semua, dan hari ini adalah hari pertama aku di akhirat dan hari terakhir aku di dunia." Setelah berkata demikian maka Rasulullah s.a.w. pun pulang ke rumah beliau. Kemudian Allah s.w.t. mewahyukan kepada malaikat lzrail a.s., "Wahai lzrail, pergilah kamu kepada kekasihku dengan sebaik-baik rupa, dan apabila kamu hendak mencabut ruhnya maka hendaklah kamu melakukan dengan cara yang paling lembut sekali. Apabila kamu pergi ke rumahnya maka minta izinlah terlebih dahulu, kalau ia izinkan kamu masuk, maka masuklah kamu ke rumahnya dan kalau ia tidak mengizinkan kamu masuk maka hendaklah kamu kembali padaku."
Setelah malaikat lzrail mendapat perintah dari Allah s.w.t. maka malaikal lzrail pun turun dengan menyerupai orang Arab Badwi. Setelah malaikat lzrail sampai di depan rumah Rasulullah s.a.w. maka ia pun memberi salam, "Assalaamu alaikum yaa ahla baitin nubuwwati wa ma danir risaalati a adkhulu?" (Mudah-mudahan keselamatan tetap untuk kamu semua sekalian, wahai penghuni rumah nabi dan sumber risaalah, bolehkan saya masuk?) Apabila Fathimah mendengar orang memberi salam maka ia-pun berkata; "Wahai hamba Allah, Rasulullah s.a.w. sedang sibuk sebab sakitnya yang semakin berat." Kemudian malaikat lzrail berkata lagi seperti dipermulaannya, dan kali ini seruan malaikat itu telah didengar oleh Rasulullah s.a.w. dan Rasulullah s.a.w. bertanya kepada Fathimah ra., "Wahai Fathimah, siapakah di depan pintu itu." Maka Fathimah ra. pun berkata, "Ya Rasulullah, ada seorang Arab badwi memanggil mu, dan aku telah katakan kepadanya bahawa anda sedang sibuk sebab sakit, sebaliknya dia memandang saya dengan tajam sehingga terasa menggigil badan saya." Kemudian Rasulullah s.a.w. berkata; "Wahai Fathimah, tahukah kamu siapakah orang itu?." Jawab Fathimah, "Tidak ayah." "Dia adalah malaikat lzrail, malaikat yang akan memutuskan segala macam nafsu syahwat yang memisahkan perkumpulan-perkumpulan dan yang memusnahkan semua rumah serta meramaikan kubur." Fathimah ra. tidak dapat menahan air matanya lagi setelah mengetahui bahawa saat perpisahan dengan ayahandanya akan berakhir, dia menangis sepuas-puasnya. Apabila Rasulullah s.a.w. mendengar tangisan Falimah ra. maka beliau pun berkata: "Janganlah kamu menangis wahai Fathimah, engkaulah orang yang pertama dalam keluargaku akan bertemu dengan aku." Kemudian Rasulullah s.a.w. pun mengizinkan malaikat lzrail masuk. Maka malaikat lzrail pun masuk dengan mengucap, "Assalamuaalaikum ya Rasulullah." Lalu Rasulullah s.a.w. menjawab: "Wa alaikas saalamu, wahai lzrail engkau datang menziarahi aku atau untuk mencabut ruhku?" Maka berkata malaikat lzrail: "Kedatangan saya adalah untuk menziarahimu dan untuk mencabut ruhmu, itupun kalau engkau izinkan, kalau engkau tidak izinkan maka aku akan kembali." Berkata Rasulullah s.a.w., "Wahai lzrail, di manakah kamu tinggalkan Jibril?" Berkata lzrail: "Saya tinggalkan Jibril di langit dunia, para malaikat sedang memuliakan dia." Tidak beberapa lama kemudian Jibril a.s. pun turun dan duduk di dekat kepala Rasulullah s.a.w..
Apabila Rasulullah s.a.w. melihat kedatangan Jibril a.s. maka Rasulullah s.a.w. pun berkata: "Wahai Jibril, tahukah kamu bahawa ajalku sudah dekat" Berkata Jibril a.s., "Ya aku tahu" Rasulullah s.a.w. bertanya lagi, "Wahai Jibril, beritahu kepadaku kemuliaan yang menggembirakan aku disisi Allah s.w.t" Berkata Jibril a.s., "Sesungguhnya semua pintu langit telah dibuka, para malaikat bersusun rapi menanti ruhmu dilangit. Kesemua pintu-pintu syurga telah dibuka, dan kesemua bidadari sudah berhias menanti kehadiran ruhmu." Berkata Rasulullah s.a.w.: "Alhamdulillah, sekarang kamu katakan pula tentang umatku di hari kiamat nanti." Berkata Jibril a.s., "Allah s.w.t. telah berfirman yang bermaksud,"Sesungguhnya aku telah melarang semua para nabi masuk ke dalam syurga sebelum engkau masuk terlebih dahulu, dan aku juga melarang semua umat memasuki syurga sebelum umatmu memasuki syurga."
Berkata Rasulullah s.a.w.: "Sekarang aku telah puas hati dan telah hilang rasa susahku." Kemudian Rasulullah s.a.w. berkata: "Wahai lzrail, mendekatlah kamu kepadaku." Setelah itu Malaikat lzrail pun memulai tugasnya, apabila ruh beliau sampai pada pusat, maka Rasulullah s.a.w. pun berkata: "Wahai Jibril, alangkah dahsyatnya rasa mati." Jibrila.s. mengalihkan pandangan dari Rasulullah s.a.w. apabila mendengar kata-kata beliau itu. Melihatkan telatah Jibril a.s. itu maka Rasulullah s.a.w. pun berkata: "Wahai Jibril, apakah kamu tidak suka melihat wajahku?" Jibril a.s. berkata: "Wahai kekasih Allah, siapakah orang yang sanggup melihat wajahmu dikala kamu dalam sakaratul maut?" Anas bin Malik ra. berkata: "Apabila ruh Rasulullah s.a.w. telah sampai di dada beliau telah bersabda,"Aku wasiatkan kepada kamu agar kamu semua menjaga solat dan apa-apa yang telah diperintahkan ke atasmu."
Ali ra. berkata: "Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. ketika menjelang saat-saat terakhir, telah mengerakkan kedua bibir beliau sebanyak dua kali, dan saya meletakkan telinga, saya dengan Rasulullah s.a.w. berkata: "Umatku, umatku." Telah bersabda Rasulullah s.a.w. bahawa: "Malaikat Jibril a.s. telah berkata kepadaku; "Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah s.w.t. telah menciptakan sebuah laut di belakang gunung Qaf, dan di laut itu terdapat ikan yang selalu membaca selawat untukmu, kalau sesiapa yang mengambil seekor ikan dari laut tersebut maka akan lumpuhlah kedua belah tangannya dan ikan tersebut akan menjadi batu."
IMAM LA HANAFI
Imam Abu Hanifah yang dikenal dengan dengan sebutan Imam Hanafi bernama asli Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit Al Kufi, lahir di Irak pada tahun 80 Hijriah (699 M), pada masa kekhalifahan Bani Umayyah Abdul Malik bin Marwan. Beliau digelari Abu Hanifah (suci dan lurus) karena kesungguhannya dalam beribadah sejak masa kecilnya, berakhlak mulia serta menjauhi perbuatan dosa dan keji. dan mazhab fiqhinya dinamakan Mazhab Hanafi. Gelar ini merupakan berkah dari doa Ali bin Abi Thalib r.a, dimana suatu saat ayahnya (Tsabit) diajak oleh kakeknya (Zauti) untuk berziarah ke kediaman Ali r.a yang saat itu sedang menetap di Kufa akibat pertikaian politik yang mengguncang ummat islam pada saat itu, Ali r.a mendoakan agar keturunan Tsabit kelak akan menjadi orang orang yang utama di zamannya, dan doa itu pun terkabul dengan hadirnya Imam hanafi, namun tak lama kemudian ayahnya meninggal dunia.
Pada masa remajanya, dengan segala kecemerlangan otaknya Imam Hanafi telah menunjukkan kecintaannya kepada ilmu pengetahuan, terutama yang berkaitan dengan hukum islam, kendati beliau anak seorang saudagar kaya namun beliau sangat menjauhi hidup yang bermewah mewah, begitu pun setelah beliau menjadi seorang pedagang yang sukses, hartanya lebih banyak didermakan ketimbang untuk kepentingan sendiri.
Disamping kesungguhannya dalam menuntut ilmu fiqh, beliau juga mendalami ilmu tafsir, hadis, bahasa arab dan ilmu hikmah, yang telah mengantarkannya sebagai ahli fiqh, dan keahliannya itu diakui oleh ulama ulama di zamannya, seperti Imam hammad bin Abi Sulaiman yang mempercayakannya untuk memberi fatwa dan pelajaran fiqh kepada murid muridnya. Keahliannya tersebut bahkan dipuji oleh Imam Syafi’i ” Abu Hanifah adalah bapak dan pemuka seluruh ulama fiqh “. karena kepeduliannya yang sangat besar terhadap hukum islam, Imam Hanafi kemudian mendirikan sebuah lembaga yang di dalamnya berkecimpung para ahli fiqh untuk bermusyawarah tentang hukum hukum islam serta menetapkan hukum hukumnya dalam bentuk tulisan sebagai perundang undangan dan beliau sendiri yang mengetuai lembaga tersebut. Jumlah hukum yang telah disusun oleh lembaga tersebut berkisar 83 ribu, 38 ribu diantaranya berkaitan dengan urusan agama dan 45 ribu lainnya mengenai urusan dunia.
Metode yang digunakan dalam menetapkan hukum (istinbat) berdasarkan pada tujuh hal pokok :
1. Al Quran sebagai sumber dari segala sumber hukum.
2. Sunnah Rasul sebagai penjelasan terhadap hal hal yang global yang ada dalam Al Quran.
3. Fatwa sahabat (Aqwal Assahabah) karena mereka semua menyaksikan turunnya ayat dan mengetahui asbab nuzulnya serta asbabul khurujnya hadis dan para perawinya. Sedangkan fatwa para tabiin tidak memiliki kedudukan sebagaimana fatwa sahabat.
4. Qiyas (Analogi) yang digunakan apabila tidak ada nash yang sharih dalam Al Quran, Hadis maupun Aqwal Asshabah.
5. Istihsan yaitu keluar atau menyimpang dari keharusan logika menuju hukum lain yang menyalahinya dikarenakan tidak tepatnya Qiyas atau Qiyas tersebut berlawanan dengan Nash.
6. Ijma’ yaitu kesepakatan para mujtahid dalam suatu kasus hukum pada suatu masa tertentu.
7. ‘Urf yaitu adat kebiasaan orang muslim dalam suatu masalah tertentu yang tidak ada nashnya dalam Al Quran, Sunnah dan belum ada prakteknya pada masa sahabat.
Karya besar yang ditinggalkan oleh Imam hanafi yaitu Fiqh Akhbar, Al ‘Alim Walmutam dan Musnad Fiqh Akhbar.
Pada masa remajanya, dengan segala kecemerlangan otaknya Imam Hanafi telah menunjukkan kecintaannya kepada ilmu pengetahuan, terutama yang berkaitan dengan hukum islam, kendati beliau anak seorang saudagar kaya namun beliau sangat menjauhi hidup yang bermewah mewah, begitu pun setelah beliau menjadi seorang pedagang yang sukses, hartanya lebih banyak didermakan ketimbang untuk kepentingan sendiri.
Disamping kesungguhannya dalam menuntut ilmu fiqh, beliau juga mendalami ilmu tafsir, hadis, bahasa arab dan ilmu hikmah, yang telah mengantarkannya sebagai ahli fiqh, dan keahliannya itu diakui oleh ulama ulama di zamannya, seperti Imam hammad bin Abi Sulaiman yang mempercayakannya untuk memberi fatwa dan pelajaran fiqh kepada murid muridnya. Keahliannya tersebut bahkan dipuji oleh Imam Syafi’i ” Abu Hanifah adalah bapak dan pemuka seluruh ulama fiqh “. karena kepeduliannya yang sangat besar terhadap hukum islam, Imam Hanafi kemudian mendirikan sebuah lembaga yang di dalamnya berkecimpung para ahli fiqh untuk bermusyawarah tentang hukum hukum islam serta menetapkan hukum hukumnya dalam bentuk tulisan sebagai perundang undangan dan beliau sendiri yang mengetuai lembaga tersebut. Jumlah hukum yang telah disusun oleh lembaga tersebut berkisar 83 ribu, 38 ribu diantaranya berkaitan dengan urusan agama dan 45 ribu lainnya mengenai urusan dunia.
Metode yang digunakan dalam menetapkan hukum (istinbat) berdasarkan pada tujuh hal pokok :
1. Al Quran sebagai sumber dari segala sumber hukum.
2. Sunnah Rasul sebagai penjelasan terhadap hal hal yang global yang ada dalam Al Quran.
3. Fatwa sahabat (Aqwal Assahabah) karena mereka semua menyaksikan turunnya ayat dan mengetahui asbab nuzulnya serta asbabul khurujnya hadis dan para perawinya. Sedangkan fatwa para tabiin tidak memiliki kedudukan sebagaimana fatwa sahabat.
4. Qiyas (Analogi) yang digunakan apabila tidak ada nash yang sharih dalam Al Quran, Hadis maupun Aqwal Asshabah.
5. Istihsan yaitu keluar atau menyimpang dari keharusan logika menuju hukum lain yang menyalahinya dikarenakan tidak tepatnya Qiyas atau Qiyas tersebut berlawanan dengan Nash.
6. Ijma’ yaitu kesepakatan para mujtahid dalam suatu kasus hukum pada suatu masa tertentu.
7. ‘Urf yaitu adat kebiasaan orang muslim dalam suatu masalah tertentu yang tidak ada nashnya dalam Al Quran, Sunnah dan belum ada prakteknya pada masa sahabat.
Karya besar yang ditinggalkan oleh Imam hanafi yaitu Fiqh Akhbar, Al ‘Alim Walmutam dan Musnad Fiqh Akhbar.
IMAM MUSA AL KAZIM
Imam Mûsa al-Kâzim As
Adik-adik dan remaja tercinta
Adik-adik, dalam kehidupan dunia ini, kita memerlukan teladan dari yang berakhlak agung dan mulia, sehingga dengan keteladanan dari mereka, kita dapat meniru akhlak luhur mereka. Para pemimpin agama dan para Imam Ahlul Bait As adalah contoh dan teladan bagi kita semua. Oleh karena itu, kami telah membuat penelitian perihal kehidupan mereka, dengan maksud untuk memperkenalkan kepada adik-adik akan kehidupan mereka. Dan semaksimal mungkin kami telah menyusun buku-buku ihwal kehidupan mereka dengan bahasa sederhana sehingga dapat dipahami dengan mudah.
Kumpulan kisah manusia-manusia suci ini disusun seringkas mungkin dengan tidak melupakan keabsahan kisah-kisah teladan Imam Ahlul Bait itu.
Para ahli sejarah Islâm telah mengkajinya secara serius dan mereka mendukung adanya penyusunan buku ini.
Kami berharap, adik-adik sekalian sudi mengkajinya secara serius pula. Hasil dari pelajaran ini, kami meminta kepada adik-adik untuk dapat menyampaikan kesan dan pandangannya.
Kami sangat berterima kasih atas perhatian adik-adik. Dan semoga adik-adik mau bersabar menantikan edisi-edisi selanjutnya.
Wilâdah
Imam Mûsa Kâzim lahir pada hari Ahad, bertepatan dengan tanggal 7 Safar tahun 120 H, di sebuah lembah yang bernama "Abwa". Lembah ini terletak diantara kota Mekah dan kota Madinah. Ibunda Imam Mûsa al-Kâzim As bernama Hamida. Imam Mûsa al-Kâzim mencapai Imamah pada usia 21 tahun.
Abû Basîr berkata: " Kami bersama Imam Ja'far melakukan safar ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji. Tidak lama setelah tiba di sebuah tempat yang dikenal dengan Abwa dan setelah menyantap sarapan pagi , Imam mendapat kabar bahwa Allâh Swt telah menganugerahinya seorang putra.
Dengan suka-cita dan gembira-ria Imam Ja'far segera menemui Hâmida, istrinya. Tidak lama kemudian, beliau kembali dengan wajah sumringah berkata: Allâh Swt telah menganugerahkan seorang anak kepadaku. Kelahiran putraku merupakan anugerah terbaik dari- Nya.
Ibundanya bercerita bahwa ketika putranya lahir, ia melakukan sujud dan memanjatkan rasa syukurnya kepada Allâh Swt. Perbuatan ini merupakan tanda dari Imamah beliau. Saat Imam Shâdîq tiba di Madinah, beliau menghidangkan jamuan makan selama tiga hari dan mengundang orang-orang yang tertimpa kesusahan dan orang-orang miskin.
Ya'qub Sirâj berkata: "Aku mengunjungi Imam Sâdiq As di Madinah. Saya melihatnya berdiri di dekat ayunan putranya , Mûsa al-Kâzim As. Aku mengucapkan salam kepada beliau dan beliau dengan tatapan yang cerah menjawab salamku tersebut. Lalu beliau berkata "Mari mendekat kepada Imam dan sampaikan salam padanya. Aku mendekatinya dan menyampaikan salam. Imam Ja'far berkata: "Allâh Swt telah menanugerahimu seorang putri dan engkau telah memberinya nama yang kurang pantas untuknya. Pergilah dan ganti namanya. Ibunda Imam Mûsa Al Kâzim As adalah seorang kaniza (budak) yang dibeli oleh Imam Ja'far. Namun, meskipun demikian beliau telah mendapatkan pengajaran ilmu dari Imam Ja'far Sâdiq As, yang menjadikannya seseorang yang memiliki keluasan ilmu dan kecakapan dalam bidang ilmu-ilmu agama. Sehingga kadang-kadang Imam Ja'far meminta para wanita untuk bertanya masalah-masalah agama kepadanya.
Periode kehidupan Imam Mûsa al-Kâzim As dapat dibagi menjadi 2 bagian:
1. Kehidupan Imam bersama ayahandanya di Madinah yang berlangsung selama 20 tahun. Periode ini berlangsung sebelum beliau mencapai Imamah.
2. Masa-masa awal perlawanan, pemenjaraan dan pengasingan yang menimpa kehidupan Imam.
Akhlak Mulia Sang Imam
Meskipun postur tubuh Imam As ramping dan kurus, namun beliau memiliki jiwa yang kuat. Baju dalam beliau terbuat dari bahan kain kasar. Beliau kadang-kadang berjalan kaki di tengah keramaian penduduk, menyampaikan salam pada mereka , mencintai keluarganya dan menghormati mereka. Imam Mûsa al-Kâzim adalah orang yang peduli dan sangat perhatian terhadap kehidupan fakir miskin dan orang-orang yang tertimpa musibah. Pada malam hari, beliau memikul makanan di pundaknya untuk dibagikan kepada mereka yang membutuhkan secara sembunyi-sembunyi tanpa diketahui oleh mereka tentang keberadaan beliau. Bahkan setiap bulannya, Imam memberikan gaji kepada beberapa orang diantara mereka.
Salah seorang sahabat Imam berceritera tentang ketabahan dan kesabaran sang Imam. Ia berkata: " Musuh-musuhnya kadang-kadang merasa malu dan berkecil hati atas akhlâqul karîmah yang ditunjukkan oleh Imam". Suatu waktu, seseorang yang bermukim di Madinah , ketika ia melihat Imam, ia memintanya untuk berhenti dan kemudian menyampaikan kata-kata kasar yang berisi makian terhadap Imam. Para sahabat Imam berkata: "Izinkan kami untuk menghajarnya, wahai Imam". Imam berkata: " Biarkanlah jangan kalian ganggu ". Beberapa hari kemudian, tidak ada berita tentang orang tersebut. Imam menanyakan tentang kesehatan orang itu. Para penduduk berkata bahwa ia pergi ke ladangnya untuk bercocok tanam yang letaknya di luar kota Madinah. Mendengar kabar tersebut, Imam segera menunggangi kudanya dan bergerak menuju ke ladang orang tersebut. Ketika orang itu melihat kedatangan Imam, ia berteriak dengan lantang dari kejauhan. Ia berkata: " Jangan anda masuk ke ladangku. Aku adalah musuhmu dan musuh datuk-datukmu. Imam mendekatinya, menyampaikan salam menanyakan tentang kesehatan dan kesejahteraan hidup orang tersebut. Imam dengan ramah bertanya: " Berapa Dinar yang anda habiskan untuk biaya ladangmu ini? ". Ia menjawab: " Seratus Dinar." Imam bertanya lagi: " Berapa banyak keuntungan yang anda harapkan dari semua ini? ". Orang itu berkata: " Dua ratus Dinar ". Mendengar jawaban ini, Imam mengambil sekantong tas yang berisi uang tiga ratus Dinar dan memberikannya pada orang tersebut. Imam berkata: " Ambillah uang ini dan ladang ini juga tetap menjadi kepunyaanmu".
Orang yang selama ini berlaku kurang ajar dan kasar pada Imam itu, tidak pernah menyangka akan mendapatkan perlakuan seperti itu dari Imam. Ketika Imam ingin bertolak kembali ke Madinah, Imam Bersabda: " Lepaskan amarahmu dengan cara seperti ini". (tetap menunjukkan Akhlak al-karimah, -penj). Al-Kâzim berarti orang yang mampu mengontrol amarahnya ketika mendapat gangguan dan membalasnya dengan kebaikan dan penghormatan. Perbuatan mulia ini telah membuat musuh-musuhnya menjadi sangat malu.
Telah menjadi kebiasaan Imam menunjukkan cinta kasih dan kehangatannya kepada kerabat beliau. Beliau berkata: " Apabila terdapat permusuhan yang terjadi diantara kerabat, jika mereka saling berjabat tangan erat ketika mereka berjumpa, maka permusuhan itu akan pergi dan sesama mereka akan saling senang satu sama lainnya dan bergembira.
Sikap Pemurah Imam
Imam masyhur dan dikenal diantara para penduduk akan kemurahan dan keramahannya yang ada pada beliau, seperti perbuatan Imam membebaskan seribu budak. Dan bantuan Imam kepada mereka yang dalam kesulitan dan terhimpit masalah hidup serta membayarkan utang-utang orang-orang yang terlilit utang.
Ibn Shar Ashâb menukilkan bahwa suatu hari " Khalifah Mansûr" mengundang Imam ke istananya dan meminta beliau untuk duduk di singgasana Khalifah pada hari tahun baru dan membawa hadiah-hadiah yang dibawa oleh para tetamu untuk dapat dimanfaatkan oleh Imam. Meskipun Imam tidak begitu tertarik untuk memenuhi undangan itu, namun beliau dengan terpaksa menerimanya. Beliau duduk di singgasana itu. Atas perintah Khalifah Mansûr para punggawa kerajaan, aristokrat dan para pembesar yang ikut dalam acara resmi tersebut, menyerahkan hadiah-hadiah yang mereka bawa kepada Imam As. Mansûr memerintahkan kepada salah seorang pelayannya untuk mencatat dan merekam secara detail jumlah hadiah itu dan menyiapkan perlengkapannya untuk diangkut oleh Imam. Di ujung acara itu, seseorang yang berusia lanjut datang dan berkata: " Wahai putra Rasulullâh, aku tidak memiliki sesuatu pun untuk aku serahkan kepadamu, akan tetapi aku memiliki beberapa sajak yang berhubungan dengan duka dan nestapa yang menimpa datukmu Imam Husain As, yang dapat aku persembahkan padamu, wahai Imam".
Orang itu kemudian mendeklamasikan sajaknya di depan Imam dan meninggalkan kesan yang sangat luar biasa dalam diri sang Imam. Beliau meminta pengawal Mansûr untuk pergi menjumpai Mansûr dan menanyakan tentang apa yang harus dilakukan dengan hadiah-hadiah tersebut. Pengawal tersebut beranjak menjumpai Mansûr dan setelah kembali, ia mengatakan bahwa: "Raja Hârun berkata: "Aku serahkan seluruh hadiah ini kepadamu. Anda bisa serahkan kepada siapa saja yang anda kehendaki.
Pandangan Imam jatuh kepada orang tua tadi, lalu beliau berkata: " Untuk syair yang telah anda deklamasikan sehubungan dengan nestapa dan bencana yang menimpa datukku, aku anugerahkan hadiah ini untukmu sehingga dengannya anda akan terbebas dari kemiskinan dan penderitaan.
Perjuangan Imam dalam Menghadapi Hidup
Imam Mûsa bercocok tanam di ladang yang menjadi kekayaan pribadi beliau dan dari hasil cocok tanam itu, Imam membelanjakannya untuk keperluan hidup sehari-hari. Kadang-kadang, karena kerja keras membuat seluruh badan beliau penuh dengan peluh.
Suatu hari, salah seorang sahabat Imam yang bernama "''Ali Batâinî" - yang memiliki hubungan kerja dengan Imam - datang mengunjungi beliau di ladangnya. Ketika ia melihat Imam dalam kesulitan dan kesusahan, ia pun menjadi sedih dan berkata: " Semoga jiwaku menjadi tebusanmu, wahai Imam, mengapa anda tidak membiarkan orang lain untuk melakukan pekerjaan ini.
Imam berkata: " Mengapa aku harus memikulkan pekerjaan ini ke pundak orang lain sementara mereka lebih baik dalam melakukan pekerjaan ini dari pada aku" . Aku bertanya: " Siapakah mereka itu " ?
Imam berkata: " Rasulullâh Saw, Amirul mukminin ''Ali As, ayahandaku dan datukku." Kerja dan payah adalah sunah para nabi, sunnah para awsiya Allâh, para hambanya yang sholeh, mereka ini senantiasa bekerja dan bersusah payah untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari dengan hasil kerja yang mereka dapatkan.
Metode Dakwah dan Bimbingan Imam
Suatu ketika Imam melintasi sebuah jalan. Denting suara musik dan dendang lagu terdengar hingga keluar rumah. Pemilik rumah tersebut adalah seorang yang memiliki kedudukan terhormat, telah membangun sebuah tempat untuk bersenang-senang dan membuat ia bergembira ria. Tiba-tiba seorang budak keluar dari rumah itu untuk membuang sampah di sudut jalan. Secara kebetulan, ia melihat Imam dan berdiri terdiam. Lalu, ia memberikan salam kepada Imam.
Sang Imam bertanya padanya: " Apakah pemilik rumah ini adalah seorang hamba atau seorang merdeka"?
Ia menjawab : " Seorang yang merdeka."
Imam berkata lagi : Ya. Jelas dan terang bahwa ia adalah seorang yang merdeka. Jika ia seorang hamba, maka ia pasti memiliki rasa takut kepada Allâh Swt dan tidak akan mengerjakan perbuatan sia-sia ini.
Budak itu memasuki rumahnya kembali dan ketika tuannya bertanya mengapa ia datang terlambat. Ia menceritakan kisah perjumpaannya dengan Imam dan perkataan beliau.
Orang itu sejenak berpikir dan merenungi perkataan Imam As itu. Tiba-tiba ia bangkit dari tempat duduknya dan dengan kaki telanjang ia berlari menyusul Imam dari belakang hingga berjumpa dengan beliau. Orang itu memberikan salam kepada Imam dan menyampaikan penyesalannya kepada Imam As.
Sejak saat itu, ia merubah pusat hiburan itu menjadi tempat peribadatan dan peringatan kenangan setiap hari ia berjalan dengan kaki telanjang. Orang ini kemudian dikenal dengan nama " Bushri Hâfî " yang berarti Si Bushri yang datang dengan kaki telanjang.
Kezuhudan dan Ibâdah Imam Mûsa As
Imam As sangat terkenal dengan kezuhudan dan ibadahnya sehingga di mana pun orang bercerita tentang beliau, mereka berkata " Beliau adalah seorang pecinta ibadah dan ahli taat." Syaikh Mufid menulis tentang beliau, " Beliau adalah orang yang paling shaleh dan bertakwa pada zamannya. Pada malam harinya, beliau larut dalam salât dan bilamana beliau melaksanakan sujud beliau memanjangkannya dan air matanya luruh sehingga janggut beliau basah dengan air mata.
Syablanjî, seorang ulama Sunnî menulis tentang beliau, " Imam Mûsa Kâzim As adalah orang yang paling bertaqwa dan zuhud pada zamannya. Beliau sangat arif, bijaksana, pemurah dan pengasih kepada siapa saja. Beliau membantu dan merawat orang-orang malang dan banyak waktunya dihabiskan untuk sibuk mengerjakan ibadah tanpa diketahui oleh orang banyak. Beliau berkata : " Yâ Allâh jadikan kematian mudah untukku dan ampuni dosa-dosaku sewaktu aku dihadapkan pada-Mu kelak dihari kiamat.
Beliau merupakan seorang pecinta Tuhan sejati sehingga membuat orang-orang menjadi takjub dan keheranan. Sedemikian rupa, sehingga ia pernah membuat Fadal si kepala penjara ikut menangis. Pembantu khusus Hârun , yang diutus ke penjara dengan misi untuk menarik perhatian dan menggoda Imam Mûsa As sehingga beliau tertarik kepadanya dan dengan demikian Hârun memiliki alasan untuk menghukum Imam, sangat terpukau oleh perangai Imam di dalam penjara sehingga ia kembali dalam keadaan menangis dan menyatakan keberatan atas keputusan Hârun memenjarakan Imam Mûsa As.
Tragedi Fakh
Husain bin 'Ali salah seorang Alawi dari Madinah atas perintah Imam Mûsa Kâzim As memberontak terhadap Hâdî yang menjadi Khalifah Dinasti Abbâsiyah ketika itu. Ia beserta dengan tiga ribu pasukan bangkit melawan pemerintahan Abbâsiyah karena tekanan dan kebrutalan, kedzâliman mereka terhadap anak-anak 'Ali As.
Akhirnya, serdadu Hâdî berhasil mengepung mereka di tanah Fakh dan melakukan pembunuhan massal di tempat itu, dengan memenggal kepala mereka. Kepala-kepala yang terpenggal itu dan para tawanan perang dibawa kehadapan Hâdî. Hâdî memberi perintah kepada algojonya untuk membunuh para tawanan itu. Kejadian ini dikenal dalam sejarah sebagai tragedi Fakh dan pejuang 'Alawî ini dikenal dengan " Husain ", syuhâda Fakh.
Hijrah Pertama Imam ke Baghdad
Mansûr dibunuh pada tahun 158 Hijriah dan anaknya "Mahdi" naik takhta sebagai Khalifah baru menggantikan ayahnya. Ia memberlakukan siasat-siasat keji kepada masyarakat. Ia mendandani dirinya dan bertingkah seakan-akan seorang yang taat beragama di hadapan masyarakat tetapi dibelakang masyarakat ia senantiasa berbuat dosa. Ketika ia memegang kekuasaan, Khalifah Mahdi membebaskan para tahanan politik diantaranya Imam Mûsa, dan mengembalikan harta yang dirampas dari tangan mereka. Akan tetapi, ia juga memberikan hadiah yang besar kepada para pujangga yang memaki dan melaknat keluarga 'Ali As. Seperti ketika ia memberikan hadiah tujuh puluh ribu Dirham kepada " Busyâr bin Burd " dan seratus ribu Dirham kepada Marwân berkat syair-syair mereka berisikan laknat dan makian terhadap keluarga 'Ali As.
Ia menghabiskan uang Baitul Mal (harta kaum muslimin) untuk berfoya-foya dan bersenang-senang, sebagaimana ketika ia habiskan lima puluh lima juta Dirham untuk pesta pernikahan putranya.
Suatu ketika, mata-matanya menyampaikan tentang popularitas Imam dan kecendrungan masyarakat terhadap beliau. Hâdî, mendengar berita itu, benar-benar geram dan dengan segera ia memerintahkan orang-orang setianya untuk mengirim Imam dari Madinah ke Baghdad dan memenjarakannya di sana.
Abû Khâlid berkata, suatu hari Imam disertai dengan pasukan resmi kerajaan tiba di rumahku di " Zubâla ". Imam, dalam waktu yang singkat itu, menghindar dari penjagaan pasukan kerajaan itu, dan beliau memintaku untuk membelikan beberapa barang. Aku sangat bersedih dan menangis melihat keadaan Imam seperti itu. Imam berkata padaku, " Jangan risaukan aku karena aku akan segera kembali, dan nantikan aku hingga hari itu, di tempat itu."
Aku persembahkan diriku atas apa yang telah Imam perintahkan kepadaku dan aku melihat beliau memimpin karavan tersebut. Aku cukup bergembira dan maju ke depan dan mencium Imam. Beliau berkata, " Wahai Abû Khâlid mereka akan membawaku kembali ke Baghdad dan aku tidak akan kembali dari perjalanan itu.
Ketika aku mencari tahu alasan mengapa Imam dibebaskan, aku menjadi tahu bahwa Mahdî melihat Imam 'Ali As dalam mimpinya, pada malam yang sama. Ia dalam mimpinya melihat Imam 'Ali dengan tatapan marah dan murka memberi peringatan dan teguran padanya. Pada pagi harinya karena ketakutan ia pun melepaskan Imam dan mengirimnya kembali ke Madinah dengan pengormatan dan kemuliaan.
Meskipun keadaan yang mencekik dan menyiksa di Madinah, Imam tetap sibuk membimbing dan menuntun umat yang bermukim di kota itu. Tidak lama berselang, Mahdî meninggal dunia dan anaknya Hâdî naik takhta menggantikannya sebagai Khalifah. Hâdî - berbeda dengan ayahnya - ia tidak mengamalkan perbuatan sembunyi-sembunyi, dan sangat jelas dan terbuka memulai perlawanannya melawan anak keturunan Imam 'Ali As. Perbuatannya yang paling memalukan adalah pembantaiannya terhadap anak keturunan 'Ali As yang dinamakan dengan tragedi " Fakh " dan oleh ahli sejarah dipandang sebagai tragedi kedua dalam sejarah setelah tragedi Karbâlâ.
Hâdî adalah orang yang berlumuran dosa, berperangai jahat dan tidak memiliki kelayakan untuk menduduki jabatan sebagai Kh'Alifah. Ia menghabiskan uang secara serampangan untuk berpoya-poya dan bersenang-senang dan memberikan hadiah yang melimpah kepada mereka yang membacakan syair dan yang mendendangkan lagu untuknya.
Hâdî wafat pada tahun 170 Hijriah dan " Hârun " yang menggantikan kedudukannya sebagai Khalifah. Ketika itu Imam telah berusia 42 tahun. Zaman " Hârun " merupakan zaman terakhir kekuasaan Dinasti Abbâsiyah. Hârun, setelah baiat dan orang-orang yang loyal dengan baiat itu, melantik " Yahyâ Barmakî" - yang merupakan orang Iran - sebagai menterinya dan memberikan wewenang yang penuh padanya. Hârun sendiri menyibukkan dirinya menggelapkan harta Baitul Mal yang ketika itu kantong kas Baitul Mal sedang gemuk, banyak pemasukan.
Ia menghabiskan seluruhnya dengan berlebih-lebihan untuk berfoya-foya dan bersenang-senang - sedemikian rupa - hingga pembelanjaan suatu acara makan menghabiskan biaya sebesar empat ribu Dirham.
Adik-adik dan remaja tercinta
Adik-adik, dalam kehidupan dunia ini, kita memerlukan teladan dari yang berakhlak agung dan mulia, sehingga dengan keteladanan dari mereka, kita dapat meniru akhlak luhur mereka. Para pemimpin agama dan para Imam Ahlul Bait As adalah contoh dan teladan bagi kita semua. Oleh karena itu, kami telah membuat penelitian perihal kehidupan mereka, dengan maksud untuk memperkenalkan kepada adik-adik akan kehidupan mereka. Dan semaksimal mungkin kami telah menyusun buku-buku ihwal kehidupan mereka dengan bahasa sederhana sehingga dapat dipahami dengan mudah.
Kumpulan kisah manusia-manusia suci ini disusun seringkas mungkin dengan tidak melupakan keabsahan kisah-kisah teladan Imam Ahlul Bait itu.
Para ahli sejarah Islâm telah mengkajinya secara serius dan mereka mendukung adanya penyusunan buku ini.
Kami berharap, adik-adik sekalian sudi mengkajinya secara serius pula. Hasil dari pelajaran ini, kami meminta kepada adik-adik untuk dapat menyampaikan kesan dan pandangannya.
Kami sangat berterima kasih atas perhatian adik-adik. Dan semoga adik-adik mau bersabar menantikan edisi-edisi selanjutnya.
Wilâdah
Imam Mûsa Kâzim lahir pada hari Ahad, bertepatan dengan tanggal 7 Safar tahun 120 H, di sebuah lembah yang bernama "Abwa". Lembah ini terletak diantara kota Mekah dan kota Madinah. Ibunda Imam Mûsa al-Kâzim As bernama Hamida. Imam Mûsa al-Kâzim mencapai Imamah pada usia 21 tahun.
Abû Basîr berkata: " Kami bersama Imam Ja'far melakukan safar ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji. Tidak lama setelah tiba di sebuah tempat yang dikenal dengan Abwa dan setelah menyantap sarapan pagi , Imam mendapat kabar bahwa Allâh Swt telah menganugerahinya seorang putra.
Dengan suka-cita dan gembira-ria Imam Ja'far segera menemui Hâmida, istrinya. Tidak lama kemudian, beliau kembali dengan wajah sumringah berkata: Allâh Swt telah menganugerahkan seorang anak kepadaku. Kelahiran putraku merupakan anugerah terbaik dari- Nya.
Ibundanya bercerita bahwa ketika putranya lahir, ia melakukan sujud dan memanjatkan rasa syukurnya kepada Allâh Swt. Perbuatan ini merupakan tanda dari Imamah beliau. Saat Imam Shâdîq tiba di Madinah, beliau menghidangkan jamuan makan selama tiga hari dan mengundang orang-orang yang tertimpa kesusahan dan orang-orang miskin.
Ya'qub Sirâj berkata: "Aku mengunjungi Imam Sâdiq As di Madinah. Saya melihatnya berdiri di dekat ayunan putranya , Mûsa al-Kâzim As. Aku mengucapkan salam kepada beliau dan beliau dengan tatapan yang cerah menjawab salamku tersebut. Lalu beliau berkata "Mari mendekat kepada Imam dan sampaikan salam padanya. Aku mendekatinya dan menyampaikan salam. Imam Ja'far berkata: "Allâh Swt telah menanugerahimu seorang putri dan engkau telah memberinya nama yang kurang pantas untuknya. Pergilah dan ganti namanya. Ibunda Imam Mûsa Al Kâzim As adalah seorang kaniza (budak) yang dibeli oleh Imam Ja'far. Namun, meskipun demikian beliau telah mendapatkan pengajaran ilmu dari Imam Ja'far Sâdiq As, yang menjadikannya seseorang yang memiliki keluasan ilmu dan kecakapan dalam bidang ilmu-ilmu agama. Sehingga kadang-kadang Imam Ja'far meminta para wanita untuk bertanya masalah-masalah agama kepadanya.
Periode kehidupan Imam Mûsa al-Kâzim As dapat dibagi menjadi 2 bagian:
1. Kehidupan Imam bersama ayahandanya di Madinah yang berlangsung selama 20 tahun. Periode ini berlangsung sebelum beliau mencapai Imamah.
2. Masa-masa awal perlawanan, pemenjaraan dan pengasingan yang menimpa kehidupan Imam.
Akhlak Mulia Sang Imam
Meskipun postur tubuh Imam As ramping dan kurus, namun beliau memiliki jiwa yang kuat. Baju dalam beliau terbuat dari bahan kain kasar. Beliau kadang-kadang berjalan kaki di tengah keramaian penduduk, menyampaikan salam pada mereka , mencintai keluarganya dan menghormati mereka. Imam Mûsa al-Kâzim adalah orang yang peduli dan sangat perhatian terhadap kehidupan fakir miskin dan orang-orang yang tertimpa musibah. Pada malam hari, beliau memikul makanan di pundaknya untuk dibagikan kepada mereka yang membutuhkan secara sembunyi-sembunyi tanpa diketahui oleh mereka tentang keberadaan beliau. Bahkan setiap bulannya, Imam memberikan gaji kepada beberapa orang diantara mereka.
Salah seorang sahabat Imam berceritera tentang ketabahan dan kesabaran sang Imam. Ia berkata: " Musuh-musuhnya kadang-kadang merasa malu dan berkecil hati atas akhlâqul karîmah yang ditunjukkan oleh Imam". Suatu waktu, seseorang yang bermukim di Madinah , ketika ia melihat Imam, ia memintanya untuk berhenti dan kemudian menyampaikan kata-kata kasar yang berisi makian terhadap Imam. Para sahabat Imam berkata: "Izinkan kami untuk menghajarnya, wahai Imam". Imam berkata: " Biarkanlah jangan kalian ganggu ". Beberapa hari kemudian, tidak ada berita tentang orang tersebut. Imam menanyakan tentang kesehatan orang itu. Para penduduk berkata bahwa ia pergi ke ladangnya untuk bercocok tanam yang letaknya di luar kota Madinah. Mendengar kabar tersebut, Imam segera menunggangi kudanya dan bergerak menuju ke ladang orang tersebut. Ketika orang itu melihat kedatangan Imam, ia berteriak dengan lantang dari kejauhan. Ia berkata: " Jangan anda masuk ke ladangku. Aku adalah musuhmu dan musuh datuk-datukmu. Imam mendekatinya, menyampaikan salam menanyakan tentang kesehatan dan kesejahteraan hidup orang tersebut. Imam dengan ramah bertanya: " Berapa Dinar yang anda habiskan untuk biaya ladangmu ini? ". Ia menjawab: " Seratus Dinar." Imam bertanya lagi: " Berapa banyak keuntungan yang anda harapkan dari semua ini? ". Orang itu berkata: " Dua ratus Dinar ". Mendengar jawaban ini, Imam mengambil sekantong tas yang berisi uang tiga ratus Dinar dan memberikannya pada orang tersebut. Imam berkata: " Ambillah uang ini dan ladang ini juga tetap menjadi kepunyaanmu".
Orang yang selama ini berlaku kurang ajar dan kasar pada Imam itu, tidak pernah menyangka akan mendapatkan perlakuan seperti itu dari Imam. Ketika Imam ingin bertolak kembali ke Madinah, Imam Bersabda: " Lepaskan amarahmu dengan cara seperti ini". (tetap menunjukkan Akhlak al-karimah, -penj). Al-Kâzim berarti orang yang mampu mengontrol amarahnya ketika mendapat gangguan dan membalasnya dengan kebaikan dan penghormatan. Perbuatan mulia ini telah membuat musuh-musuhnya menjadi sangat malu.
Telah menjadi kebiasaan Imam menunjukkan cinta kasih dan kehangatannya kepada kerabat beliau. Beliau berkata: " Apabila terdapat permusuhan yang terjadi diantara kerabat, jika mereka saling berjabat tangan erat ketika mereka berjumpa, maka permusuhan itu akan pergi dan sesama mereka akan saling senang satu sama lainnya dan bergembira.
Sikap Pemurah Imam
Imam masyhur dan dikenal diantara para penduduk akan kemurahan dan keramahannya yang ada pada beliau, seperti perbuatan Imam membebaskan seribu budak. Dan bantuan Imam kepada mereka yang dalam kesulitan dan terhimpit masalah hidup serta membayarkan utang-utang orang-orang yang terlilit utang.
Ibn Shar Ashâb menukilkan bahwa suatu hari " Khalifah Mansûr" mengundang Imam ke istananya dan meminta beliau untuk duduk di singgasana Khalifah pada hari tahun baru dan membawa hadiah-hadiah yang dibawa oleh para tetamu untuk dapat dimanfaatkan oleh Imam. Meskipun Imam tidak begitu tertarik untuk memenuhi undangan itu, namun beliau dengan terpaksa menerimanya. Beliau duduk di singgasana itu. Atas perintah Khalifah Mansûr para punggawa kerajaan, aristokrat dan para pembesar yang ikut dalam acara resmi tersebut, menyerahkan hadiah-hadiah yang mereka bawa kepada Imam As. Mansûr memerintahkan kepada salah seorang pelayannya untuk mencatat dan merekam secara detail jumlah hadiah itu dan menyiapkan perlengkapannya untuk diangkut oleh Imam. Di ujung acara itu, seseorang yang berusia lanjut datang dan berkata: " Wahai putra Rasulullâh, aku tidak memiliki sesuatu pun untuk aku serahkan kepadamu, akan tetapi aku memiliki beberapa sajak yang berhubungan dengan duka dan nestapa yang menimpa datukmu Imam Husain As, yang dapat aku persembahkan padamu, wahai Imam".
Orang itu kemudian mendeklamasikan sajaknya di depan Imam dan meninggalkan kesan yang sangat luar biasa dalam diri sang Imam. Beliau meminta pengawal Mansûr untuk pergi menjumpai Mansûr dan menanyakan tentang apa yang harus dilakukan dengan hadiah-hadiah tersebut. Pengawal tersebut beranjak menjumpai Mansûr dan setelah kembali, ia mengatakan bahwa: "Raja Hârun berkata: "Aku serahkan seluruh hadiah ini kepadamu. Anda bisa serahkan kepada siapa saja yang anda kehendaki.
Pandangan Imam jatuh kepada orang tua tadi, lalu beliau berkata: " Untuk syair yang telah anda deklamasikan sehubungan dengan nestapa dan bencana yang menimpa datukku, aku anugerahkan hadiah ini untukmu sehingga dengannya anda akan terbebas dari kemiskinan dan penderitaan.
Perjuangan Imam dalam Menghadapi Hidup
Imam Mûsa bercocok tanam di ladang yang menjadi kekayaan pribadi beliau dan dari hasil cocok tanam itu, Imam membelanjakannya untuk keperluan hidup sehari-hari. Kadang-kadang, karena kerja keras membuat seluruh badan beliau penuh dengan peluh.
Suatu hari, salah seorang sahabat Imam yang bernama "''Ali Batâinî" - yang memiliki hubungan kerja dengan Imam - datang mengunjungi beliau di ladangnya. Ketika ia melihat Imam dalam kesulitan dan kesusahan, ia pun menjadi sedih dan berkata: " Semoga jiwaku menjadi tebusanmu, wahai Imam, mengapa anda tidak membiarkan orang lain untuk melakukan pekerjaan ini.
Imam berkata: " Mengapa aku harus memikulkan pekerjaan ini ke pundak orang lain sementara mereka lebih baik dalam melakukan pekerjaan ini dari pada aku" . Aku bertanya: " Siapakah mereka itu " ?
Imam berkata: " Rasulullâh Saw, Amirul mukminin ''Ali As, ayahandaku dan datukku." Kerja dan payah adalah sunah para nabi, sunnah para awsiya Allâh, para hambanya yang sholeh, mereka ini senantiasa bekerja dan bersusah payah untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari dengan hasil kerja yang mereka dapatkan.
Metode Dakwah dan Bimbingan Imam
Suatu ketika Imam melintasi sebuah jalan. Denting suara musik dan dendang lagu terdengar hingga keluar rumah. Pemilik rumah tersebut adalah seorang yang memiliki kedudukan terhormat, telah membangun sebuah tempat untuk bersenang-senang dan membuat ia bergembira ria. Tiba-tiba seorang budak keluar dari rumah itu untuk membuang sampah di sudut jalan. Secara kebetulan, ia melihat Imam dan berdiri terdiam. Lalu, ia memberikan salam kepada Imam.
Sang Imam bertanya padanya: " Apakah pemilik rumah ini adalah seorang hamba atau seorang merdeka"?
Ia menjawab : " Seorang yang merdeka."
Imam berkata lagi : Ya. Jelas dan terang bahwa ia adalah seorang yang merdeka. Jika ia seorang hamba, maka ia pasti memiliki rasa takut kepada Allâh Swt dan tidak akan mengerjakan perbuatan sia-sia ini.
Budak itu memasuki rumahnya kembali dan ketika tuannya bertanya mengapa ia datang terlambat. Ia menceritakan kisah perjumpaannya dengan Imam dan perkataan beliau.
Orang itu sejenak berpikir dan merenungi perkataan Imam As itu. Tiba-tiba ia bangkit dari tempat duduknya dan dengan kaki telanjang ia berlari menyusul Imam dari belakang hingga berjumpa dengan beliau. Orang itu memberikan salam kepada Imam dan menyampaikan penyesalannya kepada Imam As.
Sejak saat itu, ia merubah pusat hiburan itu menjadi tempat peribadatan dan peringatan kenangan setiap hari ia berjalan dengan kaki telanjang. Orang ini kemudian dikenal dengan nama " Bushri Hâfî " yang berarti Si Bushri yang datang dengan kaki telanjang.
Kezuhudan dan Ibâdah Imam Mûsa As
Imam As sangat terkenal dengan kezuhudan dan ibadahnya sehingga di mana pun orang bercerita tentang beliau, mereka berkata " Beliau adalah seorang pecinta ibadah dan ahli taat." Syaikh Mufid menulis tentang beliau, " Beliau adalah orang yang paling shaleh dan bertakwa pada zamannya. Pada malam harinya, beliau larut dalam salât dan bilamana beliau melaksanakan sujud beliau memanjangkannya dan air matanya luruh sehingga janggut beliau basah dengan air mata.
Syablanjî, seorang ulama Sunnî menulis tentang beliau, " Imam Mûsa Kâzim As adalah orang yang paling bertaqwa dan zuhud pada zamannya. Beliau sangat arif, bijaksana, pemurah dan pengasih kepada siapa saja. Beliau membantu dan merawat orang-orang malang dan banyak waktunya dihabiskan untuk sibuk mengerjakan ibadah tanpa diketahui oleh orang banyak. Beliau berkata : " Yâ Allâh jadikan kematian mudah untukku dan ampuni dosa-dosaku sewaktu aku dihadapkan pada-Mu kelak dihari kiamat.
Beliau merupakan seorang pecinta Tuhan sejati sehingga membuat orang-orang menjadi takjub dan keheranan. Sedemikian rupa, sehingga ia pernah membuat Fadal si kepala penjara ikut menangis. Pembantu khusus Hârun , yang diutus ke penjara dengan misi untuk menarik perhatian dan menggoda Imam Mûsa As sehingga beliau tertarik kepadanya dan dengan demikian Hârun memiliki alasan untuk menghukum Imam, sangat terpukau oleh perangai Imam di dalam penjara sehingga ia kembali dalam keadaan menangis dan menyatakan keberatan atas keputusan Hârun memenjarakan Imam Mûsa As.
Tragedi Fakh
Husain bin 'Ali salah seorang Alawi dari Madinah atas perintah Imam Mûsa Kâzim As memberontak terhadap Hâdî yang menjadi Khalifah Dinasti Abbâsiyah ketika itu. Ia beserta dengan tiga ribu pasukan bangkit melawan pemerintahan Abbâsiyah karena tekanan dan kebrutalan, kedzâliman mereka terhadap anak-anak 'Ali As.
Akhirnya, serdadu Hâdî berhasil mengepung mereka di tanah Fakh dan melakukan pembunuhan massal di tempat itu, dengan memenggal kepala mereka. Kepala-kepala yang terpenggal itu dan para tawanan perang dibawa kehadapan Hâdî. Hâdî memberi perintah kepada algojonya untuk membunuh para tawanan itu. Kejadian ini dikenal dalam sejarah sebagai tragedi Fakh dan pejuang 'Alawî ini dikenal dengan " Husain ", syuhâda Fakh.
Hijrah Pertama Imam ke Baghdad
Mansûr dibunuh pada tahun 158 Hijriah dan anaknya "Mahdi" naik takhta sebagai Khalifah baru menggantikan ayahnya. Ia memberlakukan siasat-siasat keji kepada masyarakat. Ia mendandani dirinya dan bertingkah seakan-akan seorang yang taat beragama di hadapan masyarakat tetapi dibelakang masyarakat ia senantiasa berbuat dosa. Ketika ia memegang kekuasaan, Khalifah Mahdi membebaskan para tahanan politik diantaranya Imam Mûsa, dan mengembalikan harta yang dirampas dari tangan mereka. Akan tetapi, ia juga memberikan hadiah yang besar kepada para pujangga yang memaki dan melaknat keluarga 'Ali As. Seperti ketika ia memberikan hadiah tujuh puluh ribu Dirham kepada " Busyâr bin Burd " dan seratus ribu Dirham kepada Marwân berkat syair-syair mereka berisikan laknat dan makian terhadap keluarga 'Ali As.
Ia menghabiskan uang Baitul Mal (harta kaum muslimin) untuk berfoya-foya dan bersenang-senang, sebagaimana ketika ia habiskan lima puluh lima juta Dirham untuk pesta pernikahan putranya.
Suatu ketika, mata-matanya menyampaikan tentang popularitas Imam dan kecendrungan masyarakat terhadap beliau. Hâdî, mendengar berita itu, benar-benar geram dan dengan segera ia memerintahkan orang-orang setianya untuk mengirim Imam dari Madinah ke Baghdad dan memenjarakannya di sana.
Abû Khâlid berkata, suatu hari Imam disertai dengan pasukan resmi kerajaan tiba di rumahku di " Zubâla ". Imam, dalam waktu yang singkat itu, menghindar dari penjagaan pasukan kerajaan itu, dan beliau memintaku untuk membelikan beberapa barang. Aku sangat bersedih dan menangis melihat keadaan Imam seperti itu. Imam berkata padaku, " Jangan risaukan aku karena aku akan segera kembali, dan nantikan aku hingga hari itu, di tempat itu."
Aku persembahkan diriku atas apa yang telah Imam perintahkan kepadaku dan aku melihat beliau memimpin karavan tersebut. Aku cukup bergembira dan maju ke depan dan mencium Imam. Beliau berkata, " Wahai Abû Khâlid mereka akan membawaku kembali ke Baghdad dan aku tidak akan kembali dari perjalanan itu.
Ketika aku mencari tahu alasan mengapa Imam dibebaskan, aku menjadi tahu bahwa Mahdî melihat Imam 'Ali As dalam mimpinya, pada malam yang sama. Ia dalam mimpinya melihat Imam 'Ali dengan tatapan marah dan murka memberi peringatan dan teguran padanya. Pada pagi harinya karena ketakutan ia pun melepaskan Imam dan mengirimnya kembali ke Madinah dengan pengormatan dan kemuliaan.
Meskipun keadaan yang mencekik dan menyiksa di Madinah, Imam tetap sibuk membimbing dan menuntun umat yang bermukim di kota itu. Tidak lama berselang, Mahdî meninggal dunia dan anaknya Hâdî naik takhta menggantikannya sebagai Khalifah. Hâdî - berbeda dengan ayahnya - ia tidak mengamalkan perbuatan sembunyi-sembunyi, dan sangat jelas dan terbuka memulai perlawanannya melawan anak keturunan Imam 'Ali As. Perbuatannya yang paling memalukan adalah pembantaiannya terhadap anak keturunan 'Ali As yang dinamakan dengan tragedi " Fakh " dan oleh ahli sejarah dipandang sebagai tragedi kedua dalam sejarah setelah tragedi Karbâlâ.
Hâdî adalah orang yang berlumuran dosa, berperangai jahat dan tidak memiliki kelayakan untuk menduduki jabatan sebagai Kh'Alifah. Ia menghabiskan uang secara serampangan untuk berpoya-poya dan bersenang-senang dan memberikan hadiah yang melimpah kepada mereka yang membacakan syair dan yang mendendangkan lagu untuknya.
Hâdî wafat pada tahun 170 Hijriah dan " Hârun " yang menggantikan kedudukannya sebagai Khalifah. Ketika itu Imam telah berusia 42 tahun. Zaman " Hârun " merupakan zaman terakhir kekuasaan Dinasti Abbâsiyah. Hârun, setelah baiat dan orang-orang yang loyal dengan baiat itu, melantik " Yahyâ Barmakî" - yang merupakan orang Iran - sebagai menterinya dan memberikan wewenang yang penuh padanya. Hârun sendiri menyibukkan dirinya menggelapkan harta Baitul Mal yang ketika itu kantong kas Baitul Mal sedang gemuk, banyak pemasukan.
Ia menghabiskan seluruhnya dengan berlebih-lebihan untuk berfoya-foya dan bersenang-senang - sedemikian rupa - hingga pembelanjaan suatu acara makan menghabiskan biaya sebesar empat ribu Dirham.
Langganan:
Postingan (Atom)